Langit di atas wilayah Abyssal Sovereign telah kehilangan warna senjanya ketika Vynn melewati gerbang luar markas guild.
Kabut tipis menggantung rendah di antara bangunan-bangunan batu hitam. Cahaya dari lampu mana di sepanjang dinding hanya mampu menerangi beberapa langkah ke depan, meninggalkan lorong-lorong di antaranya dalam kegelapan pekat. Bau besi, minyak senjata, dan batu basah bercampur menjadi aroma yang sudah terlalu akrab bagi para anggota guild.
Vynn berjalan tanpa tergesa.
Mantelnya kotor oleh perjalanan panjang. Beberapa bagian kain robek di dekat lengan. Ada noda darah yang telah mengering di ujung sarung tangan kirinya, tetapi bukan darahnya.
Ia tidak membawa tanda kemenangan.
Tidak ada kepala musuh.
Tidak ada lambang yang dipamerkan.
Hanya sebuah tabung kecil berisi laporan dan beberapa lembar catatan yang dilipat rapat di dalam pakaian.
Seorang penjaga di gerbang memeriksa lambang guild pada mantelnya.
"Nama."
"Vynn."
Penjaga itu menatapnya sekali lagi.
"Kembali dari luar wilayah?"
"Ya."
"Perintah?"
Vynn menyerahkan segel misi.
Penjaga memeriksanya, lalu mengembalikan.
"Lord Mireth menunggu."
Vynn mengangguk.
Ia sudah menduganya.
Ia berjalan masuk.
Beberapa anggota guild yang sedang membersihkan senjata menoleh ketika melihatnya. Tidak ada sambutan. Tidak ada tepuk tangan. Di Abyssal Sovereign, keberhasilan seorang pemburu hanya berarti satu hal.
Ia masih hidup.
Dan kalau ia masih hidup, kemungkinan besar masih bisa digunakan.
Vynn tidak keberatan.
Ia sudah terbiasa.
--o--
Ruang kerja Lord Mireth berada di lantai bawah bangunan utama, jauh dari aula tempat anggota guild menerima kontrak.
Ruangan itu sempit dan panjang. Dindingnya dipenuhi rak dokumen. Peta-peta tua digantung dengan paku besi, beberapa di antaranya telah menguning di bagian tepi. Lampu mana berwarna pucat menggantung dari langit-langit, memancarkan cahaya yang tidak pernah benar-benar terang.
Mireth berdiri di belakang meja ketika Vynn masuk.
Seorang pengawal berdiri di sisi ruangan.
Mireth tidak langsung berbicara.
Matanya bergerak dari sepatu Vynn ke mantelnya, lalu berhenti pada wajahnya.
"Kau kembali."
"Ya."
"Berapa banyak yang tersisa?"
Vynn meletakkan tabung laporan di meja.
"Empat."
Mireth membuka tutupnya.
"Target utama?"
"Selesai."
"Pengawal?"
"Semua yang menghalangi."
Mireth mengangkat mata.
"Semua?"
"Yang perlu."
Jawaban itu membuat salah satu sudut bibir Mireth bergerak sedikit.
Ia mengambil laporan.
Membacanya dalam diam.
Vynn berdiri di depannya tanpa bergerak.
Beberapa lembar kertas dibuka. Mireth membaca satu per satu. Sesekali jarinya berhenti di bagian tertentu, lalu berpindah lagi.
Akhirnya ia menutup laporan.
"Tugasmu tidak sepenuhnya berhasil."
Vynn mengangguk.
"Aku tahu."
"Kau tidak membawa seluruh informasi yang diminta."
"Sebagian telah dipindahkan sebelum aku tiba."
"Dan tiga orang yang seharusnya kau awasi?"
"Berhasil melarikan diri."
Mireth bersandar.
"Namun target utama tetap selesai."
"Ya."
"Dan kau menemukan jalur keluar tanpa diketahui?"
"Ya."
Mireth memandangnya cukup lama.
"Kenapa?"
Vynn mengerutkan dahi.
"Kenapa apa?"
"Kenapa kau bisa menyelesaikan bagian tersulit sementara bagian yang lebih sederhana terlewat?"
Vynn berpikir sejenak.
"Karena bagian tersulit adalah bagian yang harus kulakukan sendiri."
Mireth diam.
Pengawal di belakangnya menundukkan kepala, menyembunyikan reaksi.
Mireth akhirnya tertawa kecil.
"Bukan jawaban yang buruk."
Ia membuka laporan sekali lagi.
"Selama ini kau terlalu sering digunakan untuk mengejar."
Vynn tidak menjawab.
"Kau mengikuti jejak. Membaca medan. Memburu target. Menyerang ketika celah muncul."
Mireth mengetuk kertas.
"Tapi ada satu hal yang terus muncul."
Vynn menunggu.
"Kau bisa masuk."
Mireth menatapnya.
"Kau bisa berada di tempat yang dijaga orang lain tanpa membuat mereka tahu."
Vynn tetap diam.
"Itu kemampuan yang berbeda dari kekuatan."
Mireth menggeser laporan ke samping.
"Dan jauh lebih sulit digantikan."
--o--
Mireth berdiri dan berjalan menuju salah satu rak.
Ia mengambil sebuah map tua yang disimpan di balik beberapa dokumen lain.
Tidak ada tanda resmi di sampulnya.
Hanya satu simbol kecil yang hampir pudar.
Vynn mengenal simbol itu.
"Arcante."
Mireth tidak menjawab.
Ia meletakkan map di meja.
"Tempat yang kau temukan."
Vynn mengangguk.
"Permukiman itu?"
"Ya."
Mireth membuka map.
Beberapa lembar catatan lama terlihat di dalamnya. Tulisan tangan telah memudar. Ada sketsa jalur pegunungan, potongan denah reruntuhan, serta beberapa simbol yang tidak langsung dapat dipahami.
"Rumahnya sederhana," kata Vynn.
"Katamu begitu."
"Dia hidup bersama keluarganya."
Mireth berhenti membalik halaman.
"Anak?"
"Ya."
"Isolde?"