Sore turun perlahan di atas Telmora.
Cahaya matahari yang mulai condong menembus sela-sela bangunan batu, memantulkan warna keemasan pada jalan-jalan yang beberapa hari lalu masih dipenuhi suara alarm dan derap pasukan. Kini kota itu kembali bergerak seperti biasa. Pedagang membuka kembali kios mereka. Kereta pengangkut melintas di jalan utama. Anak-anak berlarian di antara rumah-rumah, sementara dari kejauhan terdengar lonceng kuil Helia yang menandai pergantian waktu.
Telmora tampak hidup.
Namun bagi mereka yang baru saja meninggalkan rumah sakit Valadia, dunia terasa sedikit berbeda.
Kylia berjalan perlahan di sisi Kael.
Langkahnya belum benar-benar bebas. Bahu kanannya masih dibalut dan setiap gerakan tertentu menghasilkan nyeri tumpul yang menjalar sampai ke punggung. Tetapi dibandingkan beberapa hari sebelumnya, ketika ia bahkan harus berbaring tanpa banyak bergerak, berjalan di bawah matahari seperti ini sudah terasa hampir seperti hadiah.
Kael juga belum sepenuhnya pulih.
Sesekali tangan kirinya naik menyentuh lengan yang pernah mengalami kerusakan akibat kehabisan mana. Isolde sudah membantu memulihkan jaringan yang paling parah, tetapi rasa kebas masih tertinggal di sana.
Kylia memperhatikannya.
"Kebas lagi?"
Kael menggerakkan lengannya sedikit.
"Sedikit."
"Sedikit menurutmu atau sedikit menurut tabib?"
Kael berpikir sejenak.
"Menurutku."
Kylia mendengus.
"Itu berarti parah."
Kael tertawa.
Kylia langsung menatapnya.
"Kenapa tertawa?"
"Karena kau masih seperti dulu."
"Aku sedang serius."
"Aku tahu."
"Kael."
"Ya?"
"Kau hampir mati."
Kael berhenti tertawa.
Kylia menarik napas.
Ia menggunakan tangan kirinya untuk meraih lengan Kael. Sentuhannya hati-hati. Jemarinya menyusuri bagian luar lengan itu, kemudian menekan sedikit di beberapa titik.
"Masih terasa?"
Kael menggeleng.
"Yang ini tidak."
Kylia berpindah sedikit.
"Kalau ini?"
"Lebih baik."
Ia menekan lagi.
"Ini?"
"Masih kebas."
Kylia menghela napas.
"Isolde bilang butuh waktu."
"Ya."
"Dan kau harus banyak istirahat."
"Ya."
"Jangan memaksakan mana."
"Ya."
"Jangan ikut pekerjaan berat."
Kael menoleh.
"Yang terakhir agak sulit."
Kylia langsung melepaskan lengannya.
"Kalau begitu kau tidak usah pulang bersamaku."
Kael kembali tertawa.
"Kau marah?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena kau tertawa."
"Kalau aku tidak tertawa, kau tetap marah."
"Itu berbeda."
"Bagaimana?"
"Kalau kau tidak tertawa, setidaknya aku bisa berpura-pura kau mulai belajar."
Kael menggeleng sambil tersenyum.
Kylia memalingkan wajah.
Namun sudut bibirnya sendiri bergerak sedikit.
Ia tidak bisa benar-benar marah kepadanya.
Tidak setelah melihat tubuh Kael tergeletak di tanah beberapa malam lalu.
Tidak setelah merasakan sendiri bagaimana dinginnya tangan orang yang ia kira mungkin tidak akan pernah bangun lagi.
Ia masih ingat pemandangan itu.
Dan justru karena itulah, setiap kali Kael menyentuh lengannya sendiri, perhatian Kylia selalu kembali kepadanya.
"Kael."
"Hm?"
"Kalau terasa semakin mati rasa, bilang."
"Baik."
"Jangan tunggu sampai parah."
"Baik."
"Dan jangan tersenyum."
Kael menoleh.
"Itu juga perintah?"
"Ya."
Kael tersenyum lebih lebar.
Kylia mendecakkan lidah.
"Kau benar-benar menyebalkan."
Mereka kembali berjalan.
Di belakang keduanya, Sariel dan Arden menyusul dengan jarak beberapa langkah.
Arden berjalan menggunakan tongkat bantu. Paha kirinya masih belum pulih sepenuhnya setelah terkena luka beracun malam itu. Setiap kali ia menumpukan berat badan terlalu lama pada kaki tersebut, ototnya terasa kaku dan nyeri.
Tetapi ia tidak mengeluh.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia bisa berjalan keluar tanpa bau ramuan rumah sakit memenuhi hidungnya.
Udara Telmora terasa berbeda.
Tidak ada dinding kamar.
Tidak ada ranjang.
Tidak ada tabib yang terus memperingatkan mereka agar tidak bergerak.
Hanya jalan.
Hanya langit.
Hanya kebebasan sederhana yang sebelumnya begitu mudah dianggap remeh.
Sariel berjalan di sampingnya.
"Kau senang?"
Arden memandang jalan di depan.
"Ya."
"Kelihatannya tidak."
"Aku sedang menggunakan tongkat."
Sariel tersenyum tipis.
"Itu bukan alasan untuk tidak terlihat senang."
Arden menatapnya.
"Kalau begitu aku akan mencoba."
Ia menarik napas.
Kemudian tersenyum.
Sariel ikut tersenyum.
"Lebih baik."
Mereka terus berjalan.
Telmora perlahan membuka kembali wajah lamanya.
Beberapa rumah masih memiliki bekas kerusakan kecil akibat kepanikan malam itu, tetapi sebagian besar jalan sudah dibersihkan. Pemerintah Solmaria bekerja cepat. Tidak ada bekas pertempuran besar yang dibiarkan terlalu lama terlihat.
Bahkan pekarangan pondok mereka telah dibersihkan.
Seolah-olah kerajaan ingin memastikan bahwa malam itu tidak pernah terjadi.
Namun ada satu hal yang tidak bisa dibersihkan dari ingatan mereka.
Dornhart.
Dan enam belas pasukan iblis yang datang bersamanya.
Kylia tidak membicarakannya.