Veilbound: Beyond the Ashen Crown

Diva Amane
Chapter #1

Rumah yang Mulai Nyaman

Pagi datang tanpa suara perang.

Tidak ada denting baja dari kejauhan, tidak ada teriakan penjaga yang membelah udara, tidak ada bau darah yang terbawa angin bersama debu. Hanya cahaya pucat yang menyelinap melalui celah tirai, jatuh memanjang di lantai kayu pondok dan berhenti di dekat kaki ranjang.

Di luar, embun masih menempel pada rerumputan. Udara Solmaria terasa dingin setelah hujan malam, membawa aroma tanah basah, daun, dan asap tipis dari tungku rumah-rumah tetangga. Seekor burung kecil bertengger di pagar rendah di depan pondok, berkicau beberapa kali sebelum terbang ketika suara pintu kayu terbuka.

Kael keluar sambil menguap.

Ia masih mengenakan pakaian sederhana yang biasa dipakainya untuk bekerja. Tidak ada pelindung bahu. Tidak ada sarung tangan perang. Tidak ada jubah perjalanan yang penuh debu. Di pinggangnya hanya tergantung sebilah pisau pendek untuk keperluan sehari-hari, sementara tas kulit berisi surat-surat telah diletakkan di dekat pintu sejak malam sebelumnya.

Ia menatap tas itu sebentar.

Dulu, benda seperti itu akan membuatnya merasa gelisah.

Sebuah tas berarti perjalanan. Perjalanan berarti kemungkinan bertemu musuh. Surat berarti perintah, kabar perang, permintaan bantuan, atau sesuatu yang harus diselesaikan sebelum terlambat.

Sekarang isinya hanya surat dagang, catatan pengiriman, undangan pertemuan, dan beberapa dokumen administrasi yang harus sampai ke tangan orang yang tepat.

Kael mengangkat tas itu.

"Berat."

Dari dalam pondok terdengar suara Kylia.

"Karena kau memasukkan dua roti ke dalamnya."

Kael menoleh.

Kylia berdiri di ambang pintu dapur dengan satu tangan memegang kain pembungkus. Rambutnya diikat sederhana, jauh dari penampilan seorang kapten yang pernah berdiri di medan pertempuran. Bahu kanannya masih belum sepenuhnya pulih. Gerakannya telah jauh membaik, tetapi ia masih menghindari mengangkat benda berat dengan tangan tersebut.

"Roti itu untuk makan siang."

"Kalau begitu jangan menyalahkan tasnya."

Kael memandang tas itu lagi.

"Benar juga."

Kylia mendekat dan menyerahkan bungkusan kecil kepadanya.

"Yang ini jangan sampai tertukar."

"Apa?"

"Obat."

Kael mengangkat alis.

"Untukmu?"

"Untuk kita."

Ia membuka sedikit kain pembungkus itu. Di dalamnya terdapat beberapa botol kecil dan salep. Bukan sesuatu yang istimewa, hanya perlengkapan untuk luka ringan dan perawatan bahu Kylia.

Kael memasukkannya ke dalam tas.

"Dulu kita pergi membawa pedang."

"Dan sekarang membawa obat."

"Perkembangan besar."

Kylia menatapnya datar.

"Jangan membuatku menyesal membiarkanmu bekerja."

Kael tersenyum kecil.

Ia baru menyadari beberapa saat kemudian bahwa percakapan itu tidak terasa aneh.

Tidak ada yang sedang mengejar mereka. Tidak ada keputusan hidup atau mati yang harus dibuat pagi itu. Mereka hanya sedang memperdebatkan isi tas kerja.

Hal sederhana.

Terlalu sederhana, mungkin.

Namun justru karena itu, Kael tidak ingin melewatkannya.

Ia mengenakan sepatu, mengambil tas, lalu berhenti di depan pintu.

"Aku pulang sebelum sore."

Kylia menatapnya.

"Jangan terlalu lama berbicara dengan para pedagang."

"Mereka yang mengajakku bicara."

"Justru itu masalahnya."

Kael tertawa pelan.

Kemudian ia keluar.

Pintu ditutup.

Dan untuk sesaat, Kylia tetap berdiri di sana, mendengarkan langkah Kael menjauh di atas jalan tanah.

Tidak ada alasan baginya untuk merasa khawatir.

Anehnya, itulah bagian yang masih terasa asing.

--o--

Pekerjaan kurir ternyata memiliki cara sendiri untuk membuat hari berlalu.

Pada awalnya Kael mengira pekerjaan itu hanya tentang membawa sesuatu dari satu tempat ke tempat lain. Setelah beberapa minggu, ia mulai memahami bahwa kesalahan kecil dapat membuat pekerjaan sederhana berubah menjadi masalah besar.

