Veilbound - Beyond the Ashen Border

Diva Amane
Chapter #2

Kekuasaan Kegelapan

Langit malam di ibu kota Umbra Veil tampak bersinar dengan lampu-lampu magis yang berjajar di sepanjang jalan utama. Namun, di bawah gemerlap itu, dunia lain tersembunyi di balik pintu-pintu rahasia dan lorong-lorong bawah tanah. Dunia yang hanya diketahui oleh segelintir orang—dan itulah tempat tujuan Kylia malam ini.

Mantel hitam panjang membungkus tubuhnya, menyembunyikan ciri khas yang bisa mengungkapkan identitasnya sebagai mantan prajurit elit kerajaan. Wajahnya tertutup oleh tudung, hanya menyisakan mata biru tajam yang mengawasi setiap sudut dengan kewaspadaan tinggi. Ia menyusuri lorong sempit yang berbau lembap, dindingnya dihiasi lumut dan bercak darah yang sudah mengering.

Di ujung lorong, sebuah pintu besi besar berdiri kokoh. Dua penjaga manusia dengan baju zirah ringan berdiri di depan pintu, memegang tombak dengan ekspresi wajah dingin.

“Apa yang kau bawa malam ini?” salah satu penjaga bertanya dengan nada mencurigakan.

Kylia mengangkat kantong kecil yang ia bawa, memperlihatkan beberapa koin emas di dalamnya. “Aku hanya pedagang kecil yang ingin mencari barang baru untuk dijual,” jawabnya dengan suara datar.

Penjaga itu memindai Kylia dari atas ke bawah. Setelah beberapa saat, ia mengangguk dan mengetuk pintu besi dengan pola tertentu. Pintu itu berderit terbuka, memperlihatkan sebuah ruangan luas yang dipenuhi hiruk-pikuk aktivitas gelap.

Pasar gelap di bawah tanah ibu kota adalah tempat di mana moralitas menjadi barang yang tidak berharga. Suara tawa dan negosiasi memenuhi udara, bercampur dengan aroma lilin, logam, dan darah segar. Meja-meja kayu kasar berjajar rapi, menampilkan barang-barang mulai dari senjata magis hingga kontrak bayangan yang sudah jadi.

Namun, yang paling membuat Kylia muak adalah pemandangan di sudut pasar. Iblis-iblis dengan rantai di leher mereka berdiri diam di balik kandang besi. Mata mereka yang kosong mencerminkan kehancuran jiwa mereka, hasil dari kontrak yang memaksa mereka tunduk pada manusia. Beberapa pedagang tertawa sambil menawarkan harga, seolah-olah iblis itu tidak lebih dari barang dagangan.

Kylia menggenggam erat kantong koinnya, berusaha menahan amarah yang membara di dadanya. “Inilah wajah asli kerajaan yang dulu kulindungi,” pikirnya dengan getir.

Ia melangkah mendekati salah satu meja di tengah pasar, di mana seorang pedagang paruh baya sedang memamerkan gulungan kontrak dengan segel kerajaan.

“Ini asli,” kata pedagang itu dengan suara bangga kepada pembeli potensial. “Kontrak ini akan memberimu kendali penuh atas iblis kelas menengah. Dengan ini, kau bisa memenangkan perang atau menguasai pemberontakan tanpa perlu mengotori tanganmu.”

Kylia menahan diri untuk tidak langsung menyerang pria itu. Ia butuh bukti konkret, sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membongkar sistem ini.

“Berapa harga kontrak itu?” tanya Kylia, suaranya dipaksakan agar terdengar tenang.

Pedagang itu menoleh ke arahnya, menatapnya dengan curiga sebelum akhirnya tersenyum. “Ah, seorang pembeli baru? Harga kontrak ini adalah seribu koin emas. Harga yang pantas untuk kekuatan sebesar ini, bukan?”

Kylia mengangguk pelan. Ia mengamati setiap detail kontrak itu — simbol kerajaan di sudut kanan bawah, segel bayangan yang memastikan kesahihan kontrak, dan nama-nama iblis yang terikat di dalamnya.

Lihat selengkapnya