Angin malam telah berubah.
Tidak lagi membawa bau rumput basah dan tanah yang baru terinjak, melainkan aroma logam, asap sihir, dan darah yang mengering di antara helaian rumput. Kabut tipis mulai turun dari arah pemukiman, terseret rendah oleh angin yang melewati tanah lapang di sekitar rumah pondok.
Tiga puluh lima menit.
Hanya tiga puluh lima menit sejak perintah pertama Dornhart menggema di balik bukit.
Namun pekarangan yang sebelumnya hanya berupa tanah lapang dan rerumputan kini telah berubah menjadi medan perang.
Beberapa bagian tanah terkelupas hingga menampakkan lapisan tanah keras di bawahnya. Lubang-lubang bekas ledakan sihir menganga seperti kawah kecil. Sisa-sisa makhluk bayangan Arcante telah menguap menjadi noda hitam yang menempel di tanah. Di beberapa tempat, darah membasahi rerumputan.
Dan jumlah musuh telah berkurang drastis.
Enam.
Mungkin lima.
Dalam gelap dan asap yang masih tersisa, sulit memastikan.
Tetapi bagi Dornhart, jumlah itu sudah cukup.
Ia berdiri beberapa puluh langkah dari pekarangan utama, memandangi medan di depannya dengan napas tenang. Tidak ada kepuasan di wajahnya. Tidak ada kegembiraan karena sebagian besar pasukannya telah tumbang.
Yang ada hanya perhitungan.
Lima atau enam pasukan.
Empat lawan.
Salah satu dari empat itu seorang penyihir yang sudah memuntahkan terlalu banyak energi.
Satu lagi pengguna great-sword tua yang kedua tangannya mulai kehilangan tenaga.
Seorang pengguna pedang muda yang kakinya terluka.
Dan seorang wanita manusia yang masih berdiri.
Dornhart mengangkat arming-sword-nya sedikit.
"Habisi mereka."
Dua pasukan iblis yang tersisa langsung bergerak.
Salah satunya membawa great-sword dengan bilah lebar yang sudah penuh goresan. Yang lain menggenggam kapak besar dengan kedua tangan.
Mereka tidak menjawab.
Tidak perlu.
Mata mereka tetap hitam.
Kosong.
Mereka tidak memiliki ketakutan tentang kemungkinan mati. Tidak memiliki pertimbangan mengenai luka. Tidak memiliki naluri untuk mundur.
Mereka hanya menerima perintah.
Dan melaksanakannya.
--o--
Vrille mendengar suara langkah mereka sebelum melihat keduanya.
Ia berdiri dengan napas berat di dekat sisi pekarangan, tubuhnya sedikit membungkuk. Great-sword yang sejak awal menjadi perpanjangan tubuhnya kini terasa seperti sebongkah besi yang terlalu berat untuk diangkat.
Kedua tangannya gemetar.
Bukan karena takut.
Karena otot dan persendiannya sudah mencapai batas.
Ia mengangkat senjatanya ketika iblis pengguna great-sword datang dari depan.
Terlambat.
Benturan pertama membuat tanah di bawah kaki Vrille retak tipis.
Vrille berhasil menahan.
Benturan kedua lebih berat.
Ketiga.
Lengannya bergetar hebat.
Lalu kapak besar datang dari sisi kanan.
Vrille memutar tubuh, menangkisnya dengan bagian belakang bilah.
Dentang logam mengguncang udara.
Rasa sakit menjalar dari pergelangan tangan sampai bahunya.
"Ugh—!"
Kakinya mundur setengah langkah.
Cukup.
Iblis pengguna great-sword mengayunkan senjatanya secara diagonal.
Vrille mencoba mengangkat senjatanya.
Tidak bergerak.
Great-sword itu terlepas dari genggamannya dan jatuh terdentang ke tanah.
Suara logamnya terdengar jauh lebih keras daripada seharusnya.
Vrille menatap senjata itu sesaat.
Kemudian ia menghela napas.
"Sudah sampai sini rupanya."
Iblis berkapak menerjang.
Vrille berguling ke samping.
Kapak menghantam tanah.
Ia segera mencabut belati pendek dari pinggangnya.
Sebuah senjata yang terasa hampir tidak masuk akal berada di tangan seorang pengguna great-sword.
Tetapi malam itu tidak lagi menyediakan pilihan ideal.
Vrille menyambar lengan iblis berkapak, memutar tubuhnya, lalu menusukkan belati ke celah antara pelindung lengan dan zirah dada.
Tidak ada jeritan.
Tidak ada reaksi.
Iblis itu hanya berbalik dan menghantamkan siku.
Vrille sempat mengangkat lengannya.
Buk!
Tubuhnya terpental.
Ia jatuh berguling di tanah.
"Brengsek..."
Ia bangkit lagi.
Dua pasukan iblis itu kembali maju.
Vrille tidak lagi memiliki great-sword.
Namun ia masih memiliki tubuh.
Dan selama tubuh itu masih bisa berdiri, ia belum selesai.
--o--
Beberapa meter dari sana, Arden berusaha mempertahankan posisinya.
