Langit di atas Solmaria mulai kehilangan warna ketika Kael tiba di permukiman Vrille. Matahari sore menggantung rendah di balik deretan atap rumah, memantulkan cahaya merah keemasan pada dinding batu dan jalan tanah yang mulai dingin. Asap tipis keluar dari beberapa cerobong, membawa aroma bawang panggang, rempah, daging yang dibakar, dan sesuatu yang lebih asing bagi hidung manusia. Di antara rumah-rumah itu, suara percakapan terdengar lebih ramai daripada biasanya. Anak-anak berlari di sela gang sempit, beberapa orang dewasa membawa keranjang pulang dari pasar, sementara dua iblis tua sedang memperbaiki pagar kayu yang patah sejak beberapa hari lalu.
Kael datang membawa tas kosong yang sebelumnya digunakan untuk mengantar barang.
Hari itu ia tidak memiliki kiriman untuk permukiman tersebut. Ia hanya datang karena kebiasaan yang mulai terbentuk tanpa ia sadari.
Vrille tidak berada di sana.
Arcante juga sedang pergi bersama Isolde.
Kael sudah hendak berbalik ketika sebuah suara memanggil dari belakang.
"Kael."
Ia menoleh.
Elora berdiri di depan sebuah rumah kecil dengan dinding batu rendah dan atap yang dilapisi kayu gelap. Rambutnya diikat sederhana. Kedua tangannya masih memegang kain yang tampaknya baru digunakan untuk mengeringkan sesuatu. Tidak ada pakaian khusus, tidak ada perhiasan yang mencolok. Ia tampak seperti seseorang yang baru saja selesai bekerja dan belum sempat beristirahat.
"Kau datang lagi."
Kael mengangkat bahu.
"Sepertinya begitu."
Elora tersenyum.
"Kau mencari Vrille?"
"Awalnya."
"Dia belum pulang."
Kael mengangguk. "Kalau begitu aku kembali nanti."
Ia berbalik.
"Kael."
Langkahnya berhenti.
Elora menatapnya beberapa detik, seolah sedang memilih kata.
"Makan malam di rumahku."
Kael menoleh perlahan.
Elora melanjutkan, "Kalau kau tidak punya urusan."
Kael melihat rumah itu.
Kemudian melihat Elora.
"Besok?"
"Hari ini."
Jawaban itu begitu sederhana sehingga Kael tidak segera menemukan alasan untuk menolaknya.
Ia akhirnya mengangguk.
"Baik."
"Datang setelah matahari tenggelam."
"Kenapa setelah matahari tenggelam?"
Elora mengangkat kain di tangannya.
"Aku belum selesai memasak."
Kael tertawa kecil.
"Jadi aku diundang karena kau sudah telanjur memasak?"
"Kalau begitu kau boleh menganggapnya begitu."
Ia masuk ke rumah sebelum Kael sempat menjawab.
Kael berdiri beberapa saat di depan pagar.
Tidak ada alasan khusus untuk merasa aneh.
Itu hanya makan malam.
Sesama anggota komunitas mengundang seseorang yang sering datang berkunjung. Di tempat seperti ini, hubungan sosial tidak selalu dibangun melalui guild, pangkat, atau nama keluarga. Orang bisa mengenal seseorang hanya karena sering bertemu di jalan, saling membantu mengangkat barang, atau kebetulan duduk di tempat yang sama ketika hujan turun.
Kael sudah mulai memahami itu.
Maka ia tidak memikirkannya lebih jauh.
Ia pergi menyelesaikan urusan kecil di sekitar permukiman sebelum kembali ketika cahaya terakhir menghilang dari langit.
--o--
Rumah Elora jauh lebih kecil daripada pondok Kael dan Kylia.
Satu ruangan utama menjadi tempat makan sekaligus ruang berkumpul. Di sisi belakang terdapat dapur kecil dengan tungku batu. Rak kayu menempel pada dinding, dipenuhi mangkuk, botol rempah, dan beberapa wadah tanah liat yang tutupnya ditahan batu kecil.
Ketika Kael mengetuk pintu, aroma makanan langsung menyambutnya.
Elora membukakan pintu.
"Kau datang."
"Kau yang menyuruhku datang."
"Benar."
Kael masuk.
Ia berhenti sesaat ketika melihat meja.
