Pagi datang bersama kabut yang belum terangkat dari jalan-jalan batu. Cahaya matahari hanya tampak sebagai warna putih di balik langit kelabu, sementara lonceng dari menara kecil di pusat kota berdentang tiga kali, menandai dimulainya hari yang bagi sebagian warga dianggap lebih suci daripada hari-hari lainnya.
Di sebuah rumah sederhana tidak jauh dari alun-alun, seorang ibu sedang melipat pakaian untuk terakhir kalinya.
Kain putih itu dibentangkan di atas meja.
Ia merapikan lipatannya.
Kemudian membuka kembali.
Memeriksa jahitan pada bagian kerah.
Menarik benang kecil yang keluar.
Baru setelah itu ia melipatnya lagi.
Di samping pakaian tersebut terdapat mantel perjalanan, dua pasang kaus kaki, sebotol minyak wangi, bekal makanan, dan sebuah kantong kecil berisi uang.
Semuanya sudah diperiksa berkali-kali.
Namun tangan perempuan itu masih bergerak.
Seolah selalu ada sesuatu yang belum selesai.
"Bu."
Suara itu datang dari belakang.
Ia menoleh.
Anaknya berdiri di ambang pintu.
Enam belas tahun.
Wajahnya masih menyimpan garis-garis masa kanak-kanak, meskipun sejak beberapa minggu terakhir ia berusaha berdiri lebih tegak setiap kali mengenakan pakaian upacara. Rambutnya sudah dirapikan. Pakaian putih dengan lambang Helia di dada telah dikenakan sejak pagi.
Ibunya tersenyum.
"Sudah bangun?"
"Sudah dari tadi."
"Sudah makan?"
Anak itu mengangguk.
"Sedikit."
"Sedikit bukan makan."
"Aku tidak terlalu lapar."
Perempuan itu mengambil sepotong roti dari meja.
"Makan."
Anaknya menerima.
Ia menggigit sedikit.
Ibunya memperhatikan.
"Habiskan."
Anak itu tersenyum kecil.
"Baik."
Perempuan itu membuang muka sebelum senyumnya berubah.
Di ruang lain, suara ayahnya terdengar.
"Biarkan dia."
Sang ayah muncul sambil mengenakan pakaian terbaiknya. Tidak mewah, tetapi bersih dan rapi. Ia membawa sebuah kotak kayu kecil yang telah disiapkan sejak malam sebelumnya.
"Dia akan baik-baik saja."
Sang ibu menatapnya.
"Kau terlalu tenang."
"Kenapa aku harus tidak tenang?"
"Karena dia pergi."
Ayah itu terdiam sebentar.
Kemudian mendekati anaknya dan meletakkan tangan di bahunya.
"Dia tidak pergi untuk sesuatu yang memalukan."
"Tidak."
"Dia dipilih."
Sang ibu menunduk.
"Dia tetap anak kita."
"Aku tahu."
Sang ayah tersenyum kepada anaknya.
"Justru karena itu aku bangga."
Anak laki-laki tersebut tidak menjawab.
Ayahnya membuka kotak kayu.
Di dalamnya ada sebuah liontin kecil berbentuk lingkaran dengan ukiran sinar matahari.
"Ini dari kakekmu."
Anak itu mengambilnya.
"Dia memberikannya padamu?"
"Dia bilang suatu hari kau akan cukup besar untuk membawanya."
Anak itu memegang liontin tersebut dengan kedua tangan.
Sang ayah membantu memasangkannya di leher.
"Jaga baik-baik."
"Ya."
Ibunya memalingkan wajah.
Tangannya kembali merapikan pakaian yang sudah rapi.
Ia tahu suaminya tidak bermaksud menyakitinya.
Ia juga tahu laki-laki itu benar tentang satu hal.
Di mata masyarakat, tidak ada alasan untuk malu.
Anak mereka dipilih untuk mengikuti persembahan Helia.
Tidak semua anak mendapat kesempatan.
Tidak semua keluarga memiliki nama yang disebut dalam daftar.
Selama bertahun-tahun, masyarakat telah mengajarkan makna yang sama kepada mereka.
Pergi ke Kuil Helia adalah kehormatan.
Mengabdi kepada dewi adalah kehormatan.
Dipilih adalah kehormatan.
Dan keluarga yang mampu mengantar anaknya dengan kepala tegak akan dikenang sebagai keluarga yang telah memberikan sesuatu kepada cahaya.
Namun tidak satu pun dari kata-kata itu mampu membuat tangan seorang ibu berhenti gemetar.
--o--
Di rumah sebelah, seorang gadis enam belas tahun sedang berdiri di depan cermin.
Ia mengenakan pakaian yang hampir sama.
Putih.
Bersih.
Dengan garis emas tipis di bagian lengan dan lambang Helia di dada.
Ibunya sedang menyisir rambutnya.
"Jangan bergerak."
"Aku tidak bergerak."
"Kepalamu miring."
Gadis itu kembali menegakkan kepala.
Di luar, suara warga mulai terdengar.
Kereta yang akan membawa mereka telah tiba di dekat alun-alun.
Beberapa anak kecil berlari-lari di jalan sambil mencoba melihat roda kereta dari sela orang dewasa.
Gadis itu melihat dirinya sendiri di cermin.
"Bu."
"Hm?"
"Menurut Ibu, Kuil Helia benar-benar sebesar yang diceritakan?"
Ibunya tersenyum.
"Lebih besar."
"Seperti apa?"
"Aku belum pernah melihatnya."
Gadis itu menoleh.
"Belum?"
Ibunya menggeleng.
"Tapi nenekmu pernah."
"Katanya?"
"Katanya dindingnya tinggi sekali."
Gadis itu tersenyum.
"Kalau begitu aku ingin melihatnya."
Ibunya berhenti menyisir.
Ia menatap putrinya melalui cermin.
"Kau takut?"
Gadis itu terdiam.
Sedikit.
"Sedikit."
Ibunya meletakkan sisir.
"Kau tidak harus malu."
"Ayah bilang aku harus bangga."
"Kau boleh bangga dan takut sekaligus."
Gadis itu menundukkan kepala.
"Berapa lama?"
Ibunya tidak segera menjawab.
Ia tahu pertanyaan itu.
Semua orang tahu perjalanan tersebut tidak singkat.
Namun lamanya waktu yang akan mereka habiskan di sana tidak pernah menjadi bagian dari pembicaraan di depan umum.
"Entahlah."
Jawaban itu cukup membuat gadis tersebut menatapnya.
"Entahlah?"
"Kau akan tahu setelah sampai."
Gadis itu memegang ujung pakaiannya.
"Aku akan pulang, kan?"
Ibunya tersenyum.
Senyum yang terlalu hati-hati.
"Tentu."
Keduanya saling memandang melalui cermin.