Kaki kirinya yang terluka membuat gerakannya tidak lagi seimbang. Setiap kali ia memindahkan berat tubuh, rasa sakit menusuk dari paha sampai pinggang.
Tetapi ia tetap memegang pedangnya.
Darah telah mengering sebagian di sekitar luka.
Sebagian lainnya masih menetes.
Ia melirik Vrille.
Kemudian melihat dua iblis yang mendekatinya.
"Vrille!"
"Aku tahu!"
Vrille menjawab tanpa menoleh.
Arden mengatupkan giginya.
Mereka tidak perlu mengatakan lebih banyak.
Keduanya sudah terlalu lama bertarung bersama malam itu.
Mereka memahami satu sama lain melalui jarak langkah dan arah pandang.
Iblis berkapak mengangkat senjatanya.
Arden maju.
Ia tidak memiliki cukup tenaga untuk bertahan lama.
Maka ia tidak akan bertahan lama.
Ia memilih menyelesaikan setiap pertukaran secepat mungkin.
Pedangnya menyapu dari bawah.
Iblis itu menangkis.
Arden memutar pergelangan.
Bilahnya berubah arah.
Tebasan kedua menyentuh pelindung dada.
Tidak menembus.
Iblis itu mengayunkan kapak.
Arden mundur.
Kakinya yang terluka kehilangan pijakan.
Tubuhnya miring.
Kapak melintas hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.
Arden menghela napas pendek.
"Belum."
Ia memaksa tubuhnya kembali tegak.
Di sisi lain, Vrille sudah terdesak.
Dua veteran tua itu kini hanya bertahan dengan apa yang tersisa dari tubuh mereka.
Dan Dornhart memperhatikan semuanya.
Namun tatapannya tidak tertuju kepada mereka.
Ia justru mencari seseorang.
Kylia.
--o--
Kylia berdiri sendirian di tengah tanah lapang.
Arming-sword masih berada di tangan kanannya.
Napasnya berat.
Rambutnya melekat pada sisi wajah karena keringat. Napasnya keluar pendek-pendek, dan setiap kali ia menarik udara, dada terasa seperti dibebani batu.
Ia tahu apa yang terjadi.
Musuh sudah berkurang.
Namun justru sekarang bahaya terbesar datang.
Dornhart turun dari posisi pengamatannya.
Langkahnya tenang.
Tidak tergesa.
Tidak seperti para pasukan iblis yang menyerang tanpa memedulikan hidup mereka.
Ia berjalan seperti seseorang yang sudah tahu bahwa pertempuran akan berakhir sesuai kehendaknya.
Kylia mengangkat pedang.
Dornhart berhenti sekitar sepuluh langkah di depannya.
"Kau masih bisa berdiri."
Kylia tidak menjawab.
"Bagus."
Dornhart mengangkat arming-sword.
"Kita selesaikan sendiri."
Kylia mengatur napas.
Ia tahu siapa pria di hadapannya.
Jenderal senior Umbra Veil.
Veteran perang.
Bukan sekadar petarung yang memiliki pengalaman panjang, melainkan seseorang yang bertahun-tahun hidup di antara formasi perang, pengepungan, duel militer, dan medan yang dipenuhi mayat.
Kylia pernah bertarung melawan banyak orang.
Tetapi belum tentu pernah melawan seseorang seperti ini.
Namun ada satu hal yang Dornhart tidak tahu.
Kylia tidak pernah menjadi murid yang patuh terhadap bentuk.
Ia pernah menjadi murid yang membuat gurunya marah.
Bukan karena ia tidak mampu menguasai teknik.
Justru karena ia menguasainya terlalu baik, lalu mengubahnya ketika merasa bentuk tersebut tidak lagi berguna.
Dahulu, belasan tahun silam, gurunya pernah mengatakan bahwa seorang pendekar harus menghormati struktur.
Kylia menjawab dengan memenangkan sparing terakhir mereka.
Bukan dengan teknik yang lebih sempurna.
Melainkan dengan teknik yang tidak seharusnya ada.
Dornhart mengambil langkah pertama.
Kylia menunggu.
Langkah kedua.
Ketiga.
Kemudian—
Dornhart menerjang.
Tebasan lurus dari sisi kanan.
Kylia tidak menahannya.
Ia memiringkan pedang.
Bilah mereka bertemu pada sudut tajam.
Alih-alih menerima seluruh tekanan, Kylia menggeser pergelangan tangannya dan melangkah keluar dari garis serangan.
Pedang Dornhart meluncur melewati bahunya.
Kylia membalas.
Sabetan pendek menuju lengan.
Dornhart menarik siku.
Bilah Kylia hanya menggores pelindung lengannya.
Kling!
Mereka berpisah.
Dornhart menatap bekas goresan itu.
Kylia mengatur napas.
Tidak ada waktu untuk tersenyum.
Dornhart menyerang lagi.
Kali ini lebih cepat.
Tebasan dari atas.
Kylia memutar bahu, membiarkan bilah turun melewati sisi tubuhnya. Ia menggunakan momentum Dornhart untuk memutar arming-sword-nya kembali.