Hujan turun sebentar sebelum tengah hari.
Bukan hujan deras yang membuat jalan-jalan Solmaria berubah menjadi sungai lumpur, melainkan gerimis panjang yang meninggalkan tetesan air di ujung atap dan aroma tanah basah di udara. Cahaya matahari tertahan di balik awan kelabu, membuat bagian dalam pondok terasa lebih gelap daripada biasanya. Kayu-kayu di dinding mengeluarkan aroma lembap, sementara suara tetesan air dari talang menjadi irama konstan yang memenuhi ruang.
Kylia sedang memotong sayuran ketika terdengar ketukan di pintu.
Tiga kali.
Tidak terlalu keras.
Kylia berhenti.
Kael sedang mengenakan sepatu di dekat pintu.
"Aku buka."
Ia membukanya.
Isolde berdiri di sana dengan keranjang besar di kedua tangan.
Ujung rambutnya sedikit basah. Mantelnya menyimpan titik-titik air hujan. Dari dalam keranjang muncul beberapa akar berwarna pucat, daun lebar dengan urat kemerahan, jamur berwarna gelap, serta dua buah kecil yang kulitnya tampak hampir hitam.
Kael memandang isinya.
"Apa itu?"
"Makanan."
Kael menggeser tubuh.
"Masuk."
Isolde tersenyum.
"Aku datang terlalu pagi?"
Kylia menggeleng.
"Tidak. Kami belum makan siang."
"Bagus."
Isolde membawa keranjang ke meja.
Kylia mendekat.
Ia mengenali sebagian besar sayuran itu, tetapi tidak semuanya.
"Ini apa?"
"Umbi draen."
"Dan ini?"
"Jamur nera."
"Yang hitam?"
"Buah karsa."
Kylia menyentuh salah satu buah dengan ujung jarinya.
"Rasanya?"
"Manis."
"Kelihatannya tidak."
Isolde tertawa pelan.
"Jangan menilai makanan dari wajahnya."
Kael melihat isi keranjang sekali lagi.
"Kalau begitu aku pergi."
Kylia menoleh.
"Pergi?"
"Ada beberapa surat yang harus kuambil dari kantor pos. Mereka bilang akan selesai sebelum sore."
Isolde mengangguk.
"Pergilah."
Kael mengambil tasnya.
Kylia menatapnya.
"Kau tidak mau tahu apa yang kami masak?"
Kael memasang tali tas.
"Kalau aku tahu sekarang, nanti aku tidak bisa terkejut."
"Alasan yang bagus."
Ia membuka pintu.
Namun sebelum keluar, Kael menatap keranjang itu sekali lagi.
"Jangan masak sesuatu yang bisa membunuhku."
Isolde mengangkat alis.
"Kau pikir makanan kami beracun?"
"Tidak."
"Kalau begitu?"
"Aku hanya memastikan."
Kylia menatapnya tajam.
"Pergi."
Kael tersenyum dan keluar.
Pintu menutup.
Suara langkahnya perlahan menghilang di jalan basah.
Isolde memandang Kylia.
"Dia selalu begitu?"
Kylia menghela napas.
"Sayangnya."
Isolde tersenyum.
"Bagus."
Kylia mengerutkan dahi.
"Kenapa?"
"Karena orang yang bisa bercanda soal makanan biasanya sudah merasa aman."
Kylia tidak menjawab.
Namun sudut bibirnya bergerak sedikit.
--o--
Isolde mengeluarkan seluruh bahan dari keranjang.
Kylia memperhatikannya dengan serius.
"Jadi kita mulai dari mana?"
"Api."
Kylia menunjuk tungku.
"Seperti biasa?"
"Tidak persis."
Isolde mengambil panci tanah liat yang dibawanya.
"Orang Solmaria biasanya memasak dengan api lebih besar."
Kylia menoleh.
"Benarkah?"
"Kalian ingin semuanya cepat matang."
"Itu bukan salah."
"Memang bukan."
Isolde meletakkan panci di atas tungku.
"Tapi makanan iblis tertentu lebih baik dimasak perlahan."
Kylia mengambil kayu bakar.
"Berapa lama?"
"Jangan tanya waktu."
"Kenapa?"
"Lihat teksturnya."
Kylia berhenti.
Ia memandang Isolde.
"Kau serius?"
"Ya."
"Jadi tidak ada ukuran?"
"Ada."
"Berapa?"
Isolde mengambil sendok kayu.
"Satu sendok."
Kylia mengangguk.
"Berapa banyak?"
"Sampai rasanya benar."
Kylia memejamkan mata sebentar.
"Itu bukan ukuran."
Isolde tertawa.
"Itu ukuran bagi kami."
Kylia akhirnya ikut tertawa.
Mereka mulai bekerja.
Umbi draen harus dikupas tipis, bukan dipotong tebal seperti kentang yang biasa digunakan di dapur manusia. Jamur nera tidak boleh dicuci terlalu lama karena menyerap air. Daun merah harus diremas terlebih dahulu agar seratnya lunak.
Kylia mengikuti instruksi satu demi satu.
Pada percobaan pertama, ia memotong umbi terlalu tebal.
Isolde mengambil salah satunya.
"Ini."
Kylia melihat.
"Kenapa?"
"Terlalu tebal."
"Masih bisa dimakan."
"Memang."
"Kalau begitu?"
"Masaknya lebih lama."
Kylia mengangkat dagu.
"Berarti tidak masalah."
Isolde menahan tawa.
"Kalau kau ingin makan siang saat matahari tenggelam, tidak masalah."
Kylia menatapnya.
Kemudian keduanya tertawa.
Sudah lama Kylia tidak tertawa karena kesalahan sekecil itu.
Di medan perang, kesalahan kecil memiliki harga yang berbeda.
Satu langkah terlalu jauh.
Satu gerakan terlambat.
Satu ayunan pedang yang salah arah.
Semua dapat berakhir dengan darah.
Di dapur, kesalahan hanya menghasilkan umbi yang terlalu tebal.
Tidak ada yang mati.
Tidak ada yang perlu ditangisi.
Kylia menyadari betapa asingnya perasaan itu.
--o--
Aroma masakan mulai memenuhi pondok.
Isolde memasukkan jamur nera ke dalam panci, lalu menuangkan kaldu sedikit demi sedikit.
"Jangan sekaligus."