Langit siang di perbatasan antara wilayah manusia dan iblis tampak suram, meskipun matahari bersinar terang. Kabut gelap melayang di antara reruntuhan kota yang telah lama ditinggalkan, menciptakan suasana yang menekan.
Kael berdiri di atas tumpukan batu besar, napasnya berat setelah perjalanan panjang yang ia tempuh dari wilayah iblis untuk menenangkan diri.
"Jadi ini perbatasan," gumamnya, suaranya hampir tenggelam oleh desiran angin kencang yang membawa aroma logam dan abu.
Di depannya, sisa-sisa bangunan yang hancur berdiri seperti bayangan masa lalu. Kael bisa merasakan energi bayangan yang melingkupi tempat ini, begitu tebal hingga seolah menggantung di udara.
Namun, sesuatu yang lain menarik perhatiannya—aura gelap yang bergerak cepat, bergolak di kejauhan.
Kael mengerutkan kening. "Bayangan liar? Di siang hari?" pikirnya, rasa penasaran bercampur dengan kehati-hatian. Ia memutuskan untuk mendekat, tetapi tetap menjaga jarak aman.
Dari posisinya di atas reruntuhan, Kael dapat melihat dengan jelas sumber kegaduhan itu. Seorang perempuan berambut panjang berwarna cokelat gelap sedang bertarung melawan tiga makhluk bayangan besar. Tubuh makhluk-makhluk itu tampak seperti kabut yang padat, bergerak dengan kecepatan luar biasa, menciptakan suara mendesis setiap kali mereka menyerang. Perempuan itu memegang pedang panjang yang bersinar samar dengan cahaya magis. Setiap ayunan pedangnya memotong bayangan, tetapi makhluk itu kembali menyatu dengan cepat, seolah-olah serangannya tidak cukup untuk menghancurkan mereka sepenuhnya.
Kael berjongkok, matanya memperhatikan dengan saksama. "Dia terlatih," pikirnya. Gerakan perempuan itu cepat dan presisi, menunjukkan pengalaman bertarung yang tidak sedikit. Namun, ia juga bisa melihat tanda-tanda kelelahan pada tubuhnya. Nafasnya terengah-engah, dan goresan di lengan kirinya menunjukkan bahwa ia sudah menerima lebih banyak serangan daripada yang bisa ia tangani.
Makhluk bayangan itu mengerang, suara mereka seperti paduan jeritan manusia dan gemuruh petir. Salah satu dari mereka meluncur maju, menyerang dengan cakar hitam yang besar. Perempuan itu menghindar ke samping, tetapi serangan itu masih cukup dekat untuk merobek mantel luarnya.
Kael mengepalkan tangan. Ia tahu betul apa yang sedang dihadapi perempuan itu. Bayangan liar bukanlah musuh biasa; mereka adalah sisa-sisa energi bayangan yang kehilangan kendali, menjadi predator tanpa rasa takut atau lelah. Melawan mereka membutuhkan kekuatan dan strategi yang tidak dimiliki kebanyakan manusia.
"Dia tidak akan bertahan lama jika ini terus berlanjut," pikir Kael. Tetapi sesuatu menahannya untuk turun dan membantu. Mungkin itu rasa curiga, atau mungkin hanya karena ia belum yakin bahwa ini adalah pertarungan yang harus ia masuki.
Perempuan itu mengayunkan pedangnya lagi, kali ini mengenai salah satu makhluk bayangan tepat di pusat tubuhnya. Bayangan itu meledak menjadi kabut gelap, tetapi dua makhluk lainnya segera menyerang bersamaan. Perempuan itu mengangkat pedangnya untuk menangkis, tetapi kekuatan gabungan serangan itu membuatnya terlempar ke belakang.
Kael melihat perempuan itu jatuh ke tanah, pedangnya terpental beberapa meter dari jangkauannya. Makhluk bayangan itu tidak memberi waktu untuk bernapas. Mereka bergerak maju dengan kecepatan yang mengerikan, siap memberikan serangan terakhir.
“Cukup,” gumam Kael, akhirnya memutuskan. Ia berdiri, mantel hitamnya berkibar saat angin bertiup kencang. Matanya bersinar samar dengan cahaya bayangan, dan aura gelap mulai mengalir dari tubuhnya. Meski ragu, ia tahu bahwa membiarkan perempuan itu mati akan menjadi keputusan yang salah.
