Pagi turun di permukiman iblis dengan cahaya yang masih pucat. Kabut tipis menggantung rendah di antara atap-atap rumah, menangkap sinar matahari yang menembus celah pepohonan dan membuat jalan tanah tampak seperti dilapisi debu perak. Udara membawa bau kayu yang baru dipotong, tanah basah, asap tungku, dan sesuatu yang tidak pernah Kael rasakan beberapa bulan sebelumnya: bau kehidupan yang sedang bertambah.
Suara palu terdengar dari kejauhan.
Tak.
Tak.
Tak.
Bukan suara yang asing. Permukiman ini memang selalu memiliki seseorang yang memperbaiki pagar, mengganti atap, atau membuat perabot. Namun pagi itu bunyi tersebut datang dari lebih dari satu arah. Ada suara gergaji di sisi timur. Ada suara roda gerobak di jalan utama. Ada anak kecil tertawa di antara dua rumah. Beberapa suara asing bercampur dengan suara warga yang sudah Kael kenal.
Ia memperlambat langkah.
Di hadapannya, sebuah rumah sedang dibangun.
Dinding kayunya belum selesai. Beberapa batang kayu ditumpuk di samping fondasi batu rendah, sementara dua orang iblis bekerja mengangkat balok ke tempatnya. Di halaman yang belum memiliki pagar, seorang perempuan sedang membuka peti-peti perjalanan. Seorang anak laki-laki duduk di atas karung, memandangi lingkungan sekitar dengan tatapan yang masih terlalu hati-hati.
Kael berhenti beberapa detik.
Ketika pertama kali datang ke tempat ini, ia mengira permukiman tersebut hanya akan menjadi tempat orang-orang tertentu bersembunyi dari dunia luar. Rumah-rumahnya jarang. Jalanannya sempit. Orang-orang yang tinggal di dalamnya saling mengenal karena jumlah mereka tidak banyak.
Sekarang, ada rumah baru.
Dan rumah itu bukan milik seseorang yang Kael kenal.
"Jangan berdiri di tengah jalan."
Suara itu datang dari belakang.
Kael menoleh.
Vrille berdiri beberapa langkah darinya sambil membawa dua papan kayu di bahu. Tubuh tua itu masih tampak kokoh, meski Kael sudah tahu bahwa usia dan luka tidak lagi bisa dianggap sebagai sesuatu yang sepele pada dirinya. Great-sword yang biasanya berada di dekatnya tidak terlihat pagi itu. Sebagai gantinya, ia membawa palu besar yang membuat pemandangan itu terasa hampir tidak masuk akal.
Kael bergeser.
"Rumah baru?"
Vrille meletakkan papan kayu di dekat tumpukan bahan bangunan.
"Rumah baru."
"Sudah berapa?"
"Kalau yang selesai dan yang sedang dibangun?" Vrille menatap ke arah jalan. "Lebih banyak dari yang kupikir."
Kael kembali memandang rumah tadi.
"Kenapa mereka datang?"
Vrille tidak langsung menjawab.
Ia mengambil salah satu papan, memeriksa ujungnya, lalu menyerahkannya kepada salah seorang pekerja yang lewat.
"Karena mereka ingin hidup lebih baik."
Jawaban itu terdengar terlalu sederhana.
Kael menoleh.
Vrille mengangkat bahu.
"Sebagian orang datang karena mendengar pekerjaan di wilayah manusia lebih banyak. Ada yang ingin membuka usaha. Ada yang ingin bekerja di perkebunan. Ada yang ingin menjadi pengrajin. Ada yang sekadar ingin tempat untuk membesarkan anak."
"Jadi bukan karena dikejar?"
"Tidak semuanya."
Kael diam.
Ia sudah terlalu lama melihat iblis sebagai orang-orang yang selalu memiliki alasan untuk berlari. Diburu kerajaan. Diburu guild. Terlibat perang. Menjadi sasaran karena darah atau kemampuan mereka.
Ternyata tidak semua orang datang ke Solmaria karena ketakutan.
Sebagian datang karena harapan.
