Veilbound: Beyond the Ashen Crown

Diva Amane
Chapter #14

Raja yang Mulai Curiga

Hujan turun tipis di atas Umbra Veil ketika cahaya sore terakhir menghilang dari jendela-jendela tinggi istana. Air menuruni kaca hitam dalam garis-garis panjang, memecah bayangan menara dan atap bangunan administrasi menjadi bentuk yang bergetar. Di balik dinding batu, lorong-lorong kerajaan tetap hidup. Pelayan membawa baki laporan. Pengawal berganti posisi. Pegawai arsip keluar-masuk dengan gulungan dokumen yang disegel.

Kerajaan tidak pernah benar-benar tidur.

Di ruang tahta, dua belas orang telah menunggu.

Zareth Noctarius duduk di singgasana, tubuhnya sedikit condong ke depan. Di bawah cahaya obor yang dipasang pada pilar-pilar batu, wajahnya tampak lebih tua daripada beberapa bulan sebelumnya. Bukan karena usia. Karena terlalu banyak keputusan yang harus dibuat dengan informasi yang selalu datang terlambat.

Di hadapannya, Ketua Dewan Tertinggi berdiri bersama sepuluh anggota lainnya.

Satu per satu laporan kerajaan dibacakan.

Persediaan pangan dari wilayah timur.

Pergerakan perdagangan di jalur selatan.

Pembaruan garnisun.

Penerimaan pajak.

Kondisi beberapa wilayah yang baru saja kembali menata kehidupan setelah konflik.

Zareth mendengarkan tanpa banyak menyela.

Begitulah sidang sore biasanya berlangsung.

Ia menerima laporan. Dewan menjelaskan. Beberapa pertanyaan diajukan. Pegawai mencatat. Setelah itu dokumen dibawa ke arsip atau diteruskan kepada pejabat yang berwenang.

Sistem tersebut telah berlangsung lebih lama daripada sebagian besar orang yang berdiri di ruangan itu.

Tidak ada alasan untuk meragukannya.

Setidaknya sampai laporan mengenai Solmaria dibacakan.

"Hubungan administrasi dengan Kerajaan Solmaria berjalan sesuai ketentuan perjanjian terakhir," kata seorang anggota Dewan yang duduk di sisi kanan. "Pertukaran dokumen berlangsung tanpa gangguan. Tidak ada pelanggaran resmi terhadap batas wilayah. Jalur komunikasi antara kedua pihak tetap terbuka."

Zareth mengangkat mata.

"Dan mengenai akses terbatas terhadap energi Kuil Helia?"

Pegawai yang membaca laporan melihat lembaran di tangannya.

"Berjalan sesuai kesepakatan."

"Hanya itu?"

Pegawai tersebut terdiam sesaat.

Ketua Dewan mengambil alih.

"Untuk bagian tersebut, belum ada perubahan signifikan sejak laporan terakhir."

Zareth tidak langsung menjawab.

Ia mengingat laporan sebelumnya.

Laporan itu jauh lebih panjang.

Ada catatan mengenai pejabat Solmaria yang telah menerima izin. Ada rincian mengenai jadwal kedatangan. Ada penyesuaian pengamanan. Ada nama-nama petugas yang ditugaskan mengawasi akses. Bahkan ada catatan mengenai perubahan kecil dalam jalur persuratan.

Laporan hari ini hanya memiliki beberapa paragraf.

Terlalu pendek.

"Belum ada perubahan signifikan," ulang Zareth.

"Benar, Yang Mulia."

"Berapa dokumen yang diterima dari Solmaria sejak laporan terakhir?"

Ketua Dewan menjawab sebelum pegawai itu sempat membuka catatan.

"Empat dokumen utama."

"Dan semuanya dirangkum dalam laporan ini?"

"Dokumen yang relevan untuk keputusan kerajaan, ya."

Zareth menatapnya.

"Yang relevan."

"Ya."

Satu kata itu terdengar biasa.

Namun Zareth tidak segera melanjutkan.

Ia melihat ke sekeliling.

