Veilbound: Beyond the Ashen Crown

Diva Amane
Chapter #12

Buku yang Tidak Selesai Dibaca

Hujan turun tipis di atas Umbra Veil ketika Valrick memasuki perpustakaan pusat.

Bukan hujan deras yang membuat jalan kosong, melainkan gerimis dingin yang menggantung di udara seperti kabut basah. Menara-menara batu di sekitar kompleks pemerintahan tampak lebih gelap dari biasanya. Cahaya lampu minyak menyala di balik jendela-jendela tinggi, memantulkan garis kuning panjang pada jalan yang licin.

Valrick berhenti di bawah atap batu sebelum masuk.

Ia memandang tangannya sendiri.

Tangan itu pernah menggenggam pedang.

Pernah memegang komando.

Pernah mengangkat senjata di hadapan orang-orang yang menunggu perintahnya.

Sekarang tangan tersebut hanya membawa sebuah buku kosong untuk mencatat.

Ia masuk.

Pintu kayu tebal menutup di belakangnya dengan suara berat.

Perpustakaan pusat Umbra Veil lebih besar daripada yang dibayangkan kebanyakan orang yang tidak pernah memiliki alasan untuk masuk ke dalamnya. Rak-rak batu menjulang hingga beberapa lantai. Tangga besi menghubungkan lorong-lorong sempit. Lampu kristal menggantung dari langit-langit tinggi, cahayanya redup agar tidak merusak lembaran-lembaran tua.

Bau kertas tua, kulit, debu, dan minyak lampu bercampur menjadi satu.

Di sini, tidak ada suara pedang.

Tidak ada teriakan komandan.

Tidak ada derap pasukan.

Hanya halaman yang dibalik.

Dan bisikan.

Valrick berjalan menuju meja utama.

Penjaga perpustakaan mengenalinya.

Mereka tidak memberi hormat seperti dahulu.

Tetapi mereka juga tidak mengusirnya.

"Catatan perang," kata Valrick.

Penjaga itu menatapnya.

"Periode?"

"Semua."

Alis penjaga tersebut sedikit terangkat.

"Semua?"

"Yang berkaitan dengan perubahan pemerintahan."

Kali ini tatapan penjaga berubah.

Namun ia hanya mengambil selembar kartu pencarian.

"Rak sejarah pemerintahan di lantai dua. Arsip perang ada di timur. Catatan Dewan Tertinggi di lantai tiga."

Valrick mengangguk.

"Terima kasih."

Ia berjalan pergi.

Langkahnya terdengar kecil di antara rak-rak yang menjulang.

Dulu, orang akan membuka jalan ketika ia lewat.

Sekarang, beberapa orang bahkan tidak menoleh.

Anehnya, itu tidak mengganggunya.

Tidak lagi.

--o--

Buku pertama yang ia buka adalah catatan perang lama.

Sampulnya tebal, kulitnya mengeras karena usia.

Valrick duduk sendirian di salah satu meja panjang.

Ia membaca tentang perang yang terjadi lebih dari lima puluh tahun lalu.

Nama-nama jenderal.

Pergerakan pasukan.

Wilayah yang jatuh.

Wilayah yang kembali direbut.

Ia membaca semuanya.

Namun bukan pertempurannya yang menarik perhatiannya.

Ia mencari apa yang terjadi setelahnya.

Siapa yang mengisi jabatan kosong.

Siapa yang menandatangani perintah.

Siapa yang menentukan pengangkatan komandan.

Siapa yang mengontrol pasokan.

Siapa yang menentukan apakah pasukan benar-benar bergerak.

Ia membalik halaman.

Lalu halaman berikutnya.

Satu catatan membuat jarinya berhenti.

Sebuah perang telah berakhir dengan kemenangan Umbra Veil.

Namun raja pada masa itu tidak memimpin langsung.

Perintah militer berasal dari Dewan Tertinggi.

Valrick mengerutkan kening.

Ia membaca bagian tersebut lagi.

Kemudian ia mengambil buku catatan kecilnya.

Menulis.

Dewan.

Satu kata.

Ia menutup buku.

Mengambil buku berikutnya.

Kali ini tentang pergantian raja.

Ia membaca sampai lampu kristal di atas kepalanya berkedip.

Beberapa halaman menyebutkan pergantian takhta sebagai sesuatu yang sederhana.

Raja meninggal.

Penerus naik.

Dewan mengesahkan.

Namun di beberapa periode, kalimatnya berbeda.

Dewan menunda.

Dewan menyetujui.

Dewan menunjuk.

Dewan menolak.

Valrick berhenti membaca.

Ia mengangkat kepalanya perlahan.

"Menolak..."

Kata itu keluar hampir tanpa suara.

Selama bertahun-tahun, ia melihat Umbra Veil dari sisi militer.

Ia melihat raja sebagai puncak.

Dewan sebagai kumpulan bangsawan yang mengelilingi takhta.

Pasukan sebagai tangan kerajaan.

Sederhana.

Rapi.

Salah.

Ia mengambil buku lain.

Kemudian satu lagi.

Lalu satu lagi.

Semakin banyak ia membaca, semakin banyak pola yang muncul.

Tidak selalu jelas.

Tidak selalu konsisten.

Tetapi ada sesuatu yang berulang.

Raja tidak memegang semua keputusan.

Dewan tidak memegang semua kekuasaan.

Militer juga tidak berdiri sebagai satu kesatuan.

Kekuasaan Umbra Veil bergerak di antara mereka.

Kadang mengalir melalui takhta.

Kadang melalui dewan.

Kadang melalui orang-orang yang bahkan tidak disebut dalam catatan resmi.

Valrick menyandarkan tubuh.

Untuk pertama kalinya sejak kekalahannya, ia merasakan sesuatu yang bukan amarah.

Ketertarikan.

--o--

Malam mulai turun ketika seseorang meletakkan tiga buku di meja Valrick.

Valrick tidak perlu mengangkat kepala.

"Yang ini."

Suara itu milik seorang mantan bawahannya.

Lelaki tersebut sekarang mengenakan pakaian biasa, bukan seragam militer.

Ia meletakkan buku terakhir dengan hati-hati.

"Rak atas."

Valrick melihat sampulnya.

"Kenapa kau bisa mengambilnya?"

Lihat selengkapnya