Veilbound: Beyond the Ashen Crown

Diva Amane
Chapter #2

Tetangga Baru

Menjelang siang, matahari Solmaria menggantung tinggi di balik lapisan awan tipis. Cahaya yang jatuh ke permukiman iblis tidak terlalu terik, tetapi cukup hangat untuk mengeringkan pakaian yang dijemur di antara rumah-rumah. Angin membawa aroma kayu yang baru dipotong, tanah kering, dan masakan yang mulai disiapkan dari dapur-dapur kecil.

Kael berjalan memasuki permukiman dengan langkah yang sudah tidak lagi ragu.

Beberapa orang yang mengenalinya mengangkat tangan.

"Datang lagi."

Kael membalas lambaian itu.

"Ya."

"Vrille ada di rumah?"

Kael menggeleng.

"Entah."

Seorang lelaki tua yang sedang memperbaiki pagar menunjuk ke arah lain.

"Dia pergi ke rumah bagian timur."

"Untuk apa?"

"Kalau kau kenal Vrille, kau seharusnya tahu dia tidak pernah punya satu alasan untuk pergi ke suatu tempat."

Kael tertawa kecil.

"Benar juga."

Ia meneruskan langkah.

Dulu ia akan langsung mencari Vrille.

Sekarang ia tidak merasa perlu.

Permukiman itu sudah cukup dikenalnya untuk tahu bahwa ia bisa menunggu tanpa merasa sebagai orang asing.

Ia berjalan melewati beberapa rumah. Di salah satu sisi, dua orang sedang membongkar gerobak yang penuh peti. Beberapa karung kain diturunkan ke tanah. Salah satu peti hampir terguling ketika seorang pemuda kehilangan pegangan.

Kael refleks mendekat.

"Tahan."

Ia menangkap sisi peti sebelum jatuh.

Pemuda itu terkejut.

"Berat."

"Memang."

Kael mengubah posisi kakinya, menahan beban dengan pinggul, lalu mendorong peti itu kembali ke tempat semula.

"Ditaruh di mana?"

"Rumah baru."

"Yang mana?"

Pemuda itu menunjuk.

Kael mengambil sisi peti yang lain.

Mereka mengangkatnya bersama.

Tidak ada yang bertanya siapa Kael.

Tidak ada yang bertanya mengapa ia bisa mengangkat beban seperti itu.

Tidak ada yang menyebut pertempuran.

Mereka hanya bekerja.

Dan Kael menyadari bahwa ia menyukai hal tersebut.

--o--

Peti terakhir hampir sampai ketika seseorang keluar dari rumah yang sedang mereka isi.

"Yang itu di dalam."

Suara perempuan.

Kael menoleh.

Seorang perempuan iblis berdiri di ambang pintu.

Usianya tampak tidak jauh darinya. Tanduk kecil tumbuh dari rambutnya, tidak terlalu panjang, dengan ujung yang sedikit melengkung ke belakang. Rambutnya berwarna cokelat gelap dan diikat longgar di belakang leher. Pakaiannya sederhana, lengan bajunya digulung sampai siku.

Ia menunjuk peti yang dibawa Kael.

"Jangan di depan. Di sebelah meja."

Kael mengangguk.

"Baik."

Mereka membawa peti masuk.

Ruangan itu masih kosong, kecuali meja kayu, beberapa kursi, dan rak yang belum terisi. Bau kayu baru sangat kuat.

Kael menurunkan peti.

"Di sini?"

"Ya."

Ia melepaskan pegangan.

Perempuan itu tersenyum.

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Kael hendak keluar.

"Kael?"

Langkahnya berhenti.

Ia menoleh.

"Kau tahu namaku?"

Perempuan itu mengangguk.

"Kau sering datang."

"Ah."

Kael mengusap tengkuk.

"Benar."

"Namaku Elora."

"Senang bertemu."

"Padahal kita sudah beberapa kali melihat satu sama lain."

Kael tersenyum kecil.

"Kalau begitu, senang akhirnya benar-benar berkenalan."

Elora tertawa pelan.

Tidak ada rasa gugup.

Tidak ada tatapan berlebihan.

Tidak ada upaya membaca wajah Kael seolah-olah di baliknya terdapat kisah yang harus segera ditemukan.

Ia hanya berbicara.

Kael merasa sedikit aneh.

Bukan karena Elora berbeda dari orang lain.

Justru karena ia sama seperti orang biasa.

"Ini rumahmu?"

"Baru."

"Baru datang?"

"Beberapa minggu."

Elora mengambil sepotong kain dari atas meja dan membersihkan debu kayu.

"Kau?"

"Aku?"

"Kau tinggal di sekitar sini?"

"Tidak. Di Telmora."

"Oh."

"Jadi kau sering melihatku karena aku memang sering datang."

"Begitu."

Elora melipat kain itu.

"Kau bekerja di kota?"

"Kurir."

"Surat?"

"Surat. Dokumen. Kadang barang kecil."

"Kelihatannya melelahkan."

"Lebih melelahkan kalau pelanggan tidak ada di rumah."

Elora tersenyum.

"Benar."

Kael tidak tahu mengapa percakapan itu terus berjalan.

Tidak ada topik penting.

Tidak ada alasan untuk mempertahankannya.

Namun ia tidak merasa perlu pergi.

--o--

Di luar rumah, suara aktivitas permukiman terus bergerak seperti aliran kecil yang tidak pernah berhenti.

Elora keluar membawa dua gelas air.

Ia menyerahkan satu kepada Kael.

"Minum."

Kael menerimanya.

"Terima kasih."

Mereka duduk di bawah bayangan pohon.

Dari tempat itu, Kael dapat melihat jalan utama permukiman. Seorang manusia sedang membawa keranjang sayuran melewati seorang iblis tua. Mereka saling menyapa tanpa berhenti.

Tidak ada yang memperhatikan perbedaan mereka.

"Tempat ini selalu seramai ini?" tanya Kael.

"Belakangan."

"Karena pendatang baru?"

Elora mengangguk.

"Banyak yang datang."

"Karena perang?"

"Sebagian."

Ia menatap rumah di depannya.

"Sebagian ingin mencari pekerjaan."

Kael memutar gelas di tangannya.

"Di wilayah manusia?"

"Ya."

"Kau juga?"

Elora tersenyum.

"Aku tidak datang untuk bersembunyi."

Jawaban itu sederhana.

Kael menoleh kepadanya.

Elora melanjutkan.

"Ayahku dulu bekerja di wilayah utara. Setelah beberapa tahun, kami mendengar kota-kota Solmaria punya lebih banyak pekerjaan untuk pengrajin dan pedagang kecil. Kami mencoba."

"Berhasil?"

"Belum."

Kael melihat rumah yang belum selesai.

"Ini bagian dari mencoba?"

Lihat selengkapnya