Veilbound: Beyond the Ashen Crown

Diva Amane
Chapter #5

Kapak yang Belum Jinak

Pagi belum sepenuhnya menghangat ketika kabut tipis masih menggantung rendah di atas tanah lapang di luar pemukiman Kota Solmaria. Cahaya matahari menembus lapisan awan dalam garis-garis pucat, jatuh di antara tiang kayu yang menandai batas area latihan dan membuat embun di atas rumput tampak seperti serpihan kaca. Dari kejauhan terdengar suara roda gerobak yang mulai memasuki jalan utama, derap kuda pengangkut barang, serta teriakan pendek para pedagang yang membuka lapak. Namun di tempat itu, suara-suara kota terdengar seperti sesuatu yang sangat jauh.

Kael berdiri sendirian di tengah lapangan.

Kedua telapak tangannya menggenggam gagang kapak panjang yang baru beberapa hari lalu selesai dikerjakan Arelith. Senjata itu tidak lagi menyerupai dua kapak pendek yang selama bertahun-tahun menjadi perpanjangan tubuhnya. Gagangnya jauh lebih panjang, bilahnya lebih besar, dan bobotnya terkumpul pada titik yang terasa asing setiap kali ia mengubah arah.

Ia menatap bilahnya beberapa saat.

Permukaan logam memantulkan cahaya pagi dengan kilau dingin.

"Jadi kau yang harus kupelajari sekarang."

Tidak ada jawaban.

Kael menggeser satu kaki ke belakang.

Lalu mengayunkan kapak.

Udara berdesing.

Bilah melintas di depan tubuhnya dengan lengkungan lebar. Kael mengikuti gerakan itu, memutar pinggang dan menarik gagang kembali ke sisi kanan sebelum mengubah arah untuk tebasan kedua.

Gerakan kedua hampir berhasil.

Hampir.

Begitu bilah berbalik, tubuh Kael ikut tertarik setengah langkah ke depan.

Ia menghentikan ayunan dengan memaksa kedua kakinya menahan tanah.

Sepatu botnya menggesek tanah basah.

Kael diam.

Ia melihat posisi kakinya.

Kemudian melihat kapak.

"Beratnya berubah."

Ia tidak benar-benar berbicara kepada siapa pun. Kalimat itu lebih seperti pengakuan yang terpaksa keluar dari mulutnya.

Selama bertahun-tahun, dua kapak telah mengajarinya satu hal yang sangat berbeda dari apa yang sedang dilakukan tubuhnya sekarang. Setiap tangan memegang senjata sendiri. Setiap lengan memiliki pusat geraknya sendiri. Ketika satu kapak dihentikan, kapak lainnya masih bisa bergerak. Ketika satu sisi tubuh membuka ruang, sisi lain bisa menutupnya.

Ia terbiasa membagi momentum.

Membagi ancaman.

Membagi keseimbangan.

Kapak panjang ini tidak mau dibagi.

Satu gagang panjang menghubungkan kedua tangannya dalam satu sistem. Setiap perubahan tekanan pada tangan kanan segera terasa di tangan kiri. Setiap tarikan tangan kiri mengubah jalur bilah yang berada jauh di depannya. Pusat gravitasi senjata itu tidak lagi berada dekat dengan tubuhnya.

Jarak serangnya lebih panjang.

Tetapi waktu untuk mengoreksi kesalahan juga lebih pendek.

Kael menarik napas.

Ia mencoba lagi.

Kali ini ia mengulang salah satu pola yang paling sering ia gunakan dahulu. Langkah maju, tebasan kanan, putaran tubuh, perpindahan tekanan, lalu tebasan balik.

Bilah meluncur.

Terlalu lebar.

Kael mempersempit gerakan.

Kapak berbalik.

Terlalu lambat.

Ia menurunkan pusat gravitasi tubuhnya dan mencoba mengimbangi dengan bahu.

Gagang berputar.

Bilah mengarah ke bawah.

Kael hendak mengangkatnya kembali.

Momentum senjata sudah lebih dulu menarik tubuhnya.

Kakinya kehilangan garis.

Ia terpaksa melepaskan salah satu tangan selama sepersekian detik untuk mencegah dirinya terjatuh.

Kapak menghantam tanah dengan suara berat.

Debu dan serpihan tanah basah terlempar.

Kael berdiri membeku.

Tidak ada luka.

Tidak ada musuh.

Tidak ada serangan.

Tetapi napasnya sudah lebih berat daripada yang seharusnya untuk sebuah latihan dasar.

Ia memandang kapak di tanah.

