Siang di Solmaria jatuh putih dan keras, seolah matahari sendiri sedang menekan atap istana agar tidak berani bernafas terlalu lega. Cahaya yang menembus jendela-jendela tinggi ruangan tahta memantul di lantai marmer pucat, membelah bayang-bayang tiang menjadi garis-garis panjang yang kaku. Di udara ada bau dupa Helia yang tipis, bercampur aroma lilin panas, logam yang dipoles, dan sisa debu mineral yang entah bagaimana selalu ikut menempel pada pakaian orang-orang Solmaria, seolah kerajaan itu sendiri terbuat dari batu yang baru saja ditambang.
Raja Rachlar duduk di singgasananya dengan punggung tegak dan kedua tangan terlipat ringan di atas gagang kursi. Ia mengenakan jubah biru tua dengan sulaman emas yang tampak terlalu mewah untuk seseorang yang berwajah setenang pedagang batu permata. Di lehernya tergantung kalung kecil berbentuk matahari, tetapi di jari-jarinya justru ada dua cincin batu hitam dari hasil tambang dalam. Perpaduan yang ganjil, seperti seluruh dirinya: taat pada Helia, namun mencintai angka lebih daripada doa.
Di bawah singgasana, lantai ruangan tahta telah disingkirkan dari segala formalitas yang tidak perlu. Para pejabat inti berdiri di sisi kanan dan kiri, para penjaga dengan tombak berlapis perak berjajar rapat di tepi ruangan, dan di depan pintu besar yang baru saja terbuka, sosok-sosok asing itu berdiri seperti noda gelap di tengah cahaya siang.
Jenderal Dornhart.
Di belakangnya, seorang pembawa surat resmi dari Umbra Veil menunduk kaku, kedua tangannya masih menggenggam tabung gulungan bersegel hitam. Wajahnya pucat, matanya berusaha tidak menatap siapa pun terlalu lama. Dan di belakang dua orang itu, enam belas pasukan elit iblis berdiri diam tanpa ekspresi, tubuh mereka tegap, senjata terikat di pinggang, mata mereka sepenuhnya hitam. Tidak ada putih mata, tidak ada kilau kesadaran yang biasa. Hanya cekungan gelap yang memantulkan cahaya ruangan seperti sumur yang tidak punya dasar.
Rachlar menyapukan pandangannya sekali, cepat dan lengkap. Ia menghitung jumlahnya tanpa sadar—enam belas. Tidak satu pun lebih. Tidak satu pun kurang.
“Selamat datang,” katanya akhirnya, suaranya tenang dan sopan, namun cukup keras untuk membuat seluruh ruangan tahu bahwa ia tidak terkesan. “Tuan Dornhart. Kau datang membawa tamu yang cukup berat.”
Dornhart melangkah lebih dahulu. Ia tinggi, keras, dan bergerak dengan jenis percaya diri yang hanya dimiliki orang-orang yang hidup terlalu lama di bawah perintah dan terlalu sering memerintah balik. Seragamnya rapi, lapisan pelindungnya dipoles hingga hampir tak memantulkan cahaya. Di wajahnya tidak ada senyum, hanya garis bibir tipis yang tampak seperti telah lama belajar menutup sesuatu yang lebih liar.
Ia membungkuk sedikit, tidak lebih dari yang dianggap perlu. “Yang Mulia Rachlar.”
“Tak perlu terlalu sopan,” kata Rachlar ringan. “Jika kau datang membawa masalah, lebih baik kita cepat-cepat ke intinya.”
Ada gerakan kecil di sudut ruangan, nyaris tak terlihat. Perdana Menteri Haween, yang berdiri setengah langkah di bawah tahta, mengangkat wajahnya sebentar ke arah Dornhart lalu kembali menunduk. Ia mengenakan pakaian resmi Solmaria berwarna abu pucat, dengan sabuk dokumen yang penuh catatan kecil. Tatapannya jernih, tajam, dan tak mudah tergoyahkan. Di antara semua orang di ruangan itu, dialah yang paling mirip dengan seseorang yang baru saja mencium bau badai sebelum orang lain sadar langit berubah.
Pembawa surat resmi itu akhirnya maju. Lututnya hampir tersandung ketika ia menyerahkan tabung gulungan kepada Haween, bukan langsung kepada raja. Itu kebiasaan di Solmaria; aturan lama yang menunjukkan bahwa surat asing selalu melewati tangan yang tahu cara membaca sebelum sampai ke singgasana. Haween mengambilnya dengan dua jari, memeriksa segelnya sekilas, lalu menyerahkannya kepada raja.
Rachlar memutar tabung itu perlahan.
“Umbra Veil tak pernah mengirim surat tanpa alasan yang membuat orang lain kehilangan tidur,” gumamnya.
Dornhart tidak menjawab.
