Veilbound: Beyond the Ashen Border

Diva Amane
Chapter #29

Darah Yang Belum Termaafkan

Dini hari telah menjelang. Langit di ufuk timur masih kelam, hanya dihiasi bintang-bintang samar yang perlahan mulai menghilang di balik siluet pegunungan jauh. Angin pagi yang dingin menyelinap melalui celah-celah dinding pondok, menggoyangkan pintu yang tak tertutup rapat, menimbulkan suara berderit pelan yang berulang-ulang.

Di luar pondok, seorang gadis berdiri dengan mata masih sembab. Liora memegang erat sekantung koin emas di tangannya, jari-jarinya sedikit bergetar. Dia baru saja menyelesaikan negosiasi dengan seorang pria paruh baya—seorang kusir kereta kuda yang tengah mengangkut sayuran segar menuju ibu kota.

Awalnya, pria itu menolak. Mengangkut seseorang yang terluka parah ke rumah sakit pusat bukan bagian dari tugasnya. Tapi tatapan Liora begitu dalam, begitu putus asa. Dia tidak mengemis, tapi juga tidak akan menerima penolakan. Dengan suara yang nyaris serak, dia berkata,

"Tolong... dia membutuhkan bantuan lebih dari siapapun."

Mungkin karena ketulusannya, mungkin karena ada sesuatu di dalam hati pria itu yang tersentuh, dia akhirnya menerima imbalan itu dengan berat hati.

Tanpa banyak kata lagi, mereka berdua membopong tubuh Sariel yang setengah sadar, luka-luka di tubuhnya masih terlihat jelas. Darah yang mengering di kain pembalutnya menunjukkan betapa parahnya kondisi pria itu. Dengan hati-hati, mereka mendudukkannya di belakang kereta, menyesuaikan posisinya agar tidak terguncang terlalu banyak saat perjalanan.

Liora menggigit bibirnya, menahan air mata yang ingin keluar lagi. "Sariel... bertahanlah," gumamnya pelan.

Pria paruh baya itu menarik tali kekang kudanya, memberi isyarat bahwa sudah waktunya berangkat. Roda kayu kereta mulai bergerak perlahan di atas jalanan tanah yang masih lembab oleh embun malam.

Liora berdiri diam di tempat, menatap kereta itu semakin jauh hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan.

Hanya suara desir angin yang menemani kesendiriannya.

Dengan langkah berat, dia kembali memasuki pondok. Pandangannya tertuju pada sosok yang terbujur kaku di lantai.

Darrel.

Napasnya tercekat, tubuhnya terasa dingin meski udara di dalam pondok masih menyimpan kehangatan perapian yang hampir padam.

Liora melangkah mendekat, perlahan berlutut di sampingnya. Tangannya bergerak dengan lembut, merapikan helaian rambut Darrel yang acak-acakan. Wajahnya masih seperti yang ia kenal—tenang, seakan hanya tertidur. Tapi kulitnya sudah begitu pucat.

Dia menarik napas dalam-dalam, menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak kembali menangis.

Lalu, dengan hati-hati, dia meraih kain tebal yang ada di dekatnya dan menyelimuti tubuh Darrel.

Seolah dia masih bisa merasakan kehangatan yang seharusnya ada.

Seolah... dia masih bisa mendengar suara pria itu memanggil namanya.

Tapi tidak.

Tak ada suara. Tak ada kehangatan.

Hanya ada keheningan yang menyayat.

Liora memejamkan matanya sejenak. Jari-jarinya menggenggam kain selimut lebih erat. Hatinya berbisik bahwa ini bukan kenyataan. Bahwa Darrel masih akan bangun, tersenyum padanya, berbicara dengannya seperti biasa.

Namun, tidak peduli seberapa keras dia menyangkalnya... kenyataan tetaplah kenyataan.

Dan kenyataan itu kejam.

Tangannya menggenggam erat gagang pedang yang masih tersarung di pinggangnya. Genggaman itu begitu kuat hingga buku-buku jarinya memucat, seakan hanya itu satu-satunya pegangan yang membuatnya tetap sadar di dunia yang terasa runtuh di hadapannya.

Di luar, langkah-langkah pelan terdengar mendekat.

Liora tidak perlu melihat siapa itu. Dia sudah tahu.

Kael dan Kylia.

Perlahan, sosok mereka memasuki ruangan. Kael yang tubuhnya penuh luka terlihat berjalan dengan langkah berat, sesekali tertahan, dengan Kylia menopangnya di bahu. Kael bahkan tidak bisa menoleh sepenuhnya, hanya bisa melihat sekilas kondisi di dalam pondok dari sudut matanya.

Saat melihat Darrel yang sudah tak bernyawa, rahangnya mengatup, kedua tangannya mengepal—seolah ada sesuatu di dalam dadanya yang ingin meledak, tapi tertahan oleh kelelahan dan rasa bersalah yang sudah menumpuk.

Kylia menuntun Kael mendekati lantai, membantu pria itu bersimpuh perlahan agar tidak jatuh begitu saja. Kael melepaskan genggamannya pada kapak gandanya dan membiarkannya jatuh di sampingnya dengan suara dunk yang berat.

Lihat selengkapnya