Veilbound: Beyond the Ashen Border

Diva Amane
Chapter #33

Respon Istana

Langit petang di atas Umbra Veil terbakar oleh rona jingga, seolah langit pun sedang berkabung. Matahari perlahan tenggelam di balik menara-menara hitam kebesaran ibukota, melemparkan bayang-bayang panjang ke permukaan batu obsidian yang membentuk jalan utama menuju istana. Monumen raksasa Dewi Helia berdiri di pusat kota, sebuah ironi yang menyesakkan dada—sosok Dewi Matahari di tengah negeri yang berdiri di bawah naungan bayangan awan.

Dua belas kereta kuda berderak di jalanan ibukota. Sepuluh di antaranya berat dan suram, tak berhias, dengan jeruji hitam di samping dan pintu terkunci rapat seperti penjara berjalan. Satu lainnya, yang berada paling depan, berbeda. Kereta berlapis baja itu membawa dua penumpang yang bukan sembarang iblis, Draven dan Xandras, dua dari lima petarung elit yang sempat dikirim oleh istana Umbra Veil untuk misi infiltrasi ke Solmaria.

Xandras duduk menyandar dengan wajah pucat. Lengannya yang terputus dibalut kain kasar yang sudah penuh noda darah kering. Napasnya terengah-engah, tak sepenuhnya sadar, seolah jiwanya belum kembali dari pertempuran yang telah merenggut lebih dari sekadar anggota tubuh. Di sampingnya, Draven diam membisu, memandangi kapaknya—yang kini hanya berupa bilah retak yang nyaris terpisah dari gagang. Terlalu ringan untuknya, terlalu rusak untuk kembali digunakan. Ia menggenggam gagang itu seperti menggenggam ingatan yang tak ingin ia lepaskan.

“...Apa isi kereta-kereta di belakang itu?” tanya Draven tiba-tiba, suaranya berat dan kering. Ia mencondongkan tubuh ke arah kusir, lelaki tua dengan jubah kelabu dan rambut yang menipis di pelipis.

Kusir itu tidak segera menjawab, seolah mempertimbangkan apakah pertanyaan itu pantas dijawab oleh orang sekelas mereka.

“Bukan suplai makanan, kalau itu yang kau pikirkan,” ucapnya akhirnya, pelan tapi jelas.

Draven mengerutkan alis. “Lalu apa?”

Kusir itu mengangkat bahu. “Pengabdian. Bentuk loyalitas penduduk kerajaan kepada istana.”

“Pengabdian?” ulang Draven, suaranya mulai terdengar tajam.

“Anak-anak,” kata kusir itu singkat. “Yatim piatu, gelandangan kecil dari jalanan, dan... beberapa dipilih langsung dari keluarga di pelosok kerajaan. Demi tujuan kerajaan.”

Xandras mengerjap, pelan namun jelas. Draven menoleh padanya, dan mereka saling bertatapan tanpa sepatah kata pun.

Tak perlu berkata apa-apa.

Karena di balik tatapan mereka, ada rasa getir yang sama: bahwa dunia manusia tak jauh berbeda dengan dunia iblis. Kedua kerajaan—yang tampak saling bertentangan, saling memburu—ternyata dibangun di atas fondasi yang serupa. Merekayasa masa depan anak-anak menjadi alat kekuasaan. Mencetak mereka jadi senjata, tanpa pilihan, tanpa suara. Di dunia iblis, mereka menyebutnya kontrak jiwa. Di dunia manusia? Mungkin sekadar disebut sebagai pengabdian mulia.

Kereta berguncang perlahan saat mulai menaiki tanjakan terakhir menuju gerbang istana. Menara-menara gelap menjulang seperti duri-duri tajam yang menolak langit. Di bawah naungannya, dua iblis yang telah kehilangan segalanya kini melaju ke hadapan takdir berikutnya.

Kereta itu terus melaju, tanpa suara selain gemuruh roda yang menghantam batu-batu licin di jalan utama ibukota. Mereka tak menyadari kapan tepatnya mereka memasuki jantung kerajaan—karena ketika akhirnya menoleh ke depan, mata mereka disambut pemandangan yang sungguh tak mungkin diabaikan.

Kompleks istana Umbra Veil berdiri angkuh di hadapan mereka, menjulang dengan keagungan yang nyaris tak masuk akal. Pilar-pilar hitam menjulang seperti akar-akar pohon raksasa yang menembus langit, dan di atasnya, atap-atap berlapis kristal gelap memantulkan cahaya matahari senja dalam kilauan merah dan emas. Arsitekturnya rumit dan megah, dengan ukiran-ukiran menyerupai bayangan kuda bersayap yang menghiasi setiap lengkungan dan pilar.

Bendera-bendera berkibar tinggi di menara-menara penjaga, masing-masing menampilkan lambang kuda emas bersayap—simbol kekuasaan abadi Umbra Veil. Di kanan kiri jalan, rakyat beraktivitas tanpa tampak terkejut atau penasaran dengan kedatangan kereta kerajaan. Tampaknya, pemandangan seperti ini sudah biasa. Para pedagang, pemusik jalanan, dan anak-anak kecil berlari dengan riang di sepanjang trotoar batu yang dipoles halus. Ibukota ini bukan sekadar tempat tinggal; ia adalah panggung yang selalu sibuk, selalu indah... namun juga penuh rahasia yang berlapis.

Ketika kereta melewati gerbang pertama, suara rantai dan gesekan mekanik terdengar mengiringi pembukaan gerbang baja. Gerbang kedua dijaga oleh pasukan bersenjata lengkap, dan yang ketiga—paling dalam dan paling besar—dilalui setelah pemeriksaan ketat dan isyarat dari kusir yang membawa segel istana.

Setelah melewati tiga lapis gerbang utama, rombongan kereta mulai berpencar. Sebelas kereta yang membawa anak-anak dan remaja menuju barat, ke arah kompleks barak militer yang menjulang gelap dan sunyi, jauh dari pusat keramaian. Mereka ditelan bayangan tembok-tembok tinggi dan pagar besi berduri tanpa suara.

Namun kereta yang ditumpangi Draven dan Xandras justru dihentikan sebelum mencapai plaza utama. Seorang penjaga berpakaian zirah perak dan jubah ungu mengangkat tangannya, memerintahkan kereta itu berhenti. Ia melangkah maju, tatapannya tajam dan penuh curiga.

“Siapa yang kalian bawa?” tanyanya, suaranya keras dan tak kenal ampun.

Kusir menjawab tanpa ragu, “Utusan dari garis perbatasan Solmaria. Dua dari lima yang kembali. Perintahnya jelas—mereka harus dibawa ke ruang tahta untuk melapor pada Yang Mulia dan Dewan Tertinggi.”

Penjaga itu menatap kedua iblis itu sejenak—matanya menilai luka Xandras, dan ekspresi kosong Draven. Tak berkata apa-apa, ia akhirnya memberi isyarat dengan dua jari.

“Buka jalan.”

Lihat selengkapnya