Namun, sebelum ia bisa melangkah maju, perempuan itu melakukan sesuatu yang tidak ia duga. Dengan napas yang berat dan tangan gemetar, ia menghindar dan berusaha mengangkat gagang pedangnya sekali lagi. Cahaya magis menyala di ujung bilahnya, memancarkan kilatan yang cukup untuk membutakan bayangan selama beberapa detik.
“Dia belum menyerah,” pikir Kael, terkejut. Ia berhenti sejenak, menonton bagaimana perempuan itu bangkit perlahan, meskipun tubuhnya terlihat nyaris runtuh. Dia menghadap kedua bayangan itu dengan tatapan penuh tekad, meski tahu peluangnya untuk menang hampir tidak ada.
Kael merasa ada sesuatu yang aneh di dadanya. Rasa kagum? Atau mungkin rasa bersalah karena tidak segera membantu? Ia tidak tahu. Tetapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa bahwa ia harus bertindak, bukan hanya menonton dari bayang-bayang.
“Aku ingin tahu siapa dia,” katanya pelan. Dengan langkah hati-hati, ia mulai bergerak mendekat, memastikan keberadaannya tetap tersembunyi untuk saat ini. Pertarungan belum selesai, dan ia ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
--o--
Siang hari di perbatasan tidak membawa banyak kenyamanan. Meskipun matahari bersinar terang, bayangan liar tetap bergerak dengan gelapnya, merayap di reruntuhan kota yang telah lama ditinggalkan. Kylia berjongkok di balik dinding yang hampir runtuh, matanya memperhatikan dengan saksama dua sosok yang sedang berbicara di tengah lapangan terbuka yang penuh puing.
Sosok pertama adalah Letnan pasukan elit Umbra Veil, Valrick, mantan atasan Kylia. Armor perak pria itu memantulkan kilauan tipis cahaya siang. Sosok kedua adalah wakil jenderal guild ras iblis, yang tubuhnya besar dengan kulit abu-abu gelap, mengenakan jubah panjang berhias lambang guild Abyssal Sovereigns. Mereka berdiri saling berhadapan, meskipun ekspresi mereka jauh dari damai.
Kylia mengepalkan tangannya, mencoba menahan rasa marah yang terus bergejolak di dalam dirinya. Pembicaraan itu lebih mirip ancaman daripada negosiasi. Suara Valrick terdengar jelas, tajam dan penuh tekanan.
“Jangan beralasan lagi,” kata Valrick dengan nada dingin. “Pasukan iblis yang terpatri pada kontrak jiwa terus berkurang di medan perang. Kau tahu bahwa raja kami tidak akan mentoleransi kekurangan ini.”
Wakil Jenderal Iblis menatap pria itu dengan tatapan tajam, seolah mencoba menahan diri dari melemparkan serangan langsung. “Dan kau pikir kami memiliki persediaan tentara tanpa batas?” suaranya rendah, hampir seperti geraman. “Kau tidak mengerti. Tingkat kelahiran iblis sudah menurun drastis selama dekade terakhir. Kami tidak bisa terus mengorbankan lebih banyak nyawa hanya untuk memenuhi permintaan manusia.”
Kylia mendengarkan dengan seksama, setiap kata yang keluar dari mulut mereka memperkuat kebenciannya pada sistem yang telah ia tinggalkan. Perjanjian antara kerajaan manusia dan guild iblis ini telah lama menjadi rahasia yang gelap. Kontrak darah iblis, yang digunakan untuk menundukkan iblis ke dalam kendali manusia, adalah salah satu pilar kekuatan militer kerajaan. Tetapi harganya adalah eksploitasi tanpa akhir terhadap ras iblis.
“Itu bukan masalah kami,” kata Valrick, melangkah maju dengan postur mengancam. “Jika guildmu tidak bisa memenuhi kebutuhan kami, maka raja akan mempertimbangkan opsi lain. Kau tidak akan menyukai itu.”
