Langit Umbra Veil berubah warna sebelum matahari benar-benar terbit.
Kabut tipis menggantung di antara menara batu dan atap-atap hitam yang mengelilingi kompleks Kuil Helia, menangkap cahaya pagi hingga seluruh kota tampak diselimuti lapisan emas pucat. Dari kejauhan, lonceng-lonceng besar mulai berdentang satu demi satu. Suaranya merambat melewati tembok, jalan batu, barak, halaman istana, hingga ke permukiman yang berdiri rapat di bawah bayang-bayang benteng.
Hari Persembahan Matahari telah dimulai.
Jalan utama menuju kuil dipenuhi rombongan yang datang sejak sebelum fajar. Kereta-kereta kayu berhenti bergantian di pelataran luar. Sebagian membawa keluarga dari wilayah manusia yang telah menempuh perjalanan berhari-hari. Sebagian lainnya datang dari daerah yang lebih jauh, membawa dua, tiga, bahkan lebih banyak pemuda dalam pakaian terbaik yang mereka miliki. Putih, emas, krem, merah tua. Di dada mereka terpasang lambang Helia, dijahit atau disematkan dengan benang yang kadang terlalu baru untuk pakaian yang telah lama digunakan.
Di antara kerumunan itu, seorang anak laki-laki berusia enam belas tahun berdiri sambil menggenggam ujung lengan ibunya.
Ia tidak menangis.
Setidaknya belum.
Di sampingnya berdiri seorang gadis seusianya yang datang dari keluarga tetangga. Mereka berdua mengenakan pakaian putih yang telah disiapkan keluarga masing-masing. Pita putih mengikat pergelangan tangan mereka, sementara sebuah lambang matahari kecil tergantung di leher.
"Jangan lupa apa yang diajarkan," bisik sang ibu.
Anak laki-laki itu mengangguk.
Ayahnya menepuk bahunya sekali. Tegas. Bangga.
"Ini kehormatan."
Kata itu sudah didengarnya berkali-kali sejak mereka meninggalkan rumah.
Kehormatan.
Ia mencoba merasakan makna kata tersebut di dalam dadanya.
Yang terasa justru berat.
Namun ketika lonceng kedua berbunyi, kerumunan bergerak. Seorang pejabat Kuil Helia berdiri di atas undakan batu dan mengangkat tongkat upacara. Jubahnya putih dengan garis emas pada bagian tepi. Di belakangnya, puluhan pendeta membentuk dua baris menuju pintu utama kuil.
"Anak-anak persembahan," serunya, suaranya diperkuat oleh gema arsitektur batu, "hari ini kalian berdiri di bawah cahaya Helia."
Kerumunan menjadi sunyi.
"Langkah kalian adalah penghormatan. Keberadaan kalian adalah janji. Lima hari ini akan menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi."
Tangan ibu itu semakin erat menggenggam lengan anaknya.
Lalu, perlahan, genggamannya dilepaskan.
Bukan karena ia ingin melepaskan.
Karena barisan telah bergerak.
--o--
Di balik dinding kuil yang tidak terlihat oleh sebagian besar pengunjung, suara lonceng terdengar jauh lebih redup.
Ruangan itu panjang, dingin, dan dipenuhi meja.
Tidak ada altar.
Tidak ada dupa.
Tidak ada patung Helia.
Yang ada hanyalah lembaran, segel, papan nama, tinta, dan petugas.
Seorang pejabat militer memeriksa daftar di hadapannya.
"Kelompok tujuh belas?"
"Sudah masuk."
"Wilayah asal?"
"Barat daya."
"Jumlah?"
"Empat puluh dua."
"Usia?"
"Enam belas sampai tujuh belas."
Petugas di depannya memberi tanda pada lembar administrasi.
Satu demi satu nama berpindah dari daftar kedatangan menuju daftar penempatan.
Tidak ada suara doa di ruangan tersebut.
Hanya bunyi pena.
Goresan.
Kertas dibalik.
Segel ditekan.
Satu nama diberi tanda biru.
Nama berikutnya merah.
Nama lain hitam.
Warna-warna itu bukan bagian dari ritual keagamaan.
Itu adalah sistem.
Seorang petugas muda berhenti pada satu lembar.
"Yang ini?"
"Periksa ulang."
"Sudah diperiksa."
"Usianya?"
"Enam belas."
"Wilayah?"
"Solmaria utara."
"Status keluarga?"
Petugas membaca kolom tersebut.
"Lengkap."
"Masukkan."