Kemudian tertawa pendek tanpa humor.

"Memalukan."

Ia membungkuk dan mengambilnya lagi.

Dahulu, ketika dua kapaknya masih berada dalam genggaman, ia dapat melakukan gerakan serupa tanpa harus memikirkan pusat berat masing-masing. Tubuhnya telah menghafalnya jauh sebelum pikirannya sempat menyusun nama untuk teknik tersebut.

Itulah masalahnya.

Tubuhnya masih mengingat.

Tetapi yang diingat tubuhnya adalah senjata yang sudah tidak dimilikinya.

Kael mengangkat gagang kapak perlahan.

Ia menempatkan tangan kanan sedikit lebih dekat ke bilah dan tangan kiri lebih jauh ke belakang.

Posisi itu terasa aneh.

Ia menggeser lagi.

Kali ini tangan kiri lebih dekat ke tengah.

Ia mencoba memutar gagang menggunakan telapak tangan dan jari-jari, bukan mengandalkan seluruh lengan.

Kapak berputar.

Bilah berubah sudut.

Kael berhenti.

Ia merasakan sesuatu.

Bukan keberhasilan besar. Hanya sebuah garis kecil dalam gerakan yang tiba-tiba terasa lebih ringan.

Ia mengulanginya.

Putar.

Geser.

Tarik.

Ubah sudut.

Bilah kembali ke posisi bertahan di depan dada.

Kael mempertahankan posisi itu.

Lalu menggerakkan kapak ke kiri.

Bilah menutup ruang di sisi kiri.

Ia memutar gagang lagi.

Bilah kembali menghadap depan.

Satu putaran.

Dua.

Tiga.

Kali keempat, ujung bilah hampir kehilangan garis.

Kael memperbaikinya sebelum momentum berkembang.

Ia berhenti.

Napasnya mulai terdengar jelas.

"Ini bukan soal menebas."

Ia mengusap keringat di pelipis dengan punggung tangan.

"Ini soal menjaga kapak tetap berada di tempat yang kuinginkan."

Ia kembali mengambil posisi.

Kali ini latihan tidak dimulai dengan ayunan.

Kael berdiri diam.

Kedua tangannya memegang gagang.

Ia menggerakkan satu kaki.

Kemudian kaki lainnya.

Kapak mengikuti.

Langkah kanan.

Putar.

Bilah turun.

Langkah kiri.

Tarik.

Bilah naik.

Perubahan sudut.

Putaran gagang.

Satu garis pertahanan terbentuk di depan tubuhnya.

Kael bergerak semakin cepat.

Ia mulai memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah perlu dipikirkannya.

Dengan dua kapak, ia dapat menciptakan pertahanan melalui dua titik yang terpisah. Dengan senjata ini, pertahanan harus mengalir.

Bilah tidak boleh berhenti terlalu lama.

Jika berhenti, tubuhnya harus menerima seluruh berat senjata.

Jika terlalu cepat, momentum akan membawa tubuhnya sebelum ia siap.

Ia mengulang.

Sekali.

Dua kali.

Lima kali.

Sepuluh kali.

Pada pengulangan berikutnya, gerakannya mulai tampak seperti sesuatu yang benar-benar baru.

Kapak berputar di depan tubuhnya.

Gagang meluncur di antara kedua telapak tangan.

Kael mengubah jarak tangan untuk memperpendek atau memperpanjang kendali. Ketika bilah berada jauh di depan, ia membiarkan kedua tangannya membuka jarak. Ketika hendak menariknya kembali, tangan kiri bergerak mendekati pusat gagang.

Ia mencoba menebas.

Bilah berhenti pada jarak beberapa sentimeter dari tiang latihan.

Kael memutar gagang.

Bilah berubah arah.

Ia menurunkan bahu.

Satu langkah ke samping.

Kemudian putaran torso.

Tebasan kedua.

Kali ini tubuhnya tetap berada di belakang senjata.

Berhasil.

Kael mengembuskan napas.

Untuk pertama kalinya sejak datang, ia tersenyum tipis.

Lalu mencoba lagi.

Tebasan pertama berhasil.

Perubahan sudut berhasil.

Tebasan kedua—

Tubuhnya terseret.

Kael memutar pinggang terlalu lambat.

Kakinya menyilang.

Ia terhuyung dan menghentikan gerakan dengan menghantamkan ujung gagang ke tanah.

Bunyi kayu dan logam beradu dengan tanah menggema pendek.

Kael menundukkan kepala.

Keringat menetes dari dagunya.

Lihat selengkapnya