Veilbound: Beyond the Ashen Crown

Diva Amane
Chapter #7

Dua Kehidupan

Langit Solmaria berwarna putih pucat pada siang itu. Matahari tertutup lapisan awan tipis yang membuat cahaya jatuh lembut di atas jalan-jalan kota, sementara udara membawa bau tanah kering, kayu terbakar, dan roti yang baru dikeluarkan dari tungku. Tidak ada suara perang. Tidak ada lonceng peringatan. Tidak ada pasukan yang berbaris di kejauhan.

Hanya suara roda gerobak.

Langkah orang-orang.

Teriakan pedagang.

Dan sesekali bunyi palu dari bengkel yang terus bekerja sejak pagi.

Kael berjalan di antara semua itu dengan tas kurir tergantung di bahu.

Sebuah surat untuk pengrajin kulit.

Dua paket kecil berisi obat.

Satu dokumen yang harus diserahkan ke kantor administrasi di sisi timur kota.

Tidak ada satu pun yang penting bagi kerajaan.

Tidak ada yang akan dicatat dalam sejarah.

Dan justru karena itu, Kael mulai menyukai pekerjaannya.

Ia berhenti di depan sebuah rumah dengan pintu biru, menyerahkan paket, menerima tanda tangan, lalu melanjutkan perjalanan.

Satu alamat.

Kemudian alamat berikutnya.

Tidak lebih.

Ketika ia pulang menjelang sore, bahunya pegal dan telapak kakinya terasa panas. Ia membuka pintu pondok dengan cara yang sudah menjadi kebiasaan, meletakkan tas di tempat yang sama, lalu menemukan Kylia sedang duduk di dekat jendela.

Perempuan itu sedang memperbaiki tali pada sarung pedangnya.

Kael menatapnya.

"Kau tidak latihan?"

"Sudah."

"Sendirian?"

"Sebentar."

Kylia mengangkat bahu kanannya, menguji gerakan.

Masih ada rasa tidak nyaman. Tidak separah sebelumnya, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa tubuhnya belum kembali seperti dulu.

Kael melepaskan mantel.

"Bagaimana?"

"Lebih baik."

"Bagus."

Ia mengambil kendi air.

Kylia memperhatikannya minum hampir setengah kendi sekaligus.

"Kau berjalan terlalu jauh."

"Aku kurir."

"Itu bukan alasan."

"Itu memang pekerjaanku."

Kylia mendengus.

Hari-hari mereka belakangan memang seperti itu.

Sederhana.

Berulang.

Hampir membosankan.

Dan bagi dua orang yang sebelumnya terbiasa hidup dengan kemungkinan kematian setiap kali membuka mata, kebosanan memiliki rasa yang aneh.

Kael duduk di kursi.

Kakinya diluruskan.

Kylia kembali memperbaiki tali.

Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara.

Dari luar, terdengar suara seorang anak berlari melewati halaman. Disusul teriakan ibunya. Kemudian suara roda kereta menjauh.

Kael menatap langit melalui jendela.

"Kalau dipikir-pikir..."

Kylia tidak mengangkat kepala.

"Apa?"

"Hidup kita sekarang aneh."

"Karena?"

"Beberapa bulan lalu, aku bahkan tidak tahu apakah aku akan bangun keesokan harinya."

Kylia menghentikan tangannya.

Kael melanjutkan, "Sekarang aku mengeluh karena harus berjalan mengantar paket."

"Dan aku mengeluh karena bahuku sakit."

"Masalah yang sangat besar."

"Jangan meremehkan bahuku."

Kael tersenyum.

"Aku tidak."

Kylia menatapnya.

Kael menyandarkan kepala ke kursi.

"Rasanya seperti hidup orang lain."

Kylia tidak langsung menjawab.

Ia melihat sekeliling.

Meja kayu.

Dua kursi.

Rak tempat mereka menyimpan pakaian.

Beberapa peralatan dapur.

Sepasang sepatu Kael yang dilempar sembarangan dekat pintu.

Pedang Kylia yang selalu diletakkan pada jarak yang bisa dijangkaunya.

Tidak banyak.

Namun benda-benda itu telah berpindah tempat berkali-kali sampai akhirnya menemukan posisi masing-masing.

"Aku kira..." Kylia berkata pelan, "kita mulai punya rumah."

Kael membuka mata.

"Rumah?"

"Jangan membuatku mengulanginya."

Kael tersenyum.

Ia tidak menertawakan.

"Ya."

Kylia kembali melihat ruangan itu.

"Belum aman."

Kael mengikuti pandangannya.

Ia tahu maksudnya.

Tidak semua bahaya telah hilang. Mereka masih membawa masa lalu. Masih ada nama yang lebih baik tidak disebut terlalu keras. Masih ada wilayah yang tidak bisa mereka masuki dengan bebas. Masih ada orang-orang yang mungkin mengingat apa yang telah mereka lakukan atau apa yang pernah mereka lawan.

Namun di antara semua itu, mereka tetap memiliki sebuah pintu yang bisa mereka tutup.

Sebuah meja.

Dua cangkir.

Tempat tidur.

Dan seseorang yang akan bertanya kenapa ia terlambat pulang.

Kael tersenyum kecil.

"Rumah sungguhan."

Kylia mengangguk.

Tidak ada yang mengatakan lebih jauh.

Sore berjalan turun perlahan.

Mereka makan.

Kemudian Kael berlatih sebentar di halaman dengan kapak panjang barunya. Kylia duduk di teras dan mengamati.

Gerakan Kael belum sempurna.

Kadang tubuhnya masih tertarik mengikuti momentum kapak. Kadang tangan kirinya terlambat merespons ketika perpindahan posisi terlalu cepat.

Namun sekarang ia tidak lagi mencoba memaksa senjata itu menjadi dua kapak lamanya.

Ia berhenti ketika salah.

Mengulang.

Mengubah pijakan.

Mencoba lagi.

Kylia hanya memberi beberapa koreksi.

"Jangan bahu."

Kael mengulang.

"Pinggul."

Ia mengulang lagi.

"Kaki kiri terlalu lambat."

Lihat selengkapnya