Satu surat yang salah alamat bisa membuat dua pedagang gagal bertemu. Satu dokumen yang terlambat dapat menunda pengiriman bahan makanan. Satu tanda tangan yang terlewat membuat sebuah transaksi harus menunggu sehari penuh.

Tidak ada yang menghunus pedang karenanya.

Namun orang tetap bisa marah.

Pagi itu Kael berdiri di depan sebuah gudang batu, mendengarkan seorang pemilik toko memeriksa segel pada dokumen yang dibawanya.

"Segelnya utuh."

"Memang."

"Nama pengirim benar."

"Memang."

Pedagang itu mengangkat wajah.

"Kalau begitu kenapa kau masih berdiri?"

Kael berkedip.

"Karena Anda belum menerima suratnya."

Pedagang itu menatapnya beberapa detik, kemudian mendengus dan mengambil dokumen tersebut.

"Benar."

Kael menyerahkannya.

"Selamat pagi."

"Selamat pagi."

Ia baru berjalan beberapa langkah ketika suara pedagang itu terdengar dari belakang.

"Kurir!"

Kael menoleh.

Pedagang itu mengangkat surat tadi.

"Terima kasih."

Kael hanya mengangguk.

Hal seperti itu semakin sering terjadi.

Orang-orang mulai mengenal wajahnya. Bukan karena reputasinya di medan perang, melainkan karena mereka melihatnya berjalan di jalan yang sama setiap beberapa hari. Ia tahu toko mana yang selalu membuka pintu lebih pagi, rumah mana yang memiliki anjing yang mudah curiga, dan pedagang mana yang akan membaca suratnya di tempat sebelum membayar biaya pengiriman.

Ia bahkan mulai hafal beberapa nama.

Dulu Kael menganggap pengenalan seperti itu tidak penting.

Sekarang ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang menyenangkan ketika seseorang mengenalmu bukan karena apa yang pernah kau lakukan dalam pertempuran, tetapi karena pekerjaan yang kau lakukan setiap hari.

Menjelang tengah hari, seluruh surat di tasnya telah habis.

Kael berdiri di persimpangan jalan utama, menatap jalan menuju rumah mereka.

Ia bisa pulang.

Seharusnya ia pulang.

Namun pikirannya beralih kepada tempat lain.

Permukiman iblis.

Ia belum mengunjunginya selama beberapa waktu.

Kael menarik napas, lalu berbelok.

Bukan ke rumah.

Ke arah luar kota.

--o--

Permukiman itu tidak memiliki gerbang besar.

Hanya dua tiang kayu yang menandai jalan masuk, dengan papan sederhana yang sudah beberapa kali diperbaiki. Beberapa rumah berdiri tidak beraturan di antara pepohonan. Ada yang terbuat dari batu, ada yang dari kayu, dan beberapa masih terlihat seperti bangunan sementara yang belum selesai.

Namun dibandingkan kunjungan Kael sebelumnya, tempat itu terasa lebih ramai.

Seorang iblis bertanduk pendek sedang mengangkat peti dari gerobak. Di dekatnya, dua anak membawa ember air sambil berdebat mengenai siapa yang lebih kuat. Seorang perempuan bertubuh tinggi sedang menjemur kain di depan rumah.

Tidak ada suasana kamp pengungsian.

Tidak ada barisan orang menunggu makanan.

Tidak ada tentara yang berjaga di setiap sudut.

Tempat itu terlihat seperti permukiman biasa yang kebetulan dihuni oleh iblis.

Kael berhenti di depan sebuah rumah dan memeriksa bungkusan yang dibawanya.

Sedikit roti. Buah kering. Teh. Beberapa bahan makanan yang dibelinya dari pasar.

Tidak mewah.

Tidak seberapa dibandingkan apa yang pernah dilakukan orang-orang itu untuknya.

Namun Kael tetap membawanya.

Seorang anak kecil yang lewat menatapnya lama.

Kael mengangkat satu tangan.

"Halo."

Anak itu bersembunyi di belakang ibunya.

Kael menurunkan tangan.

"Baiklah."

Ia melanjutkan perjalanan.

Tidak lama kemudian suara berat terdengar dari belakang.

"Kau tersesat?"

Kael menoleh.

Vrille berdiri di jalan.

Tubuh tua itu masih terlihat kokoh. Rambutnya telah memutih sebagian, tetapi punggungnya belum membungkuk. Sebuah great-sword tersandang di punggungnya, meskipun Kael tidak pernah melihatnya menggunakannya sejak pertempuran terakhir.

Kael mengangkat bungkusan.

"Aku membawa makanan."

Vrille memandangnya.

Lihat selengkapnya