Veilbound: Beyond the Ashen Border

Diva Amane
Chapter #40

Penyihir Terkuat Abbysal Sovereign

Malam telah sepenuhnya jatuh ketika bunyi langkah kaki mulai terdengar dari balik bukit.

Bukan satu atau dua orang.

Puluhan langkah yang bergerak dalam irama yang sama, berat, teratur, dan terlalu seragam untuk disebut sebagai rombongan biasa.

Di atas tanah lapang yang membentang di luar rumah pondok, angin malam menggerakkan rerumputan yang sudah menguning. Cahaya dari beberapa lentera di teras rumah bergetar tertiup angin. Jauh di belakang mereka, tembok batu terluar kota menjulang hitam di bawah langit malam, sementara pemukiman di kejauhan telah berubah menjadi kumpulan titik cahaya yang tenang.

Ketentraman itu terasa seperti kebohongan.

Arcante berdiri paling depan.

Jubah tuanya bergerak perlahan. Tongkat sihir bergagang panjang yang tadi ia ambil dari gudang kini berada di tangan kanannya. Ujung tongkat itu menancap ringan pada tanah, sementara tangan kirinya terbuka di depan tubuh.

Ia tidak perlu bertanya siapa yang datang.

Ia sudah tahu.

Dari balik bukit, bayangan pertama muncul.

Lalu yang kedua.

Kemudian semakin banyak.

Enam belas pasukan iblis bergerak turun menuju tanah lapang dengan senjata terhunus.

Ada yang membawa great-sword.

Ada yang menggenggam kapak besar dengan kedua tangan.

Dua di antaranya membawa gada berat yang ujungnya dipenuhi tonjolan logam.

Beberapa bergerak dengan tubuh ringan dan posisi rendah, ciri khas para assassin.

Di belakang mereka terdapat dua penyihir yang berjalan dengan langkah kosong, kristal mana terpasang pada tongkat masing-masing.

Dan di depan semuanya, seorang pria berjalan tanpa terburu-buru.

Jenderal Dornhart.

Pedang ksatria tergantung di sisi pinggangnya. Mantelnya bergerak mengikuti angin. Wajahnya tidak menunjukkan kegembiraan, kebencian, ataupun kemarahan.

Hanya ketenangan seseorang yang telah terlalu sering melihat perang untuk masih menganggap pembunuhan sebagai sesuatu yang istimewa.

Dornhart berhenti beberapa puluh langkah dari rumah pondok.

Ia mengangkat pandangan.

Arcante menatapnya.

Keduanya saling mengenali.

Bukan sebagai teman.

Bukan pula sebagai musuh lama yang pernah berhadapan langsung.

Melainkan sebagai dua orang yang mengetahui nama masing-masing dari sejarah yang tidak pernah benar-benar selesai.

Dornhart mengangkat satu tangan.

Enam belas pasukan iblis berhenti.

"Arcante."

Suara itu terdengar jelas di atas lapangan.

Arcante tidak menjawab.

Dornhart kemudian melirik ke arah rumah.

"Serahkan buronan."

Masih tidak ada jawaban.

Di belakang Arcante, Vrille maju satu langkah.

Great-sword masif berada di tangan kanannya. Bilah itu sudah tua, tetapi terawat. Tubuh iblis berusia tujuh puluh lima tahun itu memang tidak lagi muda menurut standar manusia, tetapi ras iblis memiliki ukuran usia yang berbeda. Tubuh Vrille masih berada dalam kondisi prime yang bagi manusia setara dengan pria berusia pertengahan tiga puluhan.

Dan malam ini, tubuh itu masih sanggup mengangkat senjata yang sebagian manusia bahkan tidak akan mampu seret.

"Kalau mau mereka," kata Vrille, "ambil sendiri."

Dornhart memandangnya.

"Kau Vrille."

Vrille mengangkat alis.

"Sudah lama."

"Ya."

Dornhart menoleh sedikit.

"Kau juga masih hidup."

Vrille tersenyum tipis.

"Sayangnya itu akan jadi nasib burukmu."

Dornhart tidak membalas senyum itu.

Ia hanya menurunkan tangannya.

"Mulai."

Tidak ada teriakan.

Tidak ada aba-aba kedua.

Enam belas pasukan iblis langsung bergerak.

--o--

Tanah lapang itu menjadi neraka dalam hitungan detik.

Pasukan great-sword menerjang lebih dahulu.

Dua pengguna kapak bergerak dari sisi kiri dan kanan untuk membuka formasi. Para assassin menyebar, mengambil sudut yang memungkinkan mereka menyerang dari belakang. Penyihir bergerak paling belakang, menjaga jarak sambil mulai merapal.

