Angin malam berhenti sejenak.
Di atas tanah lapang yang telah berubah menjadi kubangan debu, darah, dan serpihan batu, tidak ada lagi suara yang benar-benar dapat disebut sebagai suara manusia. Yang tersisa hanyalah napas berat, bunyi logam yang bergesekan, serta erangan pendek dari tubuh-tubuh yang masih belum menyerah kepada kematian.
Kurang dari sepuluh menit.
Itulah waktu yang tersisa sebelum pasukan Kerajaan Solmaria yang menunggu di balik tembok terluar diperintahkan melakukan pemusnahan total.
Di kejauhan, samar-samar terdengar bunyi terompet dari balik tembok.
Satu kali.
Lalu diam.
Pesannya jelas.
Waktu mereka hampir habis.
Pekarangan pondok yang sebelumnya hanya berupa tanah lapang dengan rerumputan pendek kini nyaris tidak lagi menyerupai halaman rumah. Tanah terkelupas di berbagai tempat. Pagar kayu telah runtuh. Sebagian dinding batu pecah akibat rentetan sihir Arcante. Bekas cakaran makhluk bayangan membelah tanah seperti parit dangkal.
Dan di antara semua kehancuran itu, lima sosok masih berdiri.
Tidak semuanya benar-benar mampu berdiri dengan baik.
Arcante bersandar pada salah satu tiang beranda. Wajahnya pucat. Darah kering masih mengotori sudut bibirnya setelah backlash ritual panjang yang dipaksanya hentikan ketika Arden terluka. Tongkat panjang yang selama puluhan tahun disembunyikannya kini tergeletak di dekat kakinya.
Vrille berada beberapa meter di depan, dengan kedua tangan yang terus gemetar.
Great-sword miliknya tergeletak di tanah.
Arden merangkak dengan satu lutut, paha kirinya membengkak dan menghitam akibat racun yang telah menyebar melalui luka tusuk. Kylia berdiri tidak jauh darinya dengan satu tangan menggenggam arming-sword.
Tangan kanan.
Tangan yang bahunya baru saja disayat Dornhart.
Dan di tengah tanah lapang itu, berdiri seorang pria yang masih terlihat seolah belum kehabisan apa pun.
Jenderal Dornhart.
Zirahnya penuh goresan.
Pelindung lengan kirinya robek.
Beberapa bagian jubah militernya telah terbakar.
Namun langkahnya masih kokoh.
Pedangnya masih terangkat.
Mata tuanya masih jernih.
Tidak ada keraguan di dalamnya.
Tidak ada rasa takut.
Hanya satu hal.
Keyakinan bahwa ia akan menyelesaikan tugas.
--o--
Dornhart mengembuskan napas melalui hidung.
Ia memandang Kylia.
Wanita itu masih berdiri.
Aneh.
Dalam perhitungan militernya, seharusnya dia sudah jatuh sejak beberapa menit lalu.
Namun Kylia masih menggenggam pedang.
Meski bahu kanannya rusak.
Meski napasnya tersengal.
Meski darah menetes dari ujung jarinya.
Itu bukan ketahanan fisik semata.
Dornhart mengenali tatapan itu.
Tatapan seseorang yang tidak lagi memikirkan apakah dirinya mampu menang.
Hanya memikirkan bagaimana caranya tidak mati sebelum orang lain selamat.
"Masih berdiri?" tanya Dornhart.
Kylia tidak menjawab.
Ia hanya menggeser kaki kirinya sedikit ke belakang.
Dornhart menyipitkan mata.
Posisi kuda-kuda itu berbeda.
Tidak lagi seperti sebelumnya.
Bahu kanan Kylia terlalu rendah. Tangannya pun tidak lagi mampu mengangkat pedang dengan baik. Namun pedang itu masih berada di depan tubuhnya.
Dornhart memutar pergelangan tangan.
"Sayang sekali."
Suaranya datar.
"Kau sebenarnya pendekar yang bagus."