Cap berbentuk matahari ditekan ke atas dokumen.
Tekanan tangannya membuat tinta menyebar sedikit pada tepi simbol.
"Berikutnya."
Pintu di ujung ruangan terbuka. Sekelompok pemuda masuk dengan wajah yang masih membawa sisa ketegangan perjalanan. Beberapa menoleh ke belakang, mencari orang tua mereka. Beberapa mencoba tersenyum.
Tidak seorang pun di ruangan administrasi itu mengatakan bahwa mereka sedang memasuki sistem militer.
Tidak perlu.
Sistem itu sudah mengetahui ke mana mereka akan pergi.
--o--
Hari pertama berlangsung seperti sungai yang tidak pernah berhenti.
Dari pagi hingga menjelang malam, rombongan terus berdatangan.
Pelataran Kuil Helia dipenuhi kain putih dan lambang matahari. Para pendeta membacakan doa lama yang telah dihafal sejak masa kanak-kanak. Lilin dinyalakan di sepanjang undakan. Mangkuk-mangkuk persembahan diletakkan di depan altar. Musik ritual dimainkan oleh kelompok pemusik yang berdiri di bawah lengkungan batu.
Dari luar, semuanya tampak seperti perayaan agama.
Masyarakat datang untuk menyaksikan.
Anak-anak kecil berlarian di antara kaki orang dewasa.
Pedagang menjual roti, buah kering, kain putih, dan medali kecil bergambar matahari.
Para orang tua menangis ketika anak mereka memasuki gerbang dalam.
Beberapa bahkan tersenyum ketika menceritakan kepada tetangga bahwa anak mereka telah dipilih untuk melayani Helia.
Tetapi setiap kali seorang remaja melewati gerbang tertentu, seorang petugas mencatat waktunya.
Setiap kali satu kelompok tiba, jumlahnya dicocokkan.
Setiap kali sebuah nama masuk, tempat tidur telah disiapkan.
Seragam telah dihitung.
Jatah makan telah dihitung.
Instruktur telah diberi daftar.
Barak telah dibersihkan.
Gudang senjata telah menerima permintaan baru.
Tidak ada satu bagian pun dari proses tersebut yang berdiri sendiri.
Hari Persembahan Matahari bukan sekadar lima hari upacara.
Ia adalah jaringan yang bergerak bersamaan.
Di satu sisi benua, sebuah desa mungkin sedang mengadakan perpisahan.
Di sisi lain, sebuah barak mungkin sedang menyiapkan ranjang.
Di tempat lain, seorang pejabat sedang menandatangani dokumen.
Dan jauh dari kuil, seorang instruktur militer sedang menerima daftar nama yang bahkan belum pernah ditemuinya.
Jumlah manusia berpindah dari satu kolom ke kolom lain.
Dari keluarga.
Ke kuil.
Dari kuil.
Ke kerajaan.
--o--
Hari kedua, hujan turun.
Awan menggantung rendah di atas Umbra Veil, membuat cahaya matahari hanya menjadi bayangan pucat di balik lapisan kelabu. Air mengalir dari ujung atap batu dan membasahi pelataran kuil.
Namun upacara tidak berhenti.
Para pendeta mengenakan jubah luar berlapis. Pengawal berdiri di sepanjang jalan. Rombongan baru tetap datang.
Seorang gadis menangis ketika ibunya melepaskan tangannya.
"Aku akan kembali," katanya.
Ibunya tersenyum.
"Kau akan kembali."
Keduanya sama-sama tahu bahwa tidak ada seorang pun yang menjanjikan kapan.
Seorang petugas kuil datang.
"Waktunya."
Gadis itu mengangguk.
Ia berjalan.
Lima langkah.
Sepuluh.
Dua puluh.
Kemudian ia melewati pintu batu.
Ibunya tidak dapat melihatnya lagi.
Di balik pintu itu, seorang pejabat kerajaan menyerahkan papan identitas.
"Nama."
Gadis itu menjawab.
"Usia."
Enam belas.
"Wilayah asal."
Ia menyebutkannya.
"Keahlian?"
Gadis itu terdiam.
"Saya tidak tahu."
Petugas tersebut tidak menunjukkan reaksi.
"Baik."
Ia memberi tanda pada lembar.
"Kelompok tiga puluh satu."
Gadis itu menerima papan tersebut.
"Ikuti garis putih."
Di lantai, memang ada garis putih.
Ia mengikutinya.
Beberapa meter kemudian garis tersebut bercabang menjadi tiga.
Di ujung masing-masing jalur terdapat pintu.