Udara sore menyusup pelan melalui jendela kecil di ruang ganti belakang kantor pos Kota Illinios. Cahaya matahari yang mulai menurun memantulkan rona keemasan pada lantai kayu yang sedikit berderit setiap kali seseorang melangkah. Kylia menutup pintu dengan perlahan dan meletakkan tas kerjanya di bangku. Tangannya bergerak pelan menyentuh sisi wajahnya, mencoba menghapus sisa lelah yang mengendap sejak pagi.
Di sudut ruangan, terdengar suara gesekan kain. Liora, dengan rambut panjang yang kini dikepang ke samping, sedang mengenakan seragam kerja kantor pos yang sederhana tapi tetap terawat rapi. Begitu mendengar suara langkah masuk, ia menoleh dan tersenyum.
"Selamat sore, Kapten," ucap Liora lembut, nada bercandanya masih terasa di tengah suasana kerja yang biasanya formal.
Kylia membalas senyumnya, meski sedikit lemah. "Sudah kubilang jangan panggil aku begitu lagi. Sekarang kita cuma rekan kerja."
Liora terkikik kecil. “Baik, baik. Kylia.”
Seketika itu juga, suasana ruangan jadi sedikit lebih ringan. Kylia melangkah mendekat dan mengambil seragamnya dari loker. Sambil berganti pakaian, ia sempat melirik Liora yang tengah menyelipkan surat-surat penting ke dalam tas selempangnya. Ada secercah rasa tenang yang menyelinap dalam hati Kylia—melihat Liora yang tetap teguh menjalani hari-harinya, meskipun kehilangan yang menimpanya belum lama berlalu.
"Sudah menemukan tempat tinggal baru?" Kylia akhirnya bertanya, pelan namun hangat.
Liora mengangguk sambil menutup tasnya. "Sudah. Sebuah kabin kecil di luar kota. Aku jual pedangku satu-satunya untuk beli tempat itu."
Kylia terdiam. Ia ingin bertanya apakah Liora yakin, namun tak ada kata yang terasa tepat. Di satu sisi, ia tahu, keputusan Liora untuk mulai hidup baru bukanlah hal yang mudah—apalagi setelah kehilangan Darrel.
Namun Liora justru memandangnya lebih dalam setelah itu. Senyumnya memudar, dan dari cara dia mengamati raut wajah Kylia, jelas bahwa dia tidak hanya melihat guratan lelah biasa.
"Kau menyembunyikan sesuatu," katanya, tidak menuduh, tapi tulus.
Kylia terdiam, tak membantah. Tatapan mereka bertemu, dan tanpa bisa ditahan, mulutnya pun terbuka.
"Kael... dia tumbang. Tadi pagi. Sepertinya dia habis total... energi bayangannya," ucapnya lirih.
Liora terperangah. Napasnya tertahan sejenak. Kemudian, ia bergumam pelan, "Jadi itu yang kau khawatirkan..."
Kylia mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku sudah coba keliling cari pertolongan. Tak ada yang tahu caranya. Aku... aku tak tahu harus bagaimana."
Liora tak langsung membalas. Ia menatap kosong ke lantai sejenak, seolah berpikir keras, lalu sekelebat ingatan muncul di benaknya. "Tunggu. kemarin, katanya Kael sempat mengantarkan seorang pria iblis pulang dari lokasi konstruksi, kan?"
"Ya. Dia juga membawakan ubi untuknya," jawab Kylia dengan cepat.
Liora berpikir sebentar, lalu anggukannya menguat. "Aku pernah menuliskan surat-surat untuk beberapa iblis yang tinggal di luar dinding timur kota ini. Kemungkinan besar, rumah orang itu juga di sana."
Kylia mendongak, seperti mendapatkan cahaya baru di tengah kabut yang pekat. "Kau yakin?"
"Tak ada yang pasti, tapi... jika dia sesama iblis, mungkin dia tahu lebih banyak soal dampak kehabisan energi inkarnasi pada iblis. Lebih dari yang bisa diajarkan manusia atau literatur mana pun. Karena harusnya tidak akan ada dampak serius kalau ke manusia, kan?"
Kylia menatap jam di dinding. Waktu kerja sudah hampir dimulai. Ia memalingkan wajah, bimbang.
Liora melangkah maju dan menepuk pelan pundak Kylia. "Pergilah. Aku yang akan ambil giliranmu hari ini. Kalau perlu, aku yang lapor ke atasan."
Kylia terkejut. “Tapi—”
“Aku bukan prajurit Umbra Veil lagi. Tapi membantumu... itu tugasku sebagai teman.”
Tak mampu membendungnya, air mata Kylia jatuh satu-satu dari sudut matanya. Ia segera memeluk Liora singkat, penuh rasa terima kasih.
“Terima kasih… Liora.”
Liora hanya tersenyum dan mendorong Kylia pelan ke arah pintu. “Cepat pergi, sebelum aku berubah pikiran dan mulai mengeluh soal banyaknya surat yang harus kukerjakan.”
Kylia terkekeh di antara tangisnya. Lalu ia pun berbalik dan berlari keluar kantor pos, langkahnya semakin mantap, menuju satu-satunya harapan yang tersisa—menuju rumah iblis yang pernah memberikan sekarung ubi, dan mungkin... menyimpan jawaban kehidupan untuk seseorang yang hampir kehabisan segalanya.
Langkah kaki Kylia berpacu di antara debur hiruk-pikuk kota. Rambut coklatnya terurai liar, berayun mengikuti ritme napas yang semakin berat dan cepat. Di bahunya, tali kantong selempang berguncang keras mengikuti gerak tubuhnya—berisi beberapa alat rias yang belum sempat ia simpan di loker kantor, sisir kayu, dan satu kantong kulit yang menampung air. Semua terasa tak penting sekarang. Yang penting hanyalah berlari.
Dari pusat kantor pos, dia menyeberangi lorong-lorong penuh lalu lalang pekerja sore hari—beberapa barisan pengantar barang baru tiba dari pelabuhan darat di utara kota, sementara penduduk lokal tampak mulai menyiapkan warung-warung kecil menjelang malam. Langit mulai bersemburat jingga. Bayangan bangunan memanjang, mengiringi langkah-langkah Kylia yang terus melebar menuju gerbang timur.