Langit malam di wilayah iblis dipenuhi oleh bayangan kelam awan yang bergerak lambat, seolah hidup. Cahaya redup dari dua bulan kembar yang menggantung di atas cakrawala memberikan sedikit penerangan di antara kabut tebal.
Kael berdiri di depan gerbang utara guild yang mengarah langsung ke bangunan arsip, tubuhnya tertutupi mantel hitam yang nyaris menyatu dengan kegelapan di sekitarnya.
Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang berdebar kencang. Malam ini, ia berencana melanggar salah satu aturan tertinggi guild, yaitu menyusup ke ruang arsip.
"Ini mungkin akhir karierku," gumamnya sambil melirik ke arah penjaga yang berdiri di depan gerbang. Mata merah penjaga itu bersinar samar di bawah cahaya bulan, tampak tidak acuh tetapi tetap waspada.
Kael memanfaatkan sela waktu ketika penjaga berbalik. Dengan lompatan ringan yang tidak menghasilkan suara sedikit pun, ia menyelinap ke sisi gerbang.
Sebuah celah kecil di dinding memungkinkan tubuh rampingnya menyusup tanpa terdeteksi. Ia telah memetakan jalur ini selama berminggu-minggu, mempelajari pola penjagaan, dan menghafal setiap sudut gedung.
Setelah berhasil masuk ke halaman guild, Kael merapatkan diri ke dinding batu yang dingin.
"Langkah pertama berhasil," pikirnya. Namun, perjalanan ke ruang arsip masih panjang. Ia harus melewati beberapa lapis penjagaan dan, yang lebih sulit, segel bayangan yang melindungi arsip.
Di koridor panjang yang berliku, Kael bergerak dengan kecepatan hantu. Sepatu botnya dilapisi bahan khusus yang meredam suara. Setiap langkah direncanakan dengan hati-hati untuk menghindari bunyi yang bisa memancing penjaga.
Ia berhenti di tikungan, menatap sebuah pintu besar yang diukir dengan simbol-simbol magis. Pintu itu adalah penghalang terakhir sebelum ruang arsip.
Kael menyentuh ukiran di pintu itu dengan tangan bersarungnya. Simbol-simbol itu bersinar lembut, merespons kehadiran bayangannya. "Luxethra: Vorvyn Exiris," pikirnya. Segel ini hanya bisa dibuka oleh anggota yang masih memiliki kontrak aktif dengan guild ini. Beruntung, Kael masih memiliki kontraknya, meskipun hatinya mulai ragu akan kesetiaan kepada organisasi ini.
Dengan satu gerakan cepat, ia melafalkan mantra pendek. Segel itu menyala terang sesaat sebelum padam, membuka pintu tanpa suara. Aroma kertas tua dan lilin yang terbakar memenuhi udara di dalam ruang arsip. Rak-rak tinggi menjulang hingga ke langit-langit, dipenuhi gulungan dan buku-buku tebal. Kael mengarahkan pandangannya ke bagian tengah ruangan, tempat dokumen terkait reaktor mana disimpan.
"Fokus," bisiknya kepada dirinya sendiri. Ia tahu waktu tidak berpihak padanya. Para penjaga melakukan patroli setiap tiga puluh menit, dan ia hanya punya waktu untuk mengambil dokumen-dokumen penting sebelum mereka kembali.
Kael menemukan tumpukan gulungan yang diikat dengan tali merah tua, tanda bahwa dokumen ini berkaitan dengan operasi energi mana. Ia membuka salah satu gulungan, matanya dengan cepat membaca simbol dan diagram yang tertera di atasnya.
"Ini dia," gumamnya, menemukan informasi tentang lonjakan aktivitas misterius di reaktor utama guild. Dokumen itu menunjukkan bahwa reaktor telah menyerap lebih banyak energi daripada biasanya, tetapi belum menemukan catatan jelas tentang alasan di balik anomali tersebut.
Tiba-tiba, suara langkah kaki bergema di koridor luar. Kael merasakan darahnya membeku. "Penjaga kembali lebih cepat dari yang aku perkirakan," pikirnya. Dengan cepat, ia menyembunyikan gulungan di balik mantel dan berlari ke arah rak di sisi ruangan. Ia menemukan celah sempit di antara dua rak, cukup untuk menyembunyikan tubuhnya.
Pintu ruang arsip terbuka, dan seorang pengawas guild masuk. Wajahnya yang pucat diterangi oleh lampu sihir yang ia bawa. Mata merahnya menyapu ruangan, mencari tanda-tanda gangguan. "Aneh," gumam pengawas itu. "Aku merasa ada sesuatu yang berbeda di sini."
Kael menahan napas, tubuhnya kaku di tempat persembunyiannya. Jantungnya berdebar begitu keras hingga ia merasa pengawas bisa mendengarnya. Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, pengawas itu akhirnya keluar dari ruangan, menutup pintu di belakangnya.
Kael keluar dari persembunyiannya dengan napas tertahan. Ia tahu ini hanya awal dari perjalanan panjang. Dengan dokumen di tangannya, ia meninggalkan ruang arsip, membawa serta keraguan yang semakin tumbuh di hatinya. Apa yang sebenarnya direncanakan oleh guild tempat dia mengabdi? Dan apakah ia bersedia untuk tetap menjadi bagian dari organisasi ini?
Di bawah langit malam Umbra Veil, Kael melangkah keluar dari guild dengan satu keputusan di pikirannya. "Aku harus mencari tahu kebenarannya, meskipun pada akhirnya itu berarti melawan mereka."
Ruangan arsip guild Abbysal Sovereign dipenuhi keheningan yang mengancam. Rak-rak menjulang tinggi, dipenuhi gulungan dan buku-buku tebal yang tampaknya sudah lama tidak tersentuh. Kael bergerak perlahan, matanya dengan cepat memindai setiap label di gulungan yang tersusun rapi. Cahaya redup dari lampu kristal magis yang ia bawa menciptakan bayangan bergerak di dinding, membuat suasana semakin mencekam.