Sepuluh anggota Dewan Tertinggi tetap berdiri dalam posisi masing-masing. Tidak ada yang terlihat gelisah. Tidak ada yang saling menatap secara mencolok. Hanya beberapa jari yang bergerak kecil di atas pakaian mereka, gerakan alami seseorang yang telah berdiri terlalu lama.

Zareth kembali memandang Ketua Dewan.

"Siapa yang menentukan relevansi?"

Ruangan menjadi sedikit lebih sunyi.

Ketua Dewan tidak tampak terkejut.

"Prosedur administrasi, Yang Mulia."

"Prosedur bukan orang."

"Benar."

"Lalu siapa yang menjalankan prosedur itu?"

Ketua Dewan menarik napas pelan.

"Bagian persuratan kerajaan menerima dokumen. Dokumen kemudian diteruskan kepada pejabat yang menangani hubungan luar negeri. Bila ada materi yang membutuhkan keputusan Dewan, materi tersebut dibawa ke jalur Dewan. Ringkasannya kemudian disampaikan kepada Yang Mulia dalam laporan rutin."

Zareth menyandarkan punggungnya.

Penjelasan itu masuk akal.

Bahkan terlalu masuk akal.

Tidak ada hukum yang dilanggar.

Tidak ada kalimat yang secara langsung menunjukkan bahwa seseorang menyembunyikan sesuatu.

Sistem tersebut memang memungkinkan Dewan memproses dokumen sebelum sampai kepadanya.

Selama bertahun-tahun, Zareth tidak pernah mempermasalahkannya.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia menyadari sebuah perbedaan kecil.

Bukan bahwa informasi tidak sampai.

Informasi sampai.

Tetapi seseorang telah menentukan bentuk informasi yang sampai.

"Apakah seluruh dokumen asli juga tersedia di arsip kerajaan?"

"Tentu."

"Tanpa pengecualian?"

Ketua Dewan berhenti sepersekian detik.

"Hampir seluruhnya."

"Hampir?"

"Beberapa surat menggunakan jalur persuratan khusus."

Zareth memiringkan kepala.

"Atas dasar apa?"

"Keamanan diplomatik."

"Dan siapa yang memiliki akses?"

Ketua Dewan menjawab dengan tenang.

"Pejabat yang ditunjuk."

"Ditunjuk oleh siapa?"

"Melalui keputusan administratif yang sah."

Tidak ada jawaban yang salah.

Itulah yang membuat Zareth tidak menyukainya.

Ia tidak bisa menuduh apa pun.

Belum.

Zareth menurunkan pandangan ke meja kecil di samping singgasana. Sebuah dokumen telah diletakkan di sana. Segel Solmaria masih utuh pada salinan resminya.

Ia tidak menyentuhnya.

"Baik."

Ketua Dewan sedikit menundukkan kepala.

"Apakah Yang Mulia memiliki pertanyaan lain?"

Zareth menatapnya.

"Untuk saat ini, tidak."

Sidang kembali berjalan.

Namun sejak saat itu, Zareth tidak lagi hanya mendengarkan isi laporan.

Ia mulai memperhatikan siapa yang berbicara.

Siapa yang menjawab.

Siapa yang diam.

Siapa yang melihat dokumen sebelum menjawab pertanyaan.

Dan siapa yang tidak perlu melihatnya sama sekali.

--o--

Malam telah turun ketika sidang berakhir.

Obor-obor di koridor istana menyala lebih terang daripada sore tadi. Hujan masih turun, kali ini lebih deras. Air mengalir di antara batu-batu halaman dalam garis hitam yang memantulkan cahaya.

Para anggota Dewan meninggalkan ruang tahta satu demi satu.

Zareth tetap duduk.

Ia menunggu.

Ketika langkah terakhir menghilang di ujung koridor, ia baru berdiri.

Seorang pegawai administrasi yang bertugas mencatat sidang masih berada di dekat pintu. Pemuda itu membawa beberapa lembar catatan dan tampak hendak pergi.

"Berhenti."

Pegawai tersebut segera berbalik.

"Yang Mulia."

"Namamu?"

Lihat selengkapnya