Sore sudah jatuh sepenuhnya ketika lonceng-lonceng kecil di menara dalam istana Solmaria mulai berdentang satu per satu, tanda bahwa cahaya matahari telah benar-benar melemah di balik garis bukit tambang. Dari jendela tinggi ruangan tahta, langit tampak seperti lembaran logam yang mulai menghitam di sisi barat. Udara di dalam ruangan itu sendiri tetap hangat oleh dupa Helia dan bara lilin yang menyala tanpa berkedip, tetapi ketenangan yang tampak di sana terlalu rapi untuk dipercaya.
Raja Rachlar duduk di singgasananya dengan satu siku bertumpu santai pada lengan kursi. Di bawah cahaya senja yang masuk miring, wajahnya tampak lebih tua daripada biasanya, tetapi matanya justru lebih hidup—mata seorang pria yang sudah lama berhenti menganggap kekuasaan sebagai sesuatu yang suci dan lebih sering melihatnya sebagai alat kerja yang harus disetel terus-menerus agar tidak macet. Di sisi kanan kursi singgasana, Perdana Menteri Haween berdiri tegak dengan tumpukan catatan di kedua tangan, wajahnya tenang seperti halaman buku yang sengaja dikunci rapat.
Pintu utama ruangan tahta dibuka oleh dua penjaga.
Jenderal Dornhart masuk.
Langkahnya berat, pasti, dan tidak berusaha memikat siapa pun. Di belakangnya, enam belas pasukan elit iblis melangkah seperti bayangan yang sudah dipereteli menjadi tubuh. Mata mereka masih hitam seluruhnya, tak memantulkan sedikit pun kesadaran. Mereka berdiri lurus, senjata tergantung rapi, siap menelan perintah apa pun tanpa perlu memahami alasan di baliknya. Dada mereka naik turun teratur. Terlalu teratur. Seperti mesin pembunuh yang baru saja diberi nama manusia.
Rachlar tidak bangkit. Ia hanya menyambut dengan gerakan dagu yang nyaris tidak bisa disebut hormat.
“Jenderal Dornhart,” katanya. “Kupikir kau sudah cukup kenyang melihat kota kami dari jauh.”
Dornhart menunduk singkat. “Yang Mulia memanggil saya.”
“Benar.” Rachlar mengetukkan ujung jarinya ke lengan singgasana. “Dan aku selalu suka bila orang datang tepat waktu ketika aku sedang malas berbicara terlalu banyak.”
Haween menahan seulas senyum tipis. Ia sudah tahu arah pembicaraan ini bahkan sebelum Dornhart melangkah masuk. Surat-surat yang dibawa oleh utusan Umbra Veil sejak malam sebelumnya sudah dibaca berulang kali, lalu dibandingkan dengan laporan jaringan intelijen mereka sendiri. Kini hanya tinggal menunggu siapa yang lebih dulu kehilangan kesabaran.
Dornhart memandang lurus ke raja. “Saya tidak datang untuk berdebat.”
“Itu kabar baik,” balas Rachlar. “Karena aku juga tidak.”
Jenderal itu menatap Haween sebentar, lalu kembali ke raja. “Lokasi mereka?”
Rachlar menyandarkan tubuh lebih dalam ke kursinya, lalu mengangkat satu lembar peta dari meja di samping singgasana. Peta itu besar, dilipat berkali-kali, dan diikat dengan pita tipis. Tepiannya sudah menguning tua. Tidak ada peta sekadar tua yang disimpan begitu hati-hati. Ada sejarah di dalamnya. Sejarah yang tidak ingin dilupakan siapa pun.
“Yang kau cari ada di kota terluar wilayah kami,” kata Rachlar, suaranya tenang. “Nama kota itu Telmora. Kota penyangga perdagangan batu dan kain. Tidak terlalu besar untuk memancing pasukan penuh, tidak terlalu kecil untuk tak punya mata-mata.”
Haween memandang raja sebentar. Ia tahu mengapa nama itu dipilih. Telmora berada di jalur antara permukiman tambang dan pasar pesisir. Kalau ada buronan bersembunyi di sana, mereka bisa tenggelam dalam arus para buruh, pedagang, dan peziarah yang keluar-masuk setiap hari tanpa ada yang merasa aneh.
Rachlar melanjutkan, “Malam ini, tepat satu jam. Tidak lebih.”
Dornhart mengerutkan kening tipis. “Satu jam?”
“Rakyat kota itu sudah kukumpulkan sejak sore di alun-alun,” jawab Rachlar. “Pertunjukan drama teatrikal gratis. Gratis benar-benar gratis, bukan seperti kebohongan yang biasa dijual para bangsawan lain. Aku juga memerintahkan satu kantung koin subsidi dibagikan untuk setiap keluarga yang datang.”