Kylia tersenyum tipis.
"Kalau begitu..."
Ia menarik napas.
"...jangan terlalu cepat senang."
Dornhart tidak menjawab.
Ia mengangkat arming-sword-nya tinggi-tinggi.
Posisinya berubah.
Satu kaki di belakang.
Tubuh sedikit menyamping.
Bilah pedang berada di atas garis kepala.
Itulah kuda-kuda eksekusi klasik militer Umbra Veil.
Teknik yang sederhana.
Tidak indah.
Tidak membutuhkan gerakan berlebihan.
Tetapi seluruh berat tubuh, kekuatan pinggang, bahu, dan momentum langkah disatukan ke dalam satu ayunan vertikal.
Satu tebasan.
Satu kematian.
Dornhart sudah menggunakan teknik itu berkali-kali di medan perang.
Terhadap prajurit.
Terhadap penyihir.
Terhadap pengkhianat.
Dan malam ini, ia akan menggunakannya terhadap Kylia.
"Kau selesai."
Pedang itu mulai turun.
Tetapi sesuatu bergerak dari bawah.
Dornhart hanya sempat mendengar suara gesekan rumput.
Kemudian—
BRUK!
Sebuah tubuh menghantam kedua kakinya.
Arden.
Dengan wajah pucat dan napas tersengal, pria itu menerjang dari tanah.
Ia tidak berdiri.
Tidak mampu berdiri.
Ia merangkak.
Menyeret paha kirinya yang sudah hampir kehilangan fungsi.
Namun ketika Dornhart hendak melakukan eksekusi, Arden menggunakan kedua lengannya untuk memeluk erat kedua kaki sang jenderal.
Tubuh mereka jatuh bersama.
Pedang Dornhart menghantam tanah.
CLANG!
"Bergerak!" teriak Arden.
Kylia tersentak.
Dornhart menggeram.
"Pengkhianat!"
Ia berusaha menarik kakinya.
Arden mengunci lebih erat.
"Kau..." Arden terengah. "Terlalu... sibuk dengan doktrinmu..."
Dornhart menghantamkan siku ke punggung Arden.
Sekali.
Dua kali.
Arden meringis.
Namun tidak melepaskan.
Darah dari pahanya membasahi rumput.
"Jangan..." desis Arden. "Jangan beri dia ruang!"
Kylia menatap mereka.
Kemudian menatap Arcante.
Penyihir tua itu sudah mengangkat kepalanya.
Tatapan senja miliknya bertemu dengan mata Kylia.
Mereka tidak perlu bicara.
Arcante tahu.
Kylia juga tahu.
Ini mungkin kesempatan terakhir.
Arcante meraba tanah dengan tangan kirinya.
Jari-jarinya menyentuh debu.
Tidak banyak mana yang tersisa.
Hampir tidak ada.
Tetapi masih ada sedikit.
Sedikit sekali.
Cukup untuk satu hal.
Arcante menatap dinding batu pekarangan yang tersisa di sisi kanan.
Dinding itu sudah retak.
Tidak kokoh.
Namun masih berdiri.
Ia mengangkat telapak tangannya.
Kylia langsung menyadari maksudnya.
"Arcante—"
"Jangan lihat aku."
Suara Arcante serak.
"Lihat dia."
Kylia berbalik.
Dornhart sedang berusaha melepaskan diri.
Arden masih mengunci kakinya.
Tetapi tubuh Arden mulai gemetar.
Dornhart terlalu kuat.
Dalam beberapa detik, penguncian itu akan terlepas.
Kylia menggenggam pedangnya lebih erat.
Arcante menarik napas.
Kemudian—
"Pergilah."
Telapak tangannya terbuka.
Ledakan pertama menghantam dinding.
BOOM!
Batu pecah.
Debu berhamburan.
Ledakan kedua menyusul.
BRAK!
Sisa dinding runtuh seluruhnya.
Tanah yang menopangnya ikut terangkat.
