Asap hitam mulai menelan pekarangan pondok ketika pertarungan memasuki menit kelima belas.
Bukan kabut alami.
Bukan pula asap dari rumah yang terbakar.
Ia adalah sisa tubuh makhluk-makhluk bayangan yang dihancurkan satu demi satu oleh proyektil sihir dari kejauhan. Setiap kali sebuah makhluk hitam pecah di udara, tubuhnya berubah menjadi kepulan pekat sebelum menyebar rendah di atas tanah, bercampur dengan debu dan rerumputan yang tercabut.
Dalam beberapa saat, pandangan di sekitar pondok menjadi buram.
Lampu-lampu dari beranda hanya mampu menembus beberapa meter.
Bayangan para petarung berubah menjadi siluet yang bergerak cepat di dalam kepulan hitam.
Dan di tengah semua itu, Arcante tetap berdiri.
Tongkat panjangnya tertancap di tanah.
Jari-jari tangan kirinya bergerak membentuk pola yang semakin rumit.
Di bawah kakinya, garis-garis hitam mulai membentuk lingkaran mantra.
Ia tidak sedang menyerang.
Belum.
Ia sedang membangun sesuatu.
Sebuah matra panjang.
Sesuatu yang membutuhkan konsentrasi dan waktu.
Sesuatu yang tidak mungkin ia lepaskan sambil terus bergerak.
Di kejauhan, dari atas gundukan tanah kecil yang menghadap pekarangan, Dornhart memperhatikannya.
Jenderal itu tidak terburu-buru.
Ia hanya berdiri dengan pedang masih berada di tangan kanan.
Sesekali matanya berpindah dari Arcante ke Vrille.
Dari Vrille ke Kylia.
Lalu ke Arden.
Empat orang.
Satu penyihir.
Satu pengguna great-sword.
Dua pengguna arming-sword.
Melawan enam belas pasukan yang tidak mengenal lelah, ditambah dirinya sendiri.
Secara jumlah, pertarungan itu seharusnya sudah selesai.
Namun Dornhart tidak sedang menghitung jumlah korban.
Ia sedang membaca pola.
Dan akhirnya ia menemukannya.
"Pisahkan mereka."
Perintah itu terdengar pendek.
Namun enam belas pasukan iblis langsung bergerak.
Dua pengguna kapak besar bergerak ke sisi kanan.
Pengguna gada menekan Vrille dari depan.
Dua great-sword memotong jalur Kylia dan Arden.
Para assassin menghilang ke balik asap.
Sementara dua penyihir tetap berada jauh di belakang.
Dornhart mengangkat satu tangan.
"Jangan kejar mereka."
Para pasukan tidak berhenti.
Mereka hanya mengubah arah.
Arcante menyadarinya.
Tatapannya bergerak cepat.
Mereka tidak lagi berusaha menerobos pertahanan.
Mereka sedang membagi medan.
Memaksa mereka berempat saling menjauh.
"Vrille!"
"Aku tahu!"
Vrille mengangkat great-sword.
Sebuah gada raksasa menghantamnya dari depan.
Duum!
Ia menahan.
Kedua kakinya bergeser.
Tangan kanannya bergetar.
Pergelangan yang telah mengalami retak rambut sejak awal pertarungan kembali menerima beban yang sama.
Rasa nyeri menusuk hingga lengan.
Namun Vrille tidak mundur.
Ia menggeram dan mendorong balik.
Pengguna gada terdorong dua langkah.
Vrille mengangkat pedangnya.
Satu tebasan.
Musuh menghindar.
Tebasan kedua.
Armor bagian samping pecah.
Namun dari belakang, great-sword lain datang.
Vrille berbalik.
Terlambat.
Bilah itu hampir mengenai bahunya ketika sebuah makhluk bayangan menerjang dari samping dan menghantam lawan.
Vrille mengembuskan napas kasar.
"Masih hidup rupanya."
Makhluk itu tidak menjawab.
Ia tidak bisa.
Makhluk itu hanya menoleh tanpa wajah ke arah Vrille sebelum kembali menerjang.
Namun jumlah mereka semakin berkurang.
Satu demi satu makhluk bayangan hancur terkena proyektil.
Arcante mendengar suara ledakan dari kejauhan.
Bukan sekali.
Berkali-kali.
Whum!
Whum!
Whum!
Setiap proyektil sihir menembus asap dan menghancurkan satu makhluk.
Arcante tidak perlu melihat untuk mengetahui siapa yang melakukannya.
Penyihir musuh.
Ia masih berdiri di belakang garis depan.
Terus menembak.
Tidak perlu bergerak.
Tidak perlu mendekat.
Ia hanya perlu menghabiskan semua makhluk bayangan Arcante.
Dan perlahan, strategi itu berhasil.
Jumlah makhluk bayangan di pekarangan menurun drastis.
Arcante mengertakkan gigi.
Matra di bawah kakinya terus berkembang.
Ia tidak boleh membatalkannya.
Belum.
Jika ia memutus konsentrasi sekarang, semua tenaga yang sudah dikeluarkan akan sia-sia.
Di sisi lain, Kylia hampir tidak mampu berpikir sejernih sebelumnya.
Napasnya berat.
Telapak tangannya basah.
Pedang terasa semakin berat.
Namun ia tetap bergerak.
Arden berada beberapa meter di belakangnya.
Mereka sudah tidak lagi menggunakan pola serangan seperti pada awal pertempuran.
Terlalu banyak musuh.
Terlalu sedikit ruang.
Mereka hanya bergerak berdasarkan insting.
Kylia maju.
Arden menutup belakang.
Arden menyerang.
Kylia bergeser.
Satu musuh jatuh.
Yang lain masuk.
Mereka mundur.
Kemudian maju lagi.
Kylia mengayunkan pedangnya ke arah celah armor seorang prajurit.
Bilahnya masuk ke bawah tulang rusuk.
Ia menariknya dengan paksa.
Tubuh musuh jatuh.
Namun belum sempat ia menarik napas, bayangan hitam melintas di depan wajahnya.
Assassin.
Kylia menunduk.
Pisau lewat di atas kepalanya.
Arden datang dari samping.
Tebasan pendek.
Assassin mundur.
"Jangan jauh!"
"Aku di sini!"
Mereka kembali berdiri berdampingan.