Dornhart tidak ikut maju.

Ia mengamati.

Itu yang membuat Kylia langsung menyadari sesuatu.

"Dia menunggu," katanya.

Arden berdiri di sampingnya.

"Menunggu apa?"

"Kesalahan."

Kylia mengencangkan genggamannya pada arming-sword.

Ia tidak punya waktu menjelaskan lebih jauh.

Musuh pertama sudah tiba.

Great-sword berukuran hampir sebesar tubuh seorang manusia dewasa turun secara horizontal.

Vrille maju menyambut.

Braaang!

Dua bilah besar bertemu.

Benturan itu membuat udara seperti bergetar.

Vrille menahan serangan tersebut dengan kedua tangan. Sepatu botnya bergeser beberapa sentimeter di atas tanah. Rumput di bawah kakinya tertekan.

Musuhnya tidak berhenti.

Ia mengayunkan lagi.

Vrille menangkis.

Kali ini serangannya datang dari arah berbeda.

Vrille memutar tubuh, membiarkan bilah itu lewat di depan dadanya, lalu menggunakan momentum lawan untuk menghantamkan bagian datar great-sword ke sisi kepala iblis tersebut.

Bugh!

Tubuh lawan terhuyung.

Vrille langsung menebas.

Bilah besar itu menembus pelindung bahu hingga tubuh musuh terpental beberapa meter.

Namun bahkan setelah terluka, iblis itu bangkit kembali.

Tidak ada ekspresi sakit.

Tidak ada keraguan.

Tidak ada insting untuk menjaga tubuhnya.

Vrille menatapnya sejenak.

"Benar-benar sudah kosong..."

Ia pernah melihat kontrak jiwa.

Namun apa yang berdiri di hadapannya sekarang bukan sekadar prajurit yang patuh.

Mereka adalah tubuh yang telah kehilangan hak untuk memilih.

"Vrille!"

Teriakan Kylia memaksanya menoleh.

Dua pengguna kapak telah datang dari sisi kanan.

Kylia melesat.

Arming-sword-nya menebas satu lengan lawan.

Arden muncul di sisi lain, menutup jalur kapak kedua.

Mereka bergerak hampir bersamaan.

Satu maju.

Satu mundur.

Kemudian bertukar.

Itu bukan formasi kavaleri sebenarnya, tetapi pola gerak yang pernah digunakan unit-unit tempur berkuda ketika harus bertarung di ruang luas tanpa tunggangan.

Kylia memotong.

Arden menutup.

Arden menyerang.

Kylia menahan.

Mereka tidak pernah berdiri terlalu lama di satu titik.

Di tanah lapang, itu satu-satunya cara agar tidak dikepung.

Namun jumlah musuh terlalu besar.

Dan musuh-musuh mereka tidak membutuhkan ruang untuk berpikir.

Mereka hanya membutuhkan perintah.

Kylia menusukkan pedangnya ke sela armor salah satu pengguna kapak.

Bilah masuk.

Ia menariknya.

Darah mengalir.

Tetapi iblis itu tetap maju.

Kylia menghindar.

Kapak raksasa lewat hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.

Arden menebas leher.

Tubuh lawan jatuh.

Kylia menarik napas.

"Jangan berhenti!"

"Aku tahu!"

Mereka kembali bergerak.

Sementara itu, Arcante belum bergerak dari tempatnya.

Ia mengangkat tongkat.

Udara di sekelilingnya berubah.

Bukan menjadi lebih dingin.

Lebih kosong.

Bayangan di bawah rerumputan mulai bergerak berlawanan dengan arah cahaya.

Kemudian tanah di depan Arcante retak.

Satu tangan hitam keluar.

Lalu kepala.

Kemudian tubuh panjang tanpa wajah merangkak keluar dari permukaan tanah.

Makhluk itu tidak memiliki bentuk yang stabil. Tubuhnya seperti kabut hitam yang dipaksa memiliki tulang. Empat kakinya menyentuh tanah, tetapi tubuh bagian atasnya berubah-ubah setiap kali bergerak.

Arcante memutar tongkat.

Makhluk itu langsung menerjang.

Ia menghantam formasi pasukan iblis dari samping.

Satu assassin terpental.

Makhluk kedua muncul.

Lalu ketiga.

Keempat.

Dalam beberapa detik, lapangan itu dipenuhi makhluk bayangan liar.

Mereka tidak dikendalikan seperti pasukan biasa.

Lihat selengkapnya