Gelombang debu menyapu pekarangan.
Dalam hitungan detik, seluruh area berubah menjadi putih kecokelatan.
Tidak ada lagi jarak pandang.
Tidak ada lagi garis depan.
Tidak ada lagi bentuk yang jelas.
Hanya suara.
Batuk.
Langkah.
Logam.
Napas.
Dan teriakan yang terputus.
--o--
Dornhart langsung mengambil posisi bertahan.
Refleks.
Tubuhnya merendah.
Pedangnya ditarik ke depan dada.
Kaki kirinya mundur.
Bilah mengarah ke luar.
Ia tidak panik.
Itulah perbedaan seorang veteran.
Ketika dunia menjadi tidak terlihat, tubuhnya bergerak berdasarkan puluhan tahun latihan.
Dengarkan.
Rasakan.
Jangan bergerak sebelum tahu posisi lawan.
Dornhart menahan napas.
Arden sudah terlepas.
Ia tidak tahu ke mana pria itu pergi.
Tidak penting.
Kylia adalah ancaman utama.
Dornhart menunggu.
Satu suara terdengar dari kiri.
Langkah ringan.
Ia berputar.
Tidak ada apa-apa.
Kemudian dari kanan.
Langkah lain.
Dornhart kembali menggeser pedangnya.
"Keluar."
Tidak ada jawaban.
Debu masuk ke matanya.
Ia memejamkan sebelah mata.
Menunggu.
Ia tahu bagaimana menghadapi lawan yang mengandalkan kecepatan.
Ia tahu bagaimana menghadapi pendekar yang panik.
Ia tahu bagaimana menghadapi penyihir yang kehilangan jarak pandang.
Dan ia tahu bahwa dalam kondisi seperti ini, pendekar ortodoks akan selalu memilih satu hal.
Mempertahankan pusat tubuh.
Melindungi organ vital.
Menunggu lawan melakukan kesalahan.
Dornhart berdiri tegak.
Ia percaya pada doktrin itu.
Selama puluhan tahun, doktrin itu tidak pernah mengkhianatinya.
Namun ada satu hal yang tidak diperhitungkannya.
Lawan yang sedang dihadapinya tidak bertarung seperti yang diajarkan doktrin.
Kylia tidak lagi memiliki bahu kanan yang bisa digunakan dengan baik.
Ia tidak lagi memiliki stamina.
Tidak lagi memiliki ruang untuk melakukan gerakan kavaleri dengan sempurna.
Dan karena itu, ia melakukan sesuatu yang bahkan mungkin akan dianggap bodoh oleh seorang instruktur akademi.
Ia memindahkan pedangnya.
Dari tangan kanan.
Ke tangan kiri.
Gerakannya lambat.
Sakit.
Nyaris membuatnya menjatuhkan bilah.
Namun setelah pedang berpindah tangan, Kylia menekuk tubuhnya.
Ia tidak berjalan.
Ia merangkak satu langkah.
Kemudian dua.
Debu menutupi rambut dan wajahnya.
Darah dari bahu kanannya menetes ke tanah.
Tetapi matanya tetap terbuka.
Dalam ingatannya, sebuah lapangan latihan muncul.
Kael berdiri di depannya dengan pedang kayu.
"Kalau tangan kananmu tidak bisa dipakai?"
Kylia muda menjawab tanpa berpikir.
"Ya bertarung dengan kiri."
Kael tertawa.
"Itu jawaban orang keras kepala."
"Kau sendiri yang mengajariku improvisasi."
"Aku mengajarimu bertahan."
"Bedanya tipis."
"Bedanya sangat jauh."
Kylia tersenyum kecil di balik debu.
Kael.
Ia bahkan tidak tahu apakah pria itu masih hidup setelah semua kekacauan malam ini.
Tetapi kalau Kael masih hidup...
Ia tidak boleh mati di sini.
Kylia membuka mata sepenuhnya.
Dornhart masih berada di depan.