Vrille menepuk papan di sampingnya.
"Dan kalau kau berdiri terlalu lama di sana, mereka akan mengira kau patung."
Kael menghela napas.
"Baru pagi."
"Justru itu."
Salah seorang pekerja tertawa kecil.
Kael akhirnya mengambil papan lain.
"Mana yang harus dibawa?"
Vrille menunjuk ke bagian belakang rumah.
"Ke sana."
Kael mengangkatnya dan berjalan.
Papan itu tidak terlalu berat, tetapi cukup panjang sehingga ia harus memiringkannya ketika melewati jalan sempit. Seorang anak kecil yang sedang membawa keranjang buru-buru menyingkir, lalu memandang Kael dengan rasa ingin tahu.
"Permisi," kata Kael.
Anak itu mengangguk.
"Kael?"
Kael berhenti.
Anak itu tersenyum malu.
"Kau Kael, kan?"
"Ya."
"Kata ibu, kau sering membantu di sini."
Kael tidak sempat menjawab karena dari belakang terdengar suara perempuan memanggil anak tersebut.
"Jangan mengganggu orang!"
Anak itu langsung berlari.
Kael menatap punggungnya beberapa saat sebelum melanjutkan langkah.
Ia tidak tahu kapan namanya mulai dikenal di tempat ini.
Atau mungkin ia sebenarnya tahu.
Ia hanya belum terbiasa dengannya.
--o--
Menjelang pertengahan pagi, permukiman itu menjadi semakin ramai.
Gerobak pertama datang membawa barang-barang rumah tangga. Gerobak kedua membawa kayu. Setelah itu seorang lelaki tua muncul dengan dua ekor hewan penarik dan beberapa karung makanan. Mereka semua bukan rombongan besar. Tidak ada parade. Tidak ada lambang kerajaan. Tidak ada pengawal bersenjata yang mengiringi.
Mereka hanya orang-orang yang datang membawa kehidupan mereka sendiri.
Kael membantu seorang keluarga menurunkan peti dari gerobak. Ada empat orang di dalamnya. Pasangan dewasa, seorang anak perempuan, dan seorang pemuda yang kelihatannya sudah cukup besar untuk bekerja.
"Pelan," kata Kael ketika lelaki itu mencoba mengangkat dua peti sekaligus.
"Aku bisa."
"Kau akan menjatuhkan yang satunya."
Lelaki itu menatapnya.
Kael menunjuk peti yang berada di bawah.
"Yang itu miring."
Benar saja.
Lelaki tersebut segera menurunkannya.
Kael mengambil satu sisi peti. Pemuda di sebelahnya mengambil sisi lain.
"Bawa ke mana?"
"Rumah baru di ujung sana."
Mereka berjalan bersama.
"Pertama kali datang?" tanya Kael.
"Ya."
"Dari mana?"
Lelaki itu menyebut nama sebuah wilayah di utara Solmaria.
Kael tidak mengenalnya.
"Kenapa pindah?"
"Kerja."
Jawaban itu datang tanpa nada dramatis.
Kael meliriknya.
"Lahan di sana kecil. Anak-anak mulai besar. Kami dengar di sini ada pekerjaan di pengolahan batu dan kayu."
Pemuda yang membawa peti di sebelah Kael menyela.
"Ayah juga bilang upahnya lebih bagus."
Lelaki itu mendengus.
"Jangan bicara seolah-olah aku menjualmu."
Pemuda itu tertawa.
Kael ikut tersenyum tipis.
"Kalau begitu kalian datang untuk tinggal?"
"Kalau cocok."
"Kalau tidak?"
"Kami pindah lagi."
Sesederhana itu.
Kael tiba-tiba memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan. Perpindahan tidak selalu berarti kehilangan. Tidak selalu berarti seseorang meninggalkan rumah karena rumah itu hancur.
Kadang seseorang pergi karena ingin menemukan rumah yang lebih baik.
Ketika mereka tiba, Kael membantu menurunkan peti terakhir. Perempuan dari keluarga itu keluar membawa mangkuk kecil berisi air.