Veilbound: Beyond the Ashen Border

Diva Amane
Chapter #31

Terjatuh

Matahari siang begitu terik, menusuk kulit dengan sengatan panas yang tak biasa. Kylia menghela napas panjang saat pondok akhirnya terlihat di antara pepohonan, rasa lelah masih tertinggal di otot-ototnya setelah perjalanan panjang. Namun, hatinya terasa sedikit lega. Mereka sudah sampai.

Di halaman, jasad Xandris tergeletak diam. Kulitnya yang dulu bersinar dengan aura penuh energi kini mengering, kehitaman, dan mengeluarkan asap tipis yang berbaur dengan angin. Kontrak jiwanya berakhir di tengah pertarungan. Tidak ada lagi sisa keberadaannya selain tubuh yang menghitam itu.

Kylia menatapnya sejenak sebelum melangkah menaiki teras kayu pondok. Dia sudah kelelahan. Yang terpenting sekarang adalah beristirahat.

Langkahnya hampir melewati ambang pintu ketika suara samar terdengar dari belakang—sebuah tubuh jatuh ke tanah.

Bruk.

Dia menoleh.

"Kael?"

Tubuh pemuda itu tergeletak telungkup di tanah, napasnya tidak terdengar. Wajahnya tersembunyi oleh bayangan, dan bahunya yang tadinya kokoh kini tampak begitu lemas.

Darah di wajah Kylia mendadak surut.

"Kael!"

Dia segera berlari, berlutut di samping tubuh Kael, lalu mengguncangnya dengan panik.

"Kael! Hei! Bangun!"

Tidak ada respons.

Dia membalikkan tubuh Kael dengan gemetar, memperhatikan wajahnya yang begitu pucat. Nafasnya lemah—nyaris tidak terasa.

Tidak.

Tidak seperti ini.

Tangan Kylia mencengkeram kerah baju Kael dengan erat, menggoyangnya dengan tenaga yang semakin panik.

"Kael, jangan lakukan ini. Jangan tiba-tiba pingsan begitu saja!" Suaranya mulai bergetar.

Laki-laki itu tetap diam.

Air mata yang sudah lama enggan keluar mulai berkumpul di sudut mata Kylia. Tidak. Dia tidak ingin merasakan kehilangan lagi. Dia tidak ingin mengalami lagi perasaan itu.

"Kael..." bisiknya, suaranya pecah.

Sesaat, dia hanya bisa menatap wajah Kael yang seolah kehilangan semua cahayanya.

Namun, akalnya cepat kembali.

Tanpa berpikir panjang, Kylia segera meraih tubuhnya dan menggendong Kael di punggungnya.

"Aku tidak akan membiarkanmu di luar sini," katanya lirih, menggigit bibirnya untuk menahan isak tangis.

Dia bangkit dengan susah payah, lalu mulai berjalan menuju pondok. Langkahnya mantap meski beban di punggungnya begitu berat.

Kael sudah cukup banyak menanggung segalanya.

Kylia berdiri di samping tempat tidur, mengatur napasnya yang masih tersengal. Dia baru saja berhasil memindahkan Kael ke dalam pondok, membaringkannya di atas ranjang kecil di sudut ruangan. Wajah pemuda itu tetap pucat, napasnya dangkal, dan tubuhnya terasa lebih dingin dari biasanya.

Kylia menggigit bibir. Ini buruk. Sangat buruk.

Dia tahu lumayan banyak tentang energi inkarnasi bayangan, tetapi dia tidak tahu satu hal—tidak seharusnya seorang iblis kehabisan seluruh cadangannya. Jika itu terjadi, tubuh mereka akan kehilangan fungsi utamanya, menjadi seperti cangkang kosong yang menggantung pada keseimbangan tipis antara hidup dan mati.

Dan sekarang, Kael ada di ambang batas itu.

"Aku harus mencari bantuan," gumamnya pada diri sendiri.

Tanpa berpikir dua kali, Kylia menyambar mantel tipisnya dan berlari keluar.

Kota kecil itu tidak jauh dari pondok, tetapi baginya, perjalanan ini terasa lebih panjang dari sebelumnya. Kylia terus berlari melewati jalan setapak berbatu, pikirannya dipenuhi kekhawatiran.

Begitu tiba di pusat pemukiman, dia langsung mengetuk pintu rumah pertama yang ditemuinya.

Tok tok tok!

Pintu terbuka sedikit, menampakkan seorang pria paruh baya dengan wajah penuh kerutan dan ekspresi waspada.

"Ada apa?" tanyanya singkat.

Kylia langsung menjelaskan, "Aku butuh bantuan. Temanku sakit, dia pingsan karena kehabisan energi, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tolong, ada seseorang yang bisa membantu—"

Namun, sebelum dia selesai berbicara, pria itu sudah menggeleng.

"Aku tidak bisa membantu. Coba cari orang lain," katanya, lalu menutup pintu tanpa ragu.

Kylia membeku.

Tapi dia tidak bisa menyerah.

Lihat selengkapnya