Veilbound: Beyond the Ashen Border

Diva Amane
Chapter #39

Gerbang yang Menahan Malam

Langit setelah tenggelamnya matahari belum benar-benar gelap, tetapi sudah kehilangan sisa kehangatannya. Di permukiman iblis yang menempel di luar tembok kota, malam turun lebih dulu daripada di mana pun yang lain—di sela-sela atap seng, di gang-gang sempit yang berbau asap dapur, di saung-saung kayu tempat para lelaki iblis dewasa duduk melingkar sambil menjaga wilayah mereka dengan cara yang nyaris tak pernah berubah dari malam ke malam. Cangkir-cangkir kecil berpindah tangan. Obrolan rendah bersilang dengan bunyi batu asah dari bengkel belakang rumah. Beberapa anak kecil sudah dipanggil pulang, sementara para pria yang lebih tua tetap tinggal di ambang cahaya, seolah mereka adalah pagar hidup yang tak butuh diumumkan keberadaannya.

Kylia berjalan di tengah mereka bersama Arcante dan Isolde, langkahnya dijaga agar tidak terlalu cepat namun juga tidak menampakkan ragu. Di depannya, lorong utama permukiman itu mengarah ke gerbang besar kota, dan di kejauhan, dari balik tembok tinggi, samar-samar terdengar getar suara alun-alun yang mulai ramai. Musik teatrikal yang disiapkan sejak sore belum berhenti. Sorak-sorai, tawa, dan denting alat panggung terbawa angin seperti gema yang sengaja dibuat agar orang-orang di satu sisi kota tidak mendengar apa yang sedang disiapkan di sisi lain.

Arcante membawa tongkat sihirnya di tangan kanan, menumpangnya ke pundak seperti seorang penambang memanggul alat kerja. Seluruh bagian kristal gagangnya dibungkus kain tebal, rapat, sampai bentuk senjata itu hanya terlihat sebagai tongkat panjang yang sederhana. Ia berjalan dengan tenang, tetapi Kylia bisa melihat ketegangan kecil di bahunya, ketegangan yang tidak datang dari usia, melainkan dari keputusan yang sudah terlalu lama ditunda.

Isolde berada di sisi lain, lebih ringan langkahnya, wajahnya tetap datar namun matanya terus bergerak. Ia bukan tipe perempuan yang membuat keadaan tampak damai. Justru di dekatnya, damai selalu terasa seperti sesuatu yang diperoleh dengan susah payah dan bisa hilang kapan saja.

Kylia menatap gerbang kota di depan, lalu menoleh ke belakang sekilas. Rumah-rumah rendah permukiman itu berdiri berderet, padat, rapat, saling bersandar seperti tubuh yang sudah terlalu sering menahan angin. Untuk sekejap, Kylia merasa semuanya terlalu biasa, dan justru itulah yang membuat dadanya semakin tidak enak. Dunia selalu memilih malam paling biasa untuk menjatuhkan sesuatu yang buruk.

Arcante berhenti tepat di pertigaan kecil sebelum lorong utama menuju gerbang.

Ia menoleh.

Seseorang memanggil dari belakang.

“Arcante.”

Suara itu berat, kasar, dan akrab seperti pintu bengkel yang dibuka di pagi hari.

Mereka bertiga menoleh serempak.

Vrille berdiri di belakang mereka, tangannya masih setengah berlumur minyak dari bengkel, tubuhnya yang besar menutup sebagian lampu gantung jalan. Walau usianya bagi manusia sudah pasti tergolong tua, tubuh iblisnya masih menyimpan kekokohan seorang veteran yang belum rela menyerah pada rapuh. Satu matanya menatap mereka dengan tajam, yang satu lagi tertutup oleh bekas luka lama di sisi wajah. Ia mengangkat dagu sedikit, seolah pertanyaan yang hendak ia lemparkan sudah lebih dulu ia tahu jawabannya.

“Kalian mau ke mana?” tanyanya.

Pertanyaan itu terdengar retoris bahkan sebelum selesai diucapkan.

Arcante membalik tubuh sepenuhnya. Ia tidak tersenyum. Sorot matanya senja—tenang, berat, dan sudah memutuskan sesuatu jauh sebelum mulutnya bergerak. “Kau sudah tahu.”

Vrille menghela napas panjang, panjang sekali, lalu mengusap dagu dengan punggung tangan. “Aku memang tahu,” gumamnya. “Tapi tetap saja aku berharap kalian akan membuatku salah kali ini.”

Isolde menatap Vrille tanpa bicara.

Vrille melangkah maju beberapa langkah, menatap ketiganya bergantian. Sorot matanya berhenti paling lama pada Arcante. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang Kylia tidak paham sepenuhnya, tetapi dapat dirasakan: pengakuan diam-diam antara orang-orang yang pernah hidup terlalu dekat dengan pembantaian untuk bisa menghargai kebohongan.

“Siang tadi,” kata Vrille pelan, “para penjaga kota lewat seperti biasa. Tapi kali ini mereka menanyakan profil sekelompok orang yang sedang dicari kerajaan. Bukan buruh. Bukan pedagang. Seorang perempuan manusia, seorang iblis laki-laki.” Ia menatap Kylia langsung. “Itu mereka, kan?”

Kylia membeku.