Ada dua mangkuk besar, dua piring, roti pipih yang masih hangat, daging panggang yang dipotong tipis, sayuran rebus dengan bumbu berwarna merah gelap, dan semangkuk sup yang mengeluarkan uap tipis. Tidak terlihat seperti makanan yang dibuat sekadarnya.
Kael memandang meja.
"Kau menyiapkan sebanyak ini?"
Elora menutup pintu.
"Aku tidak tahu kau makan sebanyak apa."
"Biasanya cukup banyak."
"Aku tahu."
Kael menatapnya.
Elora mengangkat alis.
"Kau sering makan di sini ketika membantu orang membawa barang. Aku pernah melihatmu."
"Jadi kau memperhatikanku?"
"Semua orang memperhatikan orang yang membawa barang terlalu banyak."
Kael mendengus.
Ia duduk.
Elora mengambil tempat di seberangnya.
Untuk beberapa saat mereka hanya makan.
Kael mencoba sup terlebih dahulu.
Rasanya hangat, gurih, dengan rasa rempah yang perlahan muncul setelah ditelan. Tidak terlalu kuat. Dagingnya dimasak sampai lunak tanpa kehilangan serat.
Kael mengambil satu suapan lagi.
"Ini enak."
Elora tersenyum kecil.
"Bagus."
"Kau membuat semuanya sendiri?"
"Ya."
"Kenapa?"
Elora berhenti sebentar.
"Karena aku mengundangmu."
Jawaban itu membuat Kael terdiam.
Bukan karena ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya. Justru karena jawabannya begitu sederhana.
Di rumahnya bersama Kylia, makanan sering kali hadir sebagai bagian dari rutinitas. Mereka memasak karena memang harus makan. Kadang Kylia memasak, kadang Kael membantu. Beberapa kali Isolde ikut mengajarkan mereka makanan dari permukiman.
Namun malam ini berbeda.
Seseorang menyiapkan makanan karena ingin menjamu dirinya.
Kael menunduk dan kembali makan.
"Terima kasih."
Elora mengangguk.
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Kurir?"
"Ya."
"Masih sama."
"Melelahkan?"
"Kadang."
"Lebih melelahkan daripada bertarung?"
Kael tertawa pendek.
"Jauh berbeda."
Elora mengambil sepotong roti.
"Mana yang lebih kau sukai?"
Kael tidak langsung menjawab.
Ia memandang sup di hadapannya.
"Dulu aku mungkin akan bilang bertarung."
"Dulu?"
"Sekarang..." Ia mengangkat bahu. "Mengantar barang lebih sederhana."
"Sesederhana itu?"
"Orang memberimu sesuatu. Kau membawanya ke tempat lain. Selesai."
Elora tersenyum.
"Kau terdengar seperti orang yang baru menemukan hidup normal."
Kael terdiam.
Kalimat itu seharusnya tidak berarti banyak.
Namun entah kenapa, ia tidak bisa langsung menertawakannya.
Ia memandang rumah kecil itu. Tungku yang menyala rendah. Rak kayu yang sedikit miring. Mangkuk yang tidak semuanya memiliki ukuran sama. Kain yang dijemur di dekat jendela. Suara orang-orang di luar yang perlahan semakin sepi.
"Aku memang sedang mencobanya."
Elora tidak mengejar jawaban.
Ia hanya menuangkan sup ke mangkuk Kael yang hampir kosong.
"Kau masih sering datang ke sini."
"Ya."
"Karena Vrille?"
Kael berpikir sebentar.
"Awalnya."
"Dan sekarang?"
Kael memandang mangkuknya.
"Kurasa karena tempat ini tenang."
Elora mengangguk.
Tidak ada pertanyaan berikutnya.
Itulah yang membuat Kael merasa nyaman.
Di luar rumah itu, nama-nama tertentu selalu memiliki berat. Petarung. Guild. Kapten. Kerajaan. Umbra Veil. Pertempuran. Kuil. Mana. Pengkhianatan. Semua hal yang telah melekat pada hidupnya seperti lapisan besi.
Di sini, orang bisa bertanya apakah ia lapar.
Bisa meminta bantuan memindahkan karung.
Bisa membicarakan harga bahan makanan.
Bisa mengeluh tentang atap bocor.
Tidak seorang pun perlu mengetahui berapa banyak orang yang pernah ia bunuh untuk memahami bahwa ia sedang makan malam.
Elora mengambil daging panggang.
"Orang-orang di sini mulai terbiasa dengan Solmaria."