Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat ketika roda-roda kereta pertama mulai menggores jalan batu di pinggiran Solmaria. Udara masih membawa sisa dingin malam, bercampur dengan bau tanah basah, jerami, dan asap kayu dari rumah-rumah yang baru menyalakan tungku. Dari kejauhan, lonceng pasar berbunyi tiga kali, disusul teriakan pedagang yang mulai membuka lapak. Jalan utama perlahan dipenuhi orang yang membawa keranjang, gerobak, karung gandum, dan peti-peti kecil dari wilayah pedalaman.
Kael berjalan di antara semua itu dengan tas kulit tergantung di bahu kirinya.
Tas tersebut tidak berat.
Beberapa surat.
Dua dokumen dagang.
Satu paket kecil berisi obat-obatan.
Empat amplop untuk rumah-rumah yang terletak di sepanjang jalur utara.
Tidak ada pedang di pinggangnya. Tidak ada lambang guild yang mencolok di dadanya. Tidak ada senjata yang membuat orang menyingkir ketika ia lewat.
Hanya pakaian kerja, sepatu yang mulai kotor oleh lumpur, dan sebuah tanda kecil milik kantor kurir Solmaria.
Sudah beberapa minggu ia menjalani rute yang sama.
Awalnya ia menghafal jalan karena pekerjaan menuntutnya demikian. Sekarang ia mulai mengenali jalan itu bahkan tanpa berpikir.
Rumah dengan pagar rendah di dekat pohon apel.
Toko kain yang selalu membuka pintu lebih lambat daripada toko lain.
Penginapan kecil yang pemiliknya selalu menyapu halaman dua kali.
Bengkel roda yang suaranya sudah terdengar bahkan sebelum bangunan terlihat.
Dan sebuah rumah batu di ujung tanjakan tempat seorang lelaki tua selalu menunggu suratnya sendiri di ambang pintu.
Kael melihat lelaki itu dari kejauhan.
"Datang juga."
Lelaki tersebut mengangkat tangan.
"Kalau tidak datang, siapa yang akan mengantarkan?"
Kael berhenti di depan pagar.
"Surat."
"Berita buruk?"
"Belum sempat kubaca."
Lelaki itu mendengus.
"Bagus. Kurir yang membaca surat orang lain biasanya berakhir tidak dipercaya."
Kael menyerahkan amplop.
Lelaki tersebut menerimanya dengan kedua tangan, memeriksa segelnya, lalu menyelipkannya ke dalam pakaian.
"Terima kasih."
Kael mengangguk dan berbalik.
"Besok lewat sini lagi?"
Kael menoleh.
"Kalau rutenya tidak berubah."
"Jangan berubah."
Lelaki itu berkata seolah-olah Kael memiliki kuasa atas jadwal kantor kurir.
Kael hanya mengangkat tangan sebelum melanjutkan perjalanan.
Dulu, ia mungkin tidak akan mengingat wajah lelaki tersebut.
Sekarang ia tahu namanya.
Dan ia mulai menyadari bahwa lelaki itu juga sudah mengingat namanya.
--o--
Menjelang tengah hari, jalur perdagangan mulai ramai.
Kereta-kereta besar bergerak menuju kota. Roda besi menghantam batu jalan dan menghasilkan suara berulang yang membuat tanah di bawah kaki terasa bergetar. Pedagang dari wilayah pedalaman membawa hasil panen, kain, kayu, dan bahan makanan. Beberapa dari mereka menggunakan jasa kurir bukan hanya untuk surat pribadi, tetapi juga untuk mengirim dokumen transaksi, catatan pembayaran, dan permintaan barang.
Kael berhenti di sebuah toko rempah yang berada di persimpangan.
Pemiliknya seorang saudagar bertubuh lebar dengan rambut mulai memutih di pelipis. Lelaki itu bahkan belum menunggu Kael mengetuk pintu.
"Untukku?"
Kael mengangkat amplop.
"Untukmu."
"Kalau begitu masuk."
"Aku masih punya tiga kiriman."
"Masuk sebentar."
Nada suaranya tidak memberi banyak ruang untuk menolak.
Kael akhirnya masuk.
Toko itu berbau tajam. Kayu manis, lada, akar kering, daun pahit, dan sesuatu yang tidak berhasil dikenali Kael bercampur menjadi satu. Karung-karung kecil ditumpuk sampai hampir menyentuh langit-langit.
Saudagar itu membuka surat sambil berjalan.
"Namamu Kael, bukan?"
Kael berhenti.
"Ya."
"Aku pernah lihatmu beberapa kali."
"Rute ini memang lewat sini."
"Bukan itu."
Saudagar tersebut menatapnya dari balik surat.
"Kau berjalan seperti orang yang selalu memeriksa pintu keluar."
Kael diam.
Lelaki itu terkekeh kecil.
"Jangan tersinggung. Aku berdagang. Aku memperhatikan orang."
"Aku juga memperhatikan jalan."
"Kurir yang baik memang begitu."
Saudagar itu melipat surat.
"Tapi kau bukan hanya kurir."
Kael merapikan tali tas di bahunya.
"Aku bekerja sebagai kurir."
"Itu bukan jawaban."
"Memang bukan pertanyaan."
Saudagar itu tertawa.
Untuk sesaat Kael hampir tersenyum.
Lelaki tersebut kemudian bersandar pada meja kayu.
"Kau pernah bekerja sebagai pengawal?"
"Tidak."
"Prajurit?"
Kael menatap tumpukan karung di sampingnya.
"Kenapa?"
"Caramu membawa barang. Cara melihat orang. Cara berdiri. Orang biasa tidak melakukan itu."
"Orang biasa juga bisa belajar berdiri."
"Dan bergerak seperti itu?"
Kael menghela napas.
Ia tidak menyukai arah pembicaraan tersebut.
Bukan karena pertanyaan itu salah.
Justru karena terlalu dekat.
Masa lalu memiliki kebiasaan buruk. Ia tidak selalu datang dalam bentuk musuh atau pedang. Kadang ia muncul melalui pertanyaan sederhana dari seseorang yang bahkan tidak bermaksud menggali terlalu dalam.
"Bagaimana jalan dari selatan?" tanya Kael.
Saudagar itu berkedip.
"Apa?"
"Jalan selatan. Aku dengar kemarin hujan deras."
Lelaki itu masih menatapnya.
Kemudian ia mengerti bahwa pembicaraan telah dipindahkan.
"Rusak."
"Parah?"
"Jembatan kecil sebelum ladang gandum berlubang. Kereta besar masih bisa lewat, tapi harus pelan."
Kael mengangguk.
"Berarti besok rute pengiriman mungkin terlambat."
"Kalau hujan turun lagi, pasti."
"Terima kasih."
Kael berbalik.
"Kael."
Ia berhenti di ambang pintu.
Saudagar itu tidak lagi tersenyum.
"Kalau suatu hari kau bosan menjadi kurir, datanglah."
Kael menoleh.
"Aku butuh orang yang bisa dipercaya."
Tidak ada jawaban segera.
Kael hanya mengangguk kecil.
"Akan kuingat."
Lalu ia keluar.
Udara luar terasa lebih ringan daripada udara toko.
Namun langkahnya sedikit lebih cepat.
--o--
Rute siang membawanya melewati permukiman yang lebih padat.
Di sini, orang-orang mulai mengenalinya bukan karena namanya tercatat pada daftar pekerjaan, tetapi karena ia muncul pada jam yang hampir sama setiap hari.
Seorang penjual roti melambaikan tangan.
"Kael!"
Kael berhenti.
"Surat untukmu?"