Haween menggeser setumpuk catatan di tangannya. “Menjelang Festival Persembahan Matahari, mereka akan menganggapnya sebagai hiburan dan perhatian kerajaan.”
“Dan?” Dornhart bertanya datar.
Rachlar mengangkat bahu. “Dan dalam satu jam itu, jalan-jalan utama akan kosong. Orang-orang berkumpul di alun-alun. Penjaga kota kita bisa diarahkan ke sana tanpa memicu kepanikan. Kalau kalian ingin bekerja kotor, lakukan saat mata rakyat tertuju ke panggung, bukan ke gang belakang.”
Dornhart tidak terlihat terkesan. Bukan karena ia tidak paham rencana itu, melainkan karena ia hanya menganggap semua itu sebagai lapisan kosmetik di atas tugas yang tetap sama: membunuh target, menutup jalur, memaksa hasil.
“Yang saya butuhkan hanya izin,” katanya. “Bukan penjelasan tentang tontonan.”
Rachlar tersenyum tipis. “Itu juga sudah kuberi.”
Haween menatap peta itu sekilas, lalu kembali pada wajah Dornhart. “Namun ada batasnya, Jenderal. Kami tidak akan membiarkan kota kami diratakan hanya karena seseorang bersembunyi di dalamnya.”
Mata Dornhart tetap lurus. “Saya tidak peduli pada bangunan.”
“Bagus,” Rachlar menyela. “Karena aku peduli.”
Keheningan mengental.
Dornhart mendengus pelan. “Anda memanggil saya hanya untuk memastikan saya tidak menabrak kota Anda.”
“Kurang lebih.” Rachlar memutar peta itu di telapak tangannya. “Aku tidak suka harus menjelaskan kepada rakyatku mengapa kota mereka mendadak terlihat seperti medan perang.”
Dornhart menatap lurus ke depan, dan untuk sepersekian detik, ketidaksabarannya terlihat seperti luka lama yang tidak pernah sembuh. “Kalau begitu biarkan saya bekerja. Selama saya diberi ruang untuk membersihkan musuh kerajaan, saya tidak akan berhenti pada detail lain.”
Rachlar mengangguk kecil. “Itu jawaban yang masuk akal. Sangat bersih. Terlalu bersih, bahkan.”
Haween melangkah setengah langkah maju, membuka salah satu catatannya. “Jenderal, satu hal lagi. Kami menerima laporan bahwa target mungkin tidak tinggal sendirian. Jika Anda masuk dengan gaya frontal, Anda akan memancing seluruh jaringan simpatisan di kota itu.”
Dornhart menoleh sebentar. “Itu risiko yang selalu ada.”
“Benar,” kata Haween. “Tapi rakyat Solmaria tidak seharusnya membayar harga untuk cara kerja Umbra Veil.”
Kalimat itu tajam, namun tidak berteriak. Justru karena tenang, ia terdengar lebih berbahaya.
Dornhart memandang raja, lalu perdana menteri, lalu kembali ke raja. “Instruksi?”
Rachlar menatap api lilin di dekat tahta, seolah sedang mengukur bayangan yang dilemparkan nyala kecil itu di atas marmer.
“Masuklah saat pertunjukan dimulai,” katanya. “Ambil apa yang kalian cari. Jangan memaksa warga berlari. Jangan merusak panggung. Dan sebelum jam itu habis, kota kembali harus terlihat seperti tidak pernah disentuh perang.”
Dornhart mengangguk sekali. “Saya mengerti.”
“Bagus.”
Rachlar meletakkan peta itu di atas meja, tepat di depan Haween. “Selama satu jam, Telmora milik kalian. Setelah itu, ia kembali menjadi milik Solmaria.”
Dornhart tidak membalas. Ia hanya berbalik dengan gerakan singkat, dan enam belas pasukan elit iblis di belakangnya ikut bergerak serempak. Tidak ada seruan. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sumpah. Hanya kesunyian yang bergerak sebagai formasi.
Saat mereka keluar, pintu besar menutup kembali dengan bunyi berat.
Baru setelah langkah-langkah itu menjauh, Rachlar mengembuskan napas dan menyandarkan kepala ke sandaran kursi. “Aku benci ketika mereka datang membawa wajah yang mengira semua orang lain bisa dipaksa jadi latar.”
Haween menurunkan catatannya. “Namun Anda tetap memberi mereka ruang.”
“Karena kalau tidak, mereka akan mengambilnya dengan darah.”