Rachlar memecahkan segel hitam itu, menarik gulungan dan membentangkannya. Ruangan menjadi sunyi. Bahkan para penjaga pun seakan menahan gesek tombak mereka agar tak mengganggu satu-satunya suara di ruangan itu: mata raja yang bergerak di atas baris-baris tulisan.
Haween memperhatikan wajah Rachlar, bukan suratnya. Dari rahang yang sedikit mengeras, dari gerak ujung jari yang berhenti sesaat di tengah, ia tahu isinya bukan urusan kecil.
Rachlar membaca sampai selesai tanpa mengubah ekspresi. Namun ketika gulungan itu ditutup kembali, ia menaruhnya di telapak tangan kiri seolah sedang menimbang batu tambang yang baru digali dari kedalaman paling gelap.
“Buronan kerajaan Umbra Veil,” katanya pelan. “Ternyata bersembunyi di salah satu kota kami.”
Dornhart menatap lurus ke depan. “Benar.”
“Dan karena itu kalian datang ke sini dengan enam belas pasukan iblis yang matanya sudah hilang.”
“Enam belas pasukan elit,” koreksi Dornhart, datar. “Mereka akan mematuhi semua instruksi saya.”
Rachlar tidak langsung membalas. Ia menatap barisan iblis itu lagi. Mata hitam mereka tidak bergerak. Tidak ada tanda gelisah, tidak ada kebiasaan manusiawi untuk menyelidik ruangan, menilai siapa yang bisa disuap dan siapa yang harus ditakuti. Mereka hanya berdiri. Pion yang telah dipakai sampai kehendak bebasnya digosok habis.
Pemandangan itu tidak membuat Rachlar jijik. Ia justru tersenyum tipis, seperti seseorang yang melihat alat yang terlalu mahal untuk dibuang, dan terlalu berbahaya untuk diletakkan sembarangan.
“Besar sekali kehormatan kami,” katanya. “Umbra Veil mengirim perintah, lalu menyertakan pengingat.”
Dornhart mengeraskan rahang. Haween sudah tahu arah pembicaraan itu sebelum lelaki itu sempat membuka mulut. Ia menoleh tipis ke kanan, memberi isyarat halus kepada para juru tulis agar tetap diam.
Rachlar menyandarkan tubuhnya ke kursi singgasana. “Kau tahu waktu apa sekarang, Jenderal?”
“Siang,” jawab Dornhart singkat.
“Bukan itu yang kumaksud.” Rachlar mengangkat gulungan surat sedikit. “Maksudku, ini masa ketika rakyatku sedang menunggu Festival Persembahan Matahari. Mereka menghabiskan bulan-bulan terakhir memoles jalan, menyiapkan altar-altar kota, membuat minuman manis dari madu tambang, menenun kain kuning untuk prosesi, dan menyembelih tiga puluh kambing putih yang akan dibawa ke kuil. Mereka percaya ini tahun yang baik. Mereka percaya mata Helia sedang melihat ke arah kami.”
Tak ada senyum di wajah Dornhart. Namun Rachlar bisa melihat betapa tak sabarnya lelaki itu.
“Dan?” tanya Dornhart.
Rachlar membuka kedua telapak tangannya. “Dan kalau aku mulai mengerahkan pasukan, menutup satu kota, menahan jalur keluar, memeriksa rumah ke rumah, maka rakyatku akan mencium kedaruratan sebelum mereka melihat musuh. Mereka akan panik. Pedagang akan menutup toko. Para penambang akan meninggalkan tambang. Dan sebelum festival dimulai, kerajaanku sudah berbau ketakutan.”
Haween melirik surat di tangan raja. Dari isi dan waktu pengirimannya, ia sudah menebak sangat baik bahwa Umbra Veil tidak peduli apakah Solmaria harus memamerkan dentang pedang di pasar. Namun Raja Rachlar sedang berbicara bukan sekadar soal acara. Ia sedang berbicara soal citra. Soal cara sebuah kerajaan mempertahankan kepercayaan rakyat tanpa menunjukkan betapa rapuhnya keadaan di bawah permukaan.
Dornhart menjawab tanpa berputar. “Tidak ada waktu untuk citra. Raja Zareth ingin jalur keluar buronan ditutup. Jika perlu, seluruh kota. Jangan jadikan itu rumit.”
Haween mendongak cepat. “Dengan hormat, Jenderal,” katanya tenang, “Solmaria tidak akan menempatkan keamanan internalnya sepenuhnya di bawah instruksi kerajaan lain, walau kerajaan itu pembeli terbesar produk pertambangan kami.”
Dornhart menoleh padanya. Tatapannya tajam seperti seret pisau di atas besi. “Kalian hidup dari tambang kalian. Siapa yang membeli batu kalian, Haween?”