Instingnya, yang selama ini menyelamatkannya dari banyak hal buruk, langsung berteriak bahwa sesuatu yang lebih buruk sedang bergerak mendekat. Sejak Darrel mati dalam pertarungan malam itu, tubuhnya seolah tidak pernah benar-benar percaya pada kebetulan lagi. Kalimat Vrille terasa seperti batu yang jatuh ke air tenang. Lingkarannya melebar. Tidak ada lagi ruang untuk menyangkal.

Kylia menelan ludah.

Arcante menjawab sebelum ia sempat membuka mulut. “Ya.”

Vrille tidak terlihat kaget. Ia justru memejam sebentar, seperti seseorang yang baru menerima konfirmasi atas firasat yang sudah ia simpan cukup lama.

“Baik,” katanya lirih.

Lalu ia mendongak, menatap langit yang sudah menghitam di atas rumah-rumah permukiman. Di kejauhan, suara alun-alun masih terdengar, lebih ramai daripada sebelumnya. Seseorang di sana mungkin sedang tertawa, mungkin sedang bertepuk tangan, sama sekali tidak sadar bahwa beberapa blok dari tempat mereka berdiri, orang-orang yang diburu sedang memutuskan apakah akan mengantar diri ke perang yang lebih besar.

Vrille membuka mata lagi.

“Tunggu sebentar.”

Ia berbalik dan masuk cepat ke bengkel di belakang rumahnya. Tirai kulit tebal bergeser, menutup tubuh besarnya dari pandangan. Dari dalam terdengar bunyi logam bergesek, bunyi rak dibuka, lalu bunyi kain berat ditarik dari gantungan.

Kylia menunggu dengan perasaan yang tidak enak. Ia berdiri di sana, mendengar suara malam dari permukiman yang seolah tetap berjalan sebagaimana biasanya. Dua lelaki iblis tua di saung dekat mereka masih berbicara soal giliran jaga. Seseorang menepuk bahu temannya. Satu anak kecil lewat sambil membawa selimut yang terlalu besar untuk tubuhnya.

Lalu Vrille keluar kembali.

Di punggungnya kini sudah terpasang pedang dengan bilah lebar dan panjang, ujung dan sebagian besar permukaannya dibungkus rapat kain hitam yang diikat tali. Senjata itu tampak berat, tetapi ia memanggulnya seolah benda itu bukan apa-apa. Tangan kanannya turun ke sisi tubuh, sementara mata satunya menatap mereka dengan ketegasan yang sudah dipilih.

Arcante mengerutkan kening. “Kau tidak perlu ikut.”

Vrille mendengus. “Aku juga tidak ingin ikut.”

“Kalau begitu—”

“Tapi aku tetap akan ikut.” Vrille memotongnya cepat. “Kalian sudah cukup lama menumpang hidup di sini. Kalau rumah ini diseret masuk ke masalah yang kalian bawa, itu tetap masalahku juga.”

Arcante menatapnya lama. Pada lelaki iblis itu, Kylia bisa melihat sesuatu yang jarang ia lihat: rasa terima kasih yang tidak diberi ruang untuk menjadi sentimental.

“Kami sudah cukup berhutang padamu,” kata Arcante pelan.

Vrille mengangkat satu bahu. “Maka anggap ini cara menutup sebagian dari hutang itu.”

Isolde menatapnya sebentar, lalu mengangguk kecil. Tidak ada pujian. Tidak ada pembicaraan hangat. Mereka semua terlalu dekat dengan malam untuk membuang kata.

“Kalau begitu,” kata Isolde, “kita berangkat.”

Mereka berempat melangkah lagi, kali ini menuju gerbang besar di ujung permukiman. Kylia berjalan di depan. Ia tahu jalan kota dari tempat ini, dan malam terlalu sempit untuk memberi ruang pada kebingungan. Saat mereka melewati gerbang, ia sempat menengadah.

Matahari baru saja tenggelam.

Garis merah tipis di barat masih tersisa, seolah langit belum rela menutup hari sepenuhnya. Kylia merasakan sesuatu yang dingin menggesek tengkuknya. Ada malam-malam yang datang untuk beristirahat. Ada pula yang datang untuk memakan sesuatu.

Malam ini terasa seperti yang kedua.

--o--

Jalanan kota di luar permukiman iblis itu jauh lebih sepi daripada biasanya. Cahaya lentera berjajar di sisi jalan, namun banyak toko sudah menutup daun pintunya. Yang terbuka hanya kedai minuman, beberapa penginapan kecil, dan jalur menuju alun-alun kota, tempat sorak-sorai dari pertunjukan teatrikal gratis menggema tanpa henti. Sesekali suara tawa meledak dari kerumunan, lalu memudar tertelan angin.

Rachlar memang cerdik. Ia tidak hanya memerintahkan rakyat berkumpul di satu tempat; ia juga memberi mereka alasan untuk merasa beruntung datang.

Kylia berjalan cepat, diikuti tiga sosok di belakangnya. Arcante tetap memanggul tongkatnya, Isolde membawa tas kecil berisi perlengkapan, dan Vrille berjalan paling belakang seperti dinding hidup. Kylia sesekali melirik ke sisi jalan, memastikan tak ada gerakan mencurigakan, namun kota itu justru tampak terlalu tenang. Terlalu bersih.

Itulah yang paling membuatnya tak nyaman.

Saat mereka mendekati tikungan jalan menuju rumah Kael, suara roda kereta terdengar dari arah belakang. Awalnya samar. Lalu semakin jelas.

Kylia menoleh, satu langkahnya terhenti.

“Nama Kylia!”

Suara itu memanggil dari balik bunyi roda yang berderak di atas batu.

Lihat selengkapnya