Veilbound: Beyond the Ashen Border

Diva Amane
Chapter #30

Peristirahatan Terakhir

Lorong-lorong batu di bawah tanah istana Umbra Veil terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya suara langkah kaki berderap yang menggema di sepanjang jalur sempit yang diterangi cahaya redup dari kristal-kristal sihir yang tertanam di dinding. Udara di tempat itu selalu dingin, meski di permukaan kerajaan masih diselimuti sisa-sisa kehangatan malam.

Di barisan depan, seorang pria tua berwibawa berjalan dengan ekspresi masam. Jubah ungu kebesarannya berayun setiap kali ia melangkah, menandakan statusnya yang tinggi sebagai pemimpin dewan tertinggi kerajaan. Wajahnya keruh oleh kelelahan dan kejengkelan. Tidak ada yang lebih menyebalkan baginya selain harus meninggalkan kenyamanan ranjangnya untuk sesuatu yang ia anggap sebagai urusan remeh.

Di sisinya, seorang pria lain yang lebih muda, mengenakan seragam teknisi kerajaan, berjalan dengan langkah tergesa. Dialah yang bertanggung jawab atas pemeliharaan ruangan khusus di bawah tanah ini, tempat di mana sesuatu yang sangat berharga bagi kerajaan disimpan—hadiah dari Abbysal Sovereign, dua puluh iblis elit yang telah diikat jiwanya dengan ritual suci kerajaan.

"Yang Mulia Raja menghendaki laporan langsung tentang perkembangan misi perburuan buronan kerajaan," kata teknisi itu dengan nada hati-hati.

"Menjengkelkan," gumam pria tua itu tanpa sedikit pun menyembunyikan ketidaksenangannya. "Aku dipaksa bangun dari tempat tidurku untuk hal sepele seperti ini? Tidakkah kalian bisa menangani masalah ini sendiri?"

Teknisi itu menelan ludah. "Yang Mulia ingin memastikan sendiri apakah semuanya berjalan sesuai rencana."

Pria tua itu mendengus. "Seharusnya kita tidak bergantung pada iblis-iblis kotor itu. Tapi kalau mereka bisa menyelesaikan masalah ini tanpa melibatkan lebih banyak sumber daya kita, aku tidak akan mengeluh terlalu banyak."

Di belakang mereka, beberapa tentara pengawal mengikuti dalam diam. Mereka membawa tombak panjang, jubah mereka berkibar saat berjalan menyusuri lorong. Tak satu pun dari mereka tampak ingin berada di tempat ini saat fajar hampir menyingsing, tapi perintah adalah perintah.

Setelah beberapa menit berjalan, mereka akhirnya sampai di sebuah pintu besi besar yang dihiasi ukiran-ukiran rumit. Lambang mata yang terukir di bagian tengah pintu tampak bersinar samar ketika teknisi mendekatinya dan menempelkan telapak tangannya ke permukaannya.

Sebuah suara mekanis terdengar, dan dengan derak berat, pintu mulai terbuka.

Begitu pintu terbuka sepenuhnya, hawa panas yang samar terasa merambat keluar dari dalam ruangan. Ruangan itu luas dan berbentuk melingkar, dindingnya penuh dengan pahatan mantra kuno yang bercahaya redup. Di tengahnya, terdapat sebuah altar besar berwarna hitam pekat, dikelilingi oleh dua puluh kristal merah yang melayang dalam formasi teratur.

Namun, yang paling mencolok adalah kertas kontrak jiwa yang terbuka di atas altar. Mantra yang pernah dilafalkan oleh King Zareth Noctharius untuk mengikat para iblis elit masih meninggalkan jejak sihir yang berkilauan samar di permukaannya. Aura tekanan yang kuat mengelilingi ruangan, seolah-olah setiap jiwa yang terikat dalam kontrak itu masih meronta di dalamnya.

Pemimpin dewan melangkah masuk, diikuti oleh teknisi yang bertugas mengawasi altar tersebut.

"Ceritakan dengan jelas apa yang terjadi," suaranya berat, nyaris seperti geraman.

Teknisi yang berdiri di dekat altar segera membungkuk sebelum mulai berbicara. "Yang Mulia, tiga dari lima pasukan elit yang dikirim telah kehilangan nyawa mereka."

Seketika, tatapan dingin pemimpin dewan berubah semakin tajam. "Bicara lebih rinci."

Teknisi menelan ludah dan menunjuk ke arah kristal-kristal merah yang masih memancarkan cahaya redup. "Dua dari mereka mati dalam waktu sekejap—indikator nyawa mereka hilang begitu saja, kemungkinan besar mereka terbunuh dalam satu serangan yang sangat cepat atau fatal."

Pemimpin dewan menyipitkan matanya. "Dan yang ketiga?"

Teknisi lainnya, yang tampak lebih muda, melangkah maju dengan wajah tegang. "Yang ketiga mengalami kematian perlahan... Indikatornya menunjukkan kehilangan energi yang bertahap sebelum akhirnya padam sepenuhnya. Kemungkinan besar ia mengalami luka fatal yang menyebabkan pendarahan hebat sebelum akhirnya tewas."

Ruangan itu menjadi sunyi sejenak.

Pemimpin dewan tertinggi mengepalkan tangannya dengan geram. "Mereka tentara elit. Seharusnya mereka cukup kuat untuk menangani beberapa buronan rendahan," katanya dengan nada penuh amarah.

Para teknisi di ruangan itu saling bertatapan, tidak ada yang berani menjawab.

Dengan satu tarikan napas, pria tua itu akhirnya mengalihkan pandangannya kembali ke altar. "Buat dua yang masih hidup segera kembali," katanya dingin. "Tidak ada gunanya mengorbankan mereka jika keadaan di sana lebih berbahaya dari yang kita perkirakan."

Teknisi mengangguk patuh, lalu segera berjalan ke salah satu panel kristal dan menekan beberapa simbol di atasnya.

Pemimpin dewan menoleh ke samping, menatap salah satu pengawalnya. "Hubungi intelijen kita. Aku ingin laporan terbaru tentang pergerakan mereka. Aku tidak akan membiarkan masalah ini berlarut-larut."

Pengawal itu segera membungkuk dan bergegas keluar dari ruangan.

Pemimpin dewan tertinggi menatap kontrak jiwa yang masih terbuka di atas altar. Pikirannya berputar, memikirkan langkah berikutnya.

"Jangan berpikir bahwa kalian bisa bersembunyi selamanya," gumamnya pelan, namun penuh ancaman.

Lihat selengkapnya