Kabut pagi masih menggantung rendah di atas tanah ketika bunyi besi pertama kali membelah udara.
Bukan benturan.
Hanya desingan pendek.
Kapak bermata dua yang dipasang pada gagang panjang bergerak melewati sisi tubuh Kylia, berhenti beberapa jengkal dari bahunya, lalu berputar kembali. Ujung bilahnya menangkap cahaya matahari yang baru naik dari balik pepohonan. Tanah di bawah kaki Kael telah dipenuhi jejak sepatu yang saling bertumpuk sejak satu jam terakhir.
Kylia tidak bergerak.
Ia hanya memperhatikan.
Kael mengembalikan kapak ke posisi awal, menarik napas, lalu mengubah pijakannya.
"Ulangi."
Kael mengangkat alis.
"Yang mana?"
"Semuanya."
Ia menghela napas.
"Sejak awal?"
"Sejak awal."
Kael memutar bahunya.
Tangan kirinya masih belum sepenuhnya dapat dipercaya. Kadang responsnya datang terlambat sepersekian detik. Kadang gerakannya terasa seperti milik tubuh yang sama tetapi bukan bagian dari kehendaknya sendiri. Karena itulah Arelith membuat senjata baru tersebut dengan keseimbangan yang berbeda. Gagangnya lebih panjang. Kedua sisi bilahnya memberi kemungkinan serangan dari arah berlawanan.
Secara teori, senjata itu seharusnya memberinya jangkauan yang tidak dapat diberikan oleh dua kapak pendek.
Dalam praktiknya, Kael masih sering memperlakukannya seperti dua kapak yang disatukan.
Ia mengambil ancang-ancang.
Kaki kanan maju.
Bahu berputar.
Kapak diayunkan dari bawah ke atas.
Kemudian tubuhnya mengikuti momentum bilah terlalu jauh.
Kael memutar gagang untuk membawa sisi kedua menuju depan, tetapi gerak tersebut membuat bahunya terbuka.
Kylia langsung menunjuk.
"Berhenti."
Kael menghentikan gerakannya.
"Apa?"
"Kau membiarkan senjatamu menarik tubuhmu."
"Memang begitu cara kerjanya."
"Justru itu masalahnya."
Kael menatap kapak di tangannya.
Kylia mendekat beberapa langkah.
"Ulangi dari gerakan kedua."
Kael menurut.
Ia mengayunkan kapak.
"Jangan."
Kael berhenti.
"Kenapa?"
"Kau menggunakan bahu."
"Ini kapak."
"Kapak bukan alasan untuk menggerakkan seluruh tubuh setiap kali menyerang."
Kael menyipitkan mata.
"Kau ingin aku menyerang dengan tangan?"
"Aku ingin kau berhenti berpikir bahwa setiap serangan harus memiliki tenaga sebesar itu."
Ia mengambil posisi di depan Kael.
"Perhatikan."
Kylia tidak membawa pedang.
Ia hanya menggunakan tubuhnya.
Kaki kirinya bergerak setengah langkah. Pinggang berputar sedikit. Bahunya mengikuti, tetapi tidak berlebihan. Gerakan tangannya pendek.
"Kalau lawan mundur, kau masih punya jarak."
Ia bergeser.
"Kalau lawan masuk, kau masih punya kendali."
Ia kembali ke posisi semula.
"Kalau kau menghabiskan seluruh berat badanmu pada satu ayunan, setelah itu kau tidak punya apa-apa."
Kael diam.
Kylia menatapnya.
"Itulah yang selama ini kau lakukan."
"Berhasil."
"Melawan siapa?"
Kael tidak menjawab.
Kylia tahu jawabannya.
"Melawan lawan yang memberimu waktu."
Ia menunjuk tanah di antara mereka.
"Di medan sempit, kau tidak selalu punya ruang untuk mengayunkan senjata seperti itu."
Kael menghela napas.
"Jadi?"
"Jadi kita mulai dari hal yang paling sederhana."
Kylia mengambil sepotong ranting yang tergeletak di tanah.
"Jangan pikirkan serangan."
Ia menggambar dua garis pendek di tanah.
"Pikirkan jarak."
--o--
Matahari naik perlahan.
Kabut menghilang dari rerumputan dan berubah menjadi embun yang berkilau di ujung daun. Dari rumah-rumah sekitar terdengar suara kegiatan pagi, tetapi area latihan di belakang tempat tinggal mereka cukup jauh dari jalan utama untuk tetap tenang.
Kael berdiri dengan kedua kaki terbuka.
Kapak berada di depan tubuh.
Kylia berdiri sekitar dua langkah di depannya.
"Serang."
Kael mengayunkan kapak.
Kylia mundur setengah langkah.
"Berhenti."
Kael menahan gerakannya.
"Kenapa?"
"Kau terlalu jauh."
"Kalau aku mendekat, jangkauanku hilang."
"Jangkauanmu tidak hilang."
Kylia maju kembali.
"Jangkauanmu justru lebih terkontrol."
Ia menekan ujung gagang kapak dengan tangan kosong.
"Senjata panjang tidak berarti kau harus selalu bertarung dari jarak terjauh."
Kael menggeser tangan pada gagang.
"Kalau lawan masuk?"
"Putar."
"Kalau dia menekan?"
"Tarik."
"Kalau dia menebas?"
"Jangan lawan bilahnya."
Kael menatapnya.
"Terus?"
"Ubah arah."
Jawabannya sederhana.
Terlalu sederhana.
Kael mencobanya.
Ayunan pertama lebih pendek.
Ia gagal menjaga keseimbangan.
Ayunan kedua berhasil, tetapi tangan kirinya terlambat mengikuti rotasi.
Ayunan ketiga terlalu besar lagi.
Kylia memukul gagang kapak dengan telapak tangannya.
"Berhenti."
Kael menatapnya.
"Kau kembali."
"Aku tahu."
"Kenapa?"
"Karena tubuhku sudah terbiasa."
"Itu masalahnya."
Kael menunduk sebentar.
Kylia tidak langsung berkata apa-apa.
Mereka berdua tahu tubuh memiliki ingatan sendiri.
Bertahun-tahun menggunakan dua kapak telah membuat Kael membangun sistem yang bahkan tidak lagi membutuhkan pikirannya untuk bekerja. Kaki bergerak sebelum ia menyadarinya. Pinggang berputar sebelum ia memberi perintah. Tangan kanan mengantisipasi tangan kiri.
Dulu, itu adalah keunggulannya.
Sekarang, sebagian dari sistem itu justru menjadi penghalang.
Kylia berjalan mengitari Kael.
"Jangan lawan kebiasaanmu."
Kael menoleh.
"Kalau tidak dilawan, bagaimana aku mengubahnya?"