Udara di bawah tanah tidak mengenal pagi.
Ketika matahari mulai naik di atas wilayah Solmaria, tidak ada cahaya yang berubah di dalam katakombe. Hanya lampu-lampu minyak yang bergoyang di ujung tongkat, memantulkan warna kuning pucat pada dinding batu yang lembap. Bau tanah tua, kapur, dan air yang mengendap selama bertahun-tahun memenuhi lorong. Setiap langkah membawa gema yang kembali beberapa detik kemudian dari arah yang tidak selalu dapat dipastikan.
Di salah satu ruang yang telah dibersihkan dari reruntuhan, enam orang berdiri mengelilingi meja kayu lipat.
Di atasnya terbentang peta.
Bukan peta kerajaan.
Bukan pula denah satu bangunan.
Garis-garis tinta yang memenuhi lembaran tersebut merupakan hasil dari berminggu-minggu pengukuran, penelusuran, kesalahan, koreksi, dan pengukuran ulang. Beberapa bagian masih kosong. Bagian lain dipenuhi tanda kecil yang hanya dapat dipahami oleh anggota ekspedisi.
Kepala peneliti menekan ujung jarinya pada salah satu garis.
"Jalur ini."
Seorang peneliti muda mendekat.
"Yang dari ruang batu runtuh?"
"Ya."
"Jalur utamanya sudah kita petakan sampai percabangan ketiga."
"Benar."
Kepala peneliti menggeser jarinya ke arah lain.
"Tetapi kemarin kita menemukan aliran udara dari sini."
Ia mengetuk sebuah bagian yang pada peta hanya berupa ruang kosong.
"Kalau udara masuk, berarti ada ruang lain."
"Atau retakan."
"Karena itu kita periksa."
Tidak ada yang membantah.
Mereka telah belajar sejak menemukan jaringan ini bahwa asumsi sederhana bisa membuat seseorang tersesat.
Pada awalnya mereka mengira telah menemukan katakombe tua.
Kemudian mereka menemukan lorong yang tidak sesuai dengan struktur makam Solmaria.
Setelah itu mereka menemukan ruangan yang tidak memiliki fungsi pemakaman.
Kini mereka bahkan tidak lagi berani menyebut keseluruhannya sebagai katakombe.
Nama itu hanya istilah kerja.
Sebuah kebiasaan yang belum sempat diganti.
Kepala peneliti menggulung sebagian peta dan menunjuk jalur baru.
"Kita masuk dari sini. Tim satu mencatat ukuran koridor. Tim dua mengikuti percabangan sampai batas aman. Jangan membuka batu yang tampak menopang struktur."
Seorang pria yang membawa alat ukur mengangkat tangan.
"Kalau menemukan jalur sempit?"
"Catat."
"Kalau bisa dilewati?"
"Jangan langsung dilewati."
Pria itu mengangguk.
Kepala peneliti menatap seluruh tim.
"Kita tidak sedang mencari jalan tercepat."
Ia menunjuk peta.
"Kita sedang mencari hubungan."
Mereka bergerak.
--o--
Koridor baru lebih rendah daripada jalur sebelumnya.
Atapnya hanya beberapa jengkal di atas kepala sehingga sebagian anggota tim harus menunduk. Permukaan lantai tidak rata. Di beberapa bagian terdapat lapisan batu yang licin karena kelembapan, sementara bagian lain tertutup debu tua yang tidak menunjukkan jejak manusia dalam waktu yang sangat lama.
Kepala peneliti berjalan paling depan bersama seorang pembawa lampu.
Cahaya bergerak di sepanjang dinding.
Tidak ada makam.
Tidak ada relung jenazah.
Tidak ada simbol pemakaman.
Hanya batu.
Namun setelah sekitar lima puluh meter, dinding di sebelah kiri berubah.
Batu-batunya lebih besar.
Susunannya lebih teratur.
Sambungannya lebih rapat.
Seorang peneliti mengangkat lampu mendekat.
"Ini bukan konstruksi permukaan."
Kepala peneliti menoleh.
"Kenapa?"
"Ukuran batunya."
Ia mengusap salah satu sambungan.
"Di bangunan Solmaria yang lebih tua, batu dinding biasanya memiliki ukuran lebih bervariasi. Ini dipotong dengan pola yang hampir seragam."
Peneliti lain mengeluarkan buku catatan.
"Catat."
Ia mulai menulis.
"Panjang koridor?"
"Empat puluh delapan meter dari titik sebelumnya."
"Kemiringan?"
"Turun sekitar tiga derajat."
"Lebar?"
"Awalnya dua meter."
Ia mengukur kembali.
"Satu koma delapan di bagian ini."
Kepala peneliti mengangguk.
"Catat perubahan."
Tidak ada yang berjalan tergesa-gesa.
Mereka berhenti setiap kali menemukan sesuatu.
Ukuran.
Arah.
Kemiringan.
Tinggi.
Hubungan dengan ruang lain.
Bahkan perubahan kecil pada jenis batu dicatat.
Sebuah jaringan seperti ini tidak dapat dipahami hanya dengan menemukan pintu di ujung lorong.
Yang penting bukan sekadar ke mana sebuah jalan membawa mereka.
Yang lebih penting adalah bagaimana jalan itu berhubungan dengan jalan lainnya.
Mereka terus turun.
--o--
Menjelang siang, mereka menemukan ruang yang cukup besar untuk menampung seluruh tim.
Tidak ada perabot.
Tidak ada makam.
Tidak ada altar.
Di tengah ruangan terdapat lantai batu yang sedikit lebih rendah daripada sisi sekitarnya.
Kepala peneliti berjongkok.
"Ini sengaja dibuat."
Salah seorang peneliti memeriksa tepian lantai.
"Saluran."
"Air?"
"Mungkin."
"Mungkin?"
Ia menunjuk arah kemiringan.
"Salurannya tidak menuju pintu."
Kepala peneliti menyalakan lampu lebih rendah.
Garis tipis terlihat pada batu.
Saluran itu mengarah ke dinding.
Kemudian berhenti.
"Periksa sisi seberang."
Dua orang bergerak.
Beberapa saat kemudian terdengar suara.
"Ada ruang kosong."
Kepala peneliti segera berdiri.
"Di mana?"
"Di balik dinding."
Ia mengikuti mereka.
Sebuah bagian batu tampak berbeda dari yang lain.
Tidak cukup jelas untuk disebut pintu.
Namun ketika diketuk, suaranya kosong.
Kepala peneliti tidak membiarkan siapa pun langsung membongkarnya.
Ia memandang peta.
Kemudian menatap dinding.
"Jaraknya dari koridor utama?"
"Kurang lebih dua puluh tiga meter."
"Dan arah?"
"Barat daya."
Kepala peneliti menoleh ke peneliti yang membawa kompas.