Veilbound: Beyond the Ashen Border

Diva Amane
Chapter #35

Distorsi Sejarah

Langit pagi buta belum benar-benar memutuskan warna apa yang hendak dipakainya. Di atas kompleks Abbysal Sovereign, sisa malam masih menggantung seperti jelaga tipis di langit-langit dunia, sementara lorong-lorong batu guild diselimuti lampu kristal yang redup dan suara langkah yang tergesa. Bau logam, minyak senjata, dan asap dupa lama memenuhi udara di koridor utama, menempel pada dinding hitam yang dingin seperti ingatan yang enggan hilang.

Seorang iblis bertubuh tinggi besar berlari tanpa menoleh, telapak sepatu beratnya memukul lantai dengan ritme yang nyaris panik. Di kedua tangannya ia memeluk sebuah map bersegel kerajaan, rapinya terlalu mencolok untuk menjadi sekadar surat biasa. Dua penjaga di mulut lorong menyingkir begitu melihat wajahnya, dan ia terus melesat hingga pintu ruangan paling dalam terbuka di hadapannya.

Di ujung ruangan itu, Lord Mireth duduk di singgasananya.

Ia tidak bangkit. Tidak langsung. Hanya menatap dengan mata tajam yang sudah terlalu lama terbiasa melihat orang lain gemetar lebih dulu daripada berbicara. Ruangan di sekelilingnya seketika terasa menyempit. Dua pasang penasehat duduk tenang di kanan-kiri, diam menunggu tanda, sementara lilin-lilin hitam di sudut ruangan berkedip kecil seolah ikut menahan napas.

“Lapor,” suara Mireth rendah, datar, namun jauh lebih tajam daripada teriakan. “Apa yang kau bawa?”

Iblis tinggi besar itu berlutut dengan satu lutut menghantam lantai. Ia menunduk cepat, lalu mengangkat map itu dengan kedua tangan.

“Pesan resmi dari Umbra Veil, Tuan.”

Mata Mireth tidak berubah. Namun jari-jarinya di lengan singgasana mulai mengetuk.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

“Buka.”

Iblis itu menelan ludah, lalu memecah segel kerajaan dengan hati-hati. Kertas di dalamnya dibentangkan di atas lantai, dan saat ia mulai membaca, suaranya nyaris tak terdengar di bawah gema ruang yang sunyi. Isi surat itu sederhana, resmi, dan karena itu justru lebih menjijikkan.

Permintaan untuk memulai kembali ekspedisi gabungan.

Ekspedisi teknologi legenda.

Teknologi senjata yang ditenagai inkarnasi bayangan.

Kerja sama yang pernah dilakukan beberapa dekade lalu, saat Abbysal Sovereign dan Umbra Veil masih sama-sama merasa bisa mengatur sejarah dengan tangan sendiri.

Saat kalimat itu sampai ke telinga Mireth, ruangan mendadak menjadi lebih dingin.

Jari-jarinya berhenti mengetuk.

Lalu giginya berbunyi pelan, gemeretak halus yang membuat iblis berlutut itu langsung menunduk lebih dalam.

Mireth berdiri.

Gerakannya tidak tergesa, tetapi justru karena itulah ia terasa berbahaya. Bayangan dari tubuhnya jatuh panjang di lantai, mengarah lurus ke iblis pembawa pesan seperti bilah tak terlihat. Napas di ruangan itu menjadi berat.

“Ekspedisi?” ulang Mireth pelan.

Tidak ada yang menjawab.

Ia mengambil surat itu dari tangan bawahannya, membacanya sekali lagi, lalu meremas pinggir kertasnya hingga retak.

“Apakah mereka pikir aku ini masih orang yang sama seperti tiga puluh lima tahun lalu?” katanya perlahan, dan justru karena nadanya terlalu terkendali, semua orang di ruangan itu tahu amarahnya sudah naik ke tenggorokan. “Atau mereka ingin menertawakan kepemimpinanku sekali lagi?”

Iblis tinggi besar itu masih berlutut. Bahunya naik turun, menahan gemetar.

Mireth melangkah turun dari singgasana. Sepatu botnya menyentuh batu dengan bunyi berat. Ia berhenti di depan iblis pembawa pesan, menatapnya sebentar, lalu membuang surat itu ke meja kecil di samping.

“Dahulu,” suaranya membesar, “mereka meminta puluhan ribu tentara iblis tingkat bawah untuk dikirim seolah itu bukan apa-apa. Cuma-cuma. Seperti mereka sedang mengambil batu dari jalan.”

Tak ada yang berani menyela. Bahkan para penasehat pun menahan tatapan.

Mireth mendekat lagi, matanya menyala seperti bara yang baru diaduk. “Lalu apa yang mereka berikan sebagai balasan? Penghinaan. Kegagalan yang mereka lemparkan ke wajahku seolah itu salahku seorang.”

