Veilbound: Beyond the Ashen Border

Diva Amane
Chapter #44

Kunjungan ke Valadia

Pagi belum sepenuhnya menghangatkan batu-batu tua Kota Valadia ketika kabut tipis masih menggantung di antara menara-menara bangunan pemerintahan dan atap-atap rumah bangsawan. Dari kejauhan, lonceng kuil Helia berdentang pelan, menyebarkan gema ke seluruh ibu kota Kerajaan Solmaria. Cahaya matahari menimpa kubah-kubah putih dan dinding batu keemasan, membuat kota itu tampak hampir suci.

Hampir.

Karena di salah satu bagian kota, di balik tembok rumah sakit terbesar milik kerajaan, bau obat, darah, ramuan penyembuh, dan daging yang terbakar oleh sihir memenuhi lorong-lorong panjang.

Empat orang yang dibawa dari kota terluar beberapa hari sebelumnya masih belum diperbolehkan meninggalkan tempat itu.

Kylia adalah salah satunya.

Ia terbaring di sebuah kamar perawatan yang jendelanya menghadap ke sisi timur Valadia. Bahu kanannya dibalut begitu tebal hingga sebagian besar tubuh bagian atasnya terasa kaku. Paha kirinya juga dibalut dari pangkal hingga mendekati lutut akibat luka tusukan yang meninggalkan racun di jaringan ototnya.

Tetapi bukan rasa sakit itu yang membuatnya kesal.

Sudah beberapa hari ia memikirkan satu hal.

Dan pagi itu, akhirnya orang yang ingin ia tanyai datang.

Pintu kamar terbuka perlahan.

Kael muncul di ambangnya.

Wajahnya masih pucat.

Langkahnya juga belum sepenuhnya stabil. Ia mengenakan pakaian sederhana milik rumah sakit, dengan kain luar berwarna kelabu yang menggantung longgar di bahunya. Seorang petugas medis sebelumnya telah mengatakan bahwa ia sudah cukup pulih untuk berjalan sebentar, tetapi tetap tidak boleh memaksakan diri.

Kael mengabaikan sebagian besar nasihat itu.

Tatapannya langsung menemukan Kylia.

"Selamat pagi."

Kylia menoleh.

Tidak menjawab.

Kael berhenti.

Ada sesuatu dalam tatapan Kylia yang membuat langkahnya tertahan di ambang pintu.

"Kylia?"

"Masuk."

Nada suaranya datar.

Kael menurut.

Ia menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan mendekati tempat tidur. Untuk beberapa detik, tidak ada suara selain bunyi langkah perawat di lorong luar dan desis kecil dari alat pemanas ramuan di sudut kamar.

Kael menarik kursi.

Ia duduk.

Kylia tetap menatapnya.

"Kenapa?"

Kael mengernyit.

"Kenapa apa?"

"Kau tidak memberitahuku."

Keheningan jatuh.

Kael mengerti.

Tetapi ia tidak langsung menjawab.

Kylia menggeser sedikit tubuhnya. Gerakan sederhana itu membuat bahu kanannya berdenyut. Ia meringis, lalu memaksa wajahnya kembali tenang.

"Kael."

"Ya."

"Kau tahu apa yang akan terjadi."

Kael menundukkan pandangan.

"Kau tahu manamu habis."

"Aku tahu."

"Kau tahu konsekuensinya."

Kael diam.

Kylia tertawa pendek tanpa humor.

"Itu yang membuatku marah."

Kael mengangkat wajah.

"Aku hampir kehilanganmu tanpa tahu apa-apa."

"Aku minta maaf."

"Jangan sekadar minta maaf."

Suara Kylia meninggi.

Kemudian ia terdiam sendiri karena bahunya kembali terasa sakit.

Napasnya tertahan.

Kael spontan berdiri.

"Jangan bergerak terlalu banyak."

Kylia meliriknya tajam.

"Kau masih sempat mengaturku?"

"Aku hanya—"

"Kau hampir mati."

Kael terdiam.

Kalimat itu keluar begitu sederhana.

Justru karena itu, ia terasa lebih berat.

Kylia menatap wajahnya lama.

"Ketika menemukanmu, kau bahkan tidak bisa berdiri. Aku tidak tahu apakah kau akan bangun lagi. Aku tidak tahu apakah manamu benar-benar habis. Aku tidak tahu apakah tubuhmu akan berhenti bekerja beberapa jam kemudian."

Tangannya mengepal di atas selimut.

"Dan kau tidak pernah mengatakan bahwa itu bisa terjadi."

Kael menarik napas panjang.

Ia kemudian kembali duduk.

"Karena aku tidak ingin kau takut."

"Jadi kau memilih membuatku bodoh?"

Kael tidak menjawab.

Kylia menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya memalingkan wajah ke jendela.

Di luar, Valadia mulai hidup.

Kereta-kereta pengangkut melintas di jalan batu. Pedagang membuka kios. Prajurit kerajaan berpatroli di persimpangan. Dari kejauhan, spanduk Festival Persembahan Matahari berkibar di antara gedung-gedung.

Kota itu terlihat normal.

Seolah tidak pernah ada enam belas pasukan iblis yang mati di tanah lapang.

Seolah seorang jenderal Umbra Veil tidak pernah tumbang di depan sebuah pondok tua.

Seolah tidak ada empat orang yang hampir kehilangan nyawa hanya untuk mempertahankan satu rumah.

"Aku sudah tahu manaku hampir habis sebelum semuanya selesai," kata Kael akhirnya.

Kylia menoleh.

Kael menatap tangannya sendiri.

"Dalam pertempuran sebelumnya."

"Ketika kita melawan lima dari mereka?"

Kael mengangguk.

"Aku sudah memperkirakan cadangannya tidak cukup."

"Kenapa kau terus bertarung?"

"Karena tidak punya pilihan."

Kylia menatapnya.

Kael melanjutkan dengan suara lebih rendah.

Lihat selengkapnya