Veilbound: Beyond the Ashen Border

Diva Amane
Chapter #34

Memastikan Marabahaya

Langit menjelang malam menggantung rendah di atas permukiman iblis di luar dinding kota, warnanya memucat seperti bara yang hampir padam. Dari balik tembok batu kapur yang tinggi dan dingin, cahaya ibu kota masih memantul samar di ujung cakrawala, tetapi di sisi ini dunia terasa lebih lambat, lebih redup, lebih jujur. Debu halus menempel di ujung sepatu Kylia, bercampur bau tanah lembap, asap dapur, dan aroma logam tua yang seperti selalu tinggal di gang-gang sempit itu.

Ia berhenti di depan rumah yang ditunjukkan Vrille. Bangunan itu sederhana, namun beranda depannya rapi. Beberapa pot bunga eksotik berjajar di sisi tangga kayu, daunnya lebar dan gelap, dengan kelopak-kelopak kecil berwarna pucat yang tampak terlalu halus untuk tumbuh di tempat seperti ini. Kylia menatapnya sejenak sebelum mengangkat tangan dan mengetuk pintu perlahan.

Satu kali.

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi, kali ini sedikit lebih lama.

Di dalam, terdengar gesekan kaki kecil, lalu bunyi langkah yang ringan dan tergesa. Pintu terbuka beberapa senti, cukup untuk menampakkan seorang iblis perempuan paruh baya dengan wajah lembut dan mata yang hangat. Di lengannya tergendong seorang anak laki-laki yang tengah mengucek mata, kepalanya bersandar di bahu ibunya. Saat melihat Kylia, perempuan itu tidak menunjukkan sedikit pun keterkejutan. Yang muncul justru keramahan yang hati-hati, seolah tamu di ambang pintu tetaplah tamu, meski dunia di luar rumah tidak pernah ramah.

“Selamat sore,” ucapnya lembut. “Ada perlu apa, Nak?”

Kylia sempat kehilangan kata-kata. Semua kalimat yang ia susun sejak meninggalkan rumah Vrille seketika terasa kaku. Dadanya masih menyimpan berat dari penjelasan yang diterimanya sebelumnya, dan sekarang, di hadapan wajah yang teduh ini, ia kembali bingung harus mulai dari mana.

“Aku… dari rumah Vrille,” katanya akhirnya, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya. “Dia bilang, jika ada yang bisa membantu soal keadaan Kael, aku harus datang ke sini.”

Mata perempuan itu melunak. Namun Kylia bisa melihat ada sesuatu yang berubah di balik tatapan itu; bukan curiga, melainkan perhatian yang lebih dalam, seolah nama yang baru disebut membawa beban yang sudah ia kenal.

Kylia menelan ludah. “Rekan iblis saya tumbang. Dia kehilangan seluruh energi inkarnasi bayangannya. Aku… tidak tahu harus melakukan apa.”

Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia memandang Kylia sejenak, lalu menoleh kecil ke arah lorong di belakang rumah, seolah memastikan udara malam tak mengintai dari celah mana pun. Kylia menangkap kegelisahan samar itu, meski wajah lawan bicaranya tetap tenang. Rasa canggung menekan tengkuknya, membuatnya sadar betapa asing dirinya di tempat ini.

Namun perempuan itu justru mengulurkan tangan ke dalam rumah dan membuka pintu lebih lebar.

“Ayo masuk dulu,” katanya lembut. “Kita bicara di dalam saja.”

Kylia menghela napas yang baru ia sadari tertahan di dada. “Terima kasih.”

Ia melangkah masuk dengan hati-hati. Ruang depan rumah itu sederhana, tapi hangat. Ada meja kayu yang permukaannya sudah lama dipakai, beberapa kain pel yang dilipat rapi, dan aroma rebusan herbal yang samar dari arah belakang. Di dinding tergantung beberapa benda kecil yang tampak seperti jimat rumah tangga, namun lebih menyerupai kebiasaan lama daripada keyakinan yang dipamerkan. Kylia belum sempat mengamati lebih jauh ketika perempuan itu menurunkan anaknya ke lantai.

“Sayang, panggil ayahmu,” ujarnya pada bocah itu. “Bilangkan, mama minta dia pulang sekarang. Ada kakak yang butuh bantuan.”

Anak laki-laki itu menengadah, menatap Kylia dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu, lalu mengangguk patuh. Ia berlari kecil keluar rumah, melewati pintu dengan langkah yang nyaris tak bersuara.

Perempuan itu menoleh pada Kylia dan menunjuk ruang tamu kecil di samping. “Duduklah dulu. Aku ke belakang sebentar untuk menyiapkan minuman.”

Kylia menurut. Ia duduk di kursi kayu yang sandarannya pendek, tangan terlipat kaku di pangkuan. Baru setelah perempuan itu menghilang ke belakang, ia menyadari betapa tegang seluruh bahunya. Di luar, angin sore menggoyang pot-pot bunga di beranda, menimbulkan suara kecil seperti napas yang ditahan.

--o--

Di rumah iblis lain yang tak jauh dari situ, Arcante sedang duduk mengobrol dengan beberapa iblis paruh baya di ruang yang berbau tembakau dan kayu hangus. Suara tawa mereka berat, rendah, jenis tawa yang lahir dari tubuh yang sudah banyak melihat malam tanpa berharap terlalu banyak dari pagi.

Salah satu dari mereka baru saja melemparkan kalimat tentang kabar yang ramai di permukiman itu.

“Katanya, di daratan utara ada monster-monster baru yang mulai meneror jalur dagang,” ujar seorang pria dengan bekas luka di pipi. “Kalau terus begitu, para pedagang bakal minta penjaga tambahan lagi. Seolah kita ini belum cukup tua untuk dikejar masalah baru.”

Arcante mendengus, bibirnya melengkung tipis. “Monster dari utara, ya? Kalau mereka cukup bodoh datang ke sini, aku masih punya dua tangan.”

“Dua tanganmu itu cuma kuat kalau tidak disuruh istrimu angkat air,” balas iblis lain, disambut tawa pendek dari yang lain.

Arcante mengangkat alis, tidak tersinggung sedikit pun. “Aku lebih suka angkat air daripada mendengar kalian mengeluh soal umur tiap sore.”

Tawa kembali pecah. Suasana yang semula berat berubah sedikit ringan, sesaat saja, cukup untuk membuat sisa petang terasa lebih manusiawi.

Lalu daun pintu depan bergetar pelan. Disusul suara langkah kecil, cepat, tergesa.

Anak laki-laki Arcante muncul di ambang pintu, wajahnya masih memerah karena berlari. Ia berdiri sebentar, lalu menatap ayahnya dengan napas terengah. “Ayah! Mama suruh pulang sekarang. Ada kakak yang butuh bantuan.”

Percakapan di ruangan itu seketika berhenti. Arcante menurunkan cangkirnya.

Lihat selengkapnya