Wakil Jenderal Iblis mengepalkan tangan, tetapi akhirnya menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya. “Kami akan memberikan laporan tambahan. Tetapi jangan pikir kami akan diam jika eksploitasi ini terus berlanjut. Guild juga memiliki batasnya. Sebagai gantinya, kami akan memberikan kebijakan pimpinan guild lebih lanjut dalam beberapa minggu ke depan.”
Kylia menyaksikan bagaimana pembicaraan itu berakhir dengan ketegangan yang menggantung. Letnan Valrick itu berbalik lebih dahulu, berjalan menjauh dengan langkah berat, sementara Wakil Jenderal Guild Abyssal Sovereigns tetap berdiri di tempatnya, matanya menyapu reruntuhan seolah mencari sesuatu yang tidak ada.
Ketika kedua sosok itu kemudian sama-sama meninggalkan lokasi, Kylia merasa lega. Ia telah mendapatkan informasi yang cukup untuk memperkuat dugaannya bahwa eksploitasi ini lebih buruk dari yang ia kira. Namun, sebelum ia bisa bergerak dari tempat persembunyiannya, ia merasakan sesuatu yang aneh.
Dari kejauhan, suara rengsekan bayangan liar mulai terdengar. Suara seperti desisan panjang bercampur dengan gemuruh langkah berat, seolah-olah makhluk itu sedang mendekati lokasi perbatasan. Kylia menyaksikan bagaimana Letnan dan Wakil Jenderal Guild Abyssal Sovereigns sejenak berhenti di tengah langkah mereka. Keduanya saling bertukar pandang sebelum tanpa sepatah kata lagi mereka bergerak menjauh ke arah yang berlawanan, meninggalkan area itu dengan cepat.
“Bayangan liar,” gumam Kylia, menggertakkan giginya. “Mereka akan melarikan diri dan membiarkan hal ini menjadi masalahku seorang.”
Ia tetap berjongkok di tempat persembunyiannya, menunggu hingga kedua sosok itu benar-benar menghilang dari pandangannya. Napasnya perlahan kembali tenang, tetapi ia tahu bahaya belum berlalu. Bayangan liar, tidak seperti iblis, adalah makhluk tanpa akal yang hanya mengejar insting dan perintah tuannya. Mereka tidak mengenal takut, hanya kehancuran.
Kylia merapatkan jubahnya, bersiap untuk meninggalkan tempat itu. Tetapi sebelum ia melangkah, desis bayangan liar semakin keras, menunjukkan bahwa mereka semakin dekat. Dengan cepat, ia mengangkat pedangnya, mata birunya memperhatikan reruntuhan di sekitar yang mulai bergerak pelan.
“Ini akan jadi hari yang panjang,” bisiknya pada diri sendiri, bersiap menghadapi serangan yang akan datang. Tetapi di dalam hatinya, ia tahu bahwa informasi yang telah ia dapatkan hari ini membuat semua ini sepadan.
Reruntuhan perbatasan terasa semakin mencekam saat Kylia berlari menjauh dari lokasi pembicaraan antara Letnan Valrick dan Wakil Jenderal Guild Iblis itu. Napasnya memburu, bukan karena lelah, tetapi karena kewaspadaan yang terus meningkat. Bau logam bercampur abu dari reruntuhan menusuk hidungnya, dan suara langkah kakinya hampir tenggelam oleh bisikan angin yang membawa desisan samar — pertanda bahwa sesuatu yang gelap sedang mendekat.
Kylia menatap sekeliling dengan cepat, mencoba mencari jalan keluar dari labirin puing-puing yang mulai terasa seperti perangkap. Namun, sebelum ia bisa menemukan jalur aman, suara desis berubah menjadi gemuruh yang menghantam telinganya. Ia berhenti sejenak, tubuhnya tegang saat melihat bayangan besar telah menyergapnya.
“Tidak mungkin...” gumamnya. Matanya membelalak saat ia menyadari bahwa bayangan liar sedang bergerak cepat ke arahnya. Tidak hanya satu, tetapi empat makhluk besar dengan tubuh hitam seperti kabut pekat, masing-masing membawa aura gelap yang mengerikan. Di sekitar mereka, puluhan makhluk bayangan kecil merayap, membentuk lingkaran yang perlahan menyempit.