Veilbound: Beyond the Ashen Border

Diva Amane
Chapter #36

Keseimbangan dan Pengendalian

Malam menggantung rendah di atas tanah luas sekitar kompleks Abbysal Sovereign, dan dari kejauhan, lampu-lampu hiburan yang menyala di kawasan itu tampak seperti luka-luka kecil berwarna emas di permukaan hitam dunia. Di dalam bar yang berdiri tak jauh dari jalan utama guild, udara dipenuhi bau minuman keras, minyak wangi murah, asap pipa, dan keringat yang disembunyikan di balik tawa. Musik dipukul pelan dari sudut ruangan, terlalu lembut untuk disebut meriah, terlalu keras untuk disebut tenang.

Ahri bersandar di sisi ranjang sempit ruang pribadi di lantai atas, jari-jarinya menyisir dada pria iblis yang terengah di bawahnya. Ruangan itu remang, hanya diterangi lampu gantung berwarna merah gelap. Selimut tipis tergeser ke sisi ranjang, memperlihatkan kulit kekar pria itu yang basah oleh peluh dan mabuk.

Jubah Abbysal Sovereign yang ia kenakan terlempar ke kursi, memperlihatkan atribut komunikasinya yang masih menempel di bahu—lambang yang seharusnya membuatnya tampak berwibawa, tetapi malam ini justru tampak seperti benda yang telah menyerah pada kelembutan palsu.

Pria itu mengerang manja dan menarik napas panjang, lalu menatap Ahri dengan mata setengah terpejam. “Kau terlalu kejam,” gumamnya, suaranya berat oleh alkohol. “Tiga tahun aku membantumu. Tiga tahun.”

Ahri tersenyum tipis, lalu mengusap sisi rahangnya dengan ujung jari.

“Aku tidak pernah memintamu berhenti,” katanya lirih.

Pria itu terkekeh, lalu meraih pergelangan tangan Ahri dengan pelan. “Jangan pura-pura tidak tahu. Aku sudah menyelundupkan cukup banyak kristal bahan bakar ke orang-orangmu. Aku sudah menyelamatkanmu berkali-kali dari audit internal.”

“Mmm.”

“Dan tiga hari lalu aku hampir ketahuan saat mengutak-atik distribusi kristal dari gudang pusat.”

Ahri menunduk sedikit, bibirnya tetap membentuk senyum. Ujung jari mungilnya menyentuh dagu pria itu, memaksa wajahnya terangkat.

“Kalau begitu, kau memang pantas dapat imbalan.”

Pria itu langsung terkekeh puas, seolah kalimat itu sudah cukup untuk menambal seluruh kelelahannya. Ia menyandarkan tubuh, lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Ahri dengan posesif yang mabuk. Di luar pintu, suara gelas beradu dan tawa para pengunjung lain terdengar samar, tertahan dinding tebal ruang pribadi ini.

Pria itu mengernyit manja. “Lebih dari ini,” bisiknya. “Malam ini aku mau lebih.”

Ahri memiringkan kepala, memperhatikan wajahnya yang memerah. Sesaat ia membiarkan keheningan menggantung, cukup lama untuk membuat pria itu menunggu. Lalu, dengan gerakan perlahan, ia menyingkap dua tali tipis di pundaknya. Bahunya terbuka sedikit, dan ia memberi isyarat kecil dengan ujung dagunya—undangan yang sengaja dibuat tampak menggoda.

Pria itu langsung tertawa pendek, puas seperti binatang yang tak tahu ia sedang berjalan menuju jebakan yang dipasang dengan tangan sendiri.

Ahri membiarkan tawa itu berlangsung sampai laki-laki itu kembali tenggelam dalam kemabukan dan nafsunya sendiri. Selama tiga tahun, wajah seperti itu sudah cukup baginya untuk menutupi banyak hal. Selama tiga tahun, ia mengumpulkan nama, alur, waktu pengiriman, dan cara kristal-kristal mana berpindah dari tangan ke tangan. Selama tiga tahun, ia memelihara peran yang membuatnya tampak seperti sekadar perempuan malam.

Padahal yang ia lakukan jauh lebih dari itu.

--o--

Beberapa tingkat di bawah, di lorong-lorong gelap yang menghubungkan bar dengan ruang layanan dan gudang kecil pusat hiburan malam, Ahri berjalan sendirian. Mantel tebalnya kini menutupi pakaian yang tadi dikenakannya. Begitu pintu ruang pribadi itu tertutup di belakangnya, seluruh kelembutan di wajahnya ikut lenyap. Langkahnya mantap. Tatapannya kembali setajam biasanya.

Ia berhenti di sudut lorong yang sepi, memastikan tak ada siapa pun di sekitar. Dari balik mantel, ia mengeluarkan sebuah kristal komunikasi, mengusap permukaannya dengan ibu jari sambil melafalkan mantra pendek.

Cahaya redup menyala dari dalam kristal.

Tak lama kemudian, suara seorang pria terdengar dari seberang.

"Ahri."

"Ya."

"Bagaimana?"

"Berhasil."

Hanya satu kata, namun cukup membuat jeda pendek di seberang sambungan.

"Yang diminta pimpinan?"

"Sudah lengkap. Jalur distribusi resmi, gudang cadangan, sampai nama orang dalamnya."

"Bagus."

Ahri menyandarkan bahunya ke dinding batu.

"Dia hampir tertangkap tiga hari lalu."

Lihat selengkapnya