Kuku tangannya menekan tajam pada gagang kursi singgasana.

“Karavan ekspedisi itu dihancurkan habis oleh seorang penyihir milik kita sendiri,” lanjutnya, suaranya turun menjadi lebih berbahaya. “Seorang yang seharusnya kuat. Seorang yang seharusnya setia.”

Iblis pembawa pesan menahan napas. Sementara itu, mata Mireth bergerak ke sudut ruangan, ke arah sebuah tongkat panjang yang berdiri di penyangganya. Kristal di ujungnya sudah patah, retaknya tua dan kusam. Tongkat itu tidak lagi berguna, tetapi bagi Mireth, benda itu bukan sekadar alat. Ia adalah sisa ingatan yang terlalu memalukan untuk disimpan, terlalu beracun untuk dibuang.

Mireth melangkah ke sana. Tangannya meraih gagang tongkat itu.

Salah satu penasehat di sisi kanan mengernyit kecil, namun tidak berkata apa-apa.

Mireth membawa tongkat itu ke depan mata iblis pembawa pesan. “Ketika aku tahu potensi penghancuran para penyihir inkarnasi bayangan,” katanya, setiap kata dipadatkan oleh amarah yang lama dikubur, “aku sendiri yang mengeksekusi sisa penyihir berbakat di guild ini.”

Tangannya mengencang.

“Dan aku menghapus peran mereka dari petarung resmi Abbysal Sovereign untuk selamanya.”

Dengan satu gerakan cepat, ia meremukkan gagang tongkat itu di telapak tangannya. Kayu tua retak dengan bunyi keras yang memecah kesunyian, dan kristal patahnya bergoyang sebelum jatuh ke lantai. Iblis pembawa pesan langsung memejamkan mata. Di belakangnya, salah satu penasehat menahan napas. Yang lain menunduk sedikit, memahami bahwa ruangan itu baru saja diinjak oleh masa lalu yang tidak pernah benar-benar mati.

Mireth membuang sisa tongkat itu ke samping.

Lalu, seolah baru menyadari bahwa ia masih berada di ruangan yang sama dengan orang-orang yang harus bekerja untuknya, ia menarik napas dalam, panjang, berat. Amarahnya belum hilang, tetapi setidaknya kini ia kembali bisa bicara tanpa merusak apa pun yang berada di dekatnya.

Ia menoleh ke empat penasehat yang duduk dengan tenang di kanan-kiri singgasana. Dua di kanan, dua di kiri. Semua berpakaian gelap, namun sama rapi dan mewahnya dengan dirinya. Mereka menunggu isyarat. Dan ketika mata Mireth bergerak ke arah mereka, satu penasehat di sisi kanan berdiri lebih dulu.

“Situasi kita sekarang tidak sesulit dulu, Tuan,” katanya hati-hati. “Bukan soal kekurangan sumber daya.”

Mireth menyipit.

“Lalu?”

Penasehat itu mengangguk ke arah meja lain di ruangan, tempat sebuah gulungan peta bersegel lama diletakkan. “Satu-satunya salinan peta menuju situs kuno itu sudah dirampas. Oleh iblis penyihir yang sama.”

Ruangan menjadi semakin sunyi.

Mireth menatap peta itu, lalu menatap penasehatnya. “Situs kuno macam apa yang harus kita buru sampai mereka berani meminta ekspedisi seperti ini lagi?”

Penasehat yang tadi berdiri melangkah pelan ke jendela. Di luar, siluet reaktor mana guild berdiri jauh di bawah, asap tipisnya naik ke udara pagi yang pucat. Ia menatap ke arah sana sejenak, seolah sedang melihat sesuatu yang tak terlihat oleh orang lain.

“Yang sebenarnya harus kita buru,” katanya dengan suara tenang, “adalah ilmu pengetahuan dari seorang iblis penyihir jenius dari milenium awal. Dialah yang pertama kali merancang teknologi reaktor mana untuk bangsa iblis.”

Mireth mencibir, namun bukan karena lucu. Lebih seperti orang yang muak menemukan luka lama masih bernanah di tempat yang sama.

“Dan kita hendak mengakses peta itu bagaimana?” tanyanya tajam. “Bila kita bahkan tidak tahu apakah penyihir buronan itu masih hidup atau tidak. Kita tidak tahu lokasinya. Kita bahkan tidak tahu tempat persembunyiannya.”

Penasehat yang masih duduk di sebelah kiri menunduk sopan. “Ada satu cara, Tuan.”

Mireth menoleh.

“Vynn,” jawab penasehat itu pelan. “Gunakan Vynn. Dia petarung terbaik kita untuk saat ini... sejak pengkhianat itu berbalik pada Tuan.”

Nama itu meluncur seperti pisau kecil yang sengaja dijatuhkan di meja rapat.

Lihat selengkapnya