Veilbound: Beyond the Ashen Crown

Diva Amane
Chapter #16

Dua Belas Lorong

Udara di bawah tanah berubah sebelum mereka melihat pintunya.

Tidak ada lagi bau tanah basah seperti pada bagian katakombe sebelumnya. Angin yang keluar dari lorong di depan membawa aroma batu kering, debu tua, dan sesuatu yang samar-samar seperti logam yang telah lama berkarat. Api lampu minyak bergetar meski tidak ada angin yang cukup kuat untuk menggerakkannya.

Kepala ekspedisi berhenti.

Di hadapannya terbentang sebuah ruang besar.

Atapnya hilang di dalam kegelapan. Cahaya dari lampu hanya mampu mencapai beberapa meter sebelum ditelan bayangan. Pilar-pilar batu berdiri mengelilingi ruang seperti sisa-sisa hutan yang telah mati. Permukaannya jauh lebih halus daripada dinding katakombe sebelumnya.

Dan dari ruang itu, dua belas lorong terbuka.

Enam di sebelah kiri.

Enam di sebelah kanan.

Semuanya memiliki ukuran yang hampir sama.

Tidak ada tanda.

Tidak ada pintu.

Tidak ada simbol yang dapat membantu menentukan mana yang merupakan jalan utama.

Seorang prajurit pengawal mengangkat lampu lebih tinggi.

"Ini tidak ada di peta."

Kepala ekspedisi menatap lembaran yang dibawanya.

"Memang."

"Berarti kita harus memilih."

"Tidak."

Ia menurunkan peta.

"Kita harus memahami dulu."

Tidak ada yang bergerak.

Dua belas lorong menghadap mereka seperti dua belas mulut yang terbuka menuju kegelapan.

Beberapa terlihat lurus.

Beberapa sedikit menurun.

Beberapa bahkan memiliki kemiringan yang hampir tidak terlihat.

Kepala ekspedisi mengeluarkan tali.

"Kita tidak masuk lebih dari sepuluh meter sebelum setiap jalur dicatat."

Salah satu peneliti mengangguk.

"Penanda?"

"Di setiap percabangan."

"Tali utama?"

"Jangan dilepas dari ruang ini."

Prajurit pengawal mulai bekerja.

Tali panjang diikat pada pilar terdekat. Penanda kayu diberi nomor. Lampu tambahan ditempatkan di dekat pintu masuk ruang utama.

Mereka tidak tahu lorong mana yang benar.

Karena itu mereka memastikan bahwa setidaknya jalan pulang tidak akan hilang.

--o--

Dua belas jalur diperiksa secara bertahap.

Lorong pertama berakhir pada dinding batu setelah tiga puluh meter.

Lorong kedua berbelok tajam ke kanan lalu turun.

Lorong ketiga memiliki langit-langit lebih rendah dan dinding yang dipenuhi bekas ukiran.

Lorong keempat terasa lebih hangat.

Lorong kelima memiliki lantai yang retak.

Lorong keenam terlalu sempit untuk dilewati dengan peralatan lengkap.

Mereka tidak mengambil kesimpulan dari satu penemuan.

Setiap hasil kembali dicatat di peta.

Nomor.

Panjang.

Arah.

Kemiringan.

Lebar.

Jenis batu.

Kemungkinan hubungan dengan jalur lain.

Ketika mereka selesai memeriksa enam lorong pertama, dua belas tanda telah berubah dari angka kosong menjadi informasi.

Kepala ekspedisi berdiri di tengah ruang.

"Mana yang paling mungkin?"

Seorang peneliti membuka catatannya.

"Nomor delapan."

"Alasan?"

"Udara bergerak dari sana."

"Nomor sepuluh."

"Jalurnya turun secara konsisten."

"Nomor dua belas."

"Struktur dindingnya berbeda."

Kepala ekspedisi menatap tiga jalur tersebut.

"Tidak ada yang lain?"

"Nomor tiga."

"Kenapa?"

"Ukirannya."

Ia membuka catatan.

"Polanya tidak seperti tulisan pemakaman."

Kepala ekspedisi menatapnya.

"Bahasa?"

"Belum tahu."

"Bandingkan dengan catatan sebelumnya."

Peneliti itu menggeleng.

"Sudah."

"Bahasa manusia?"

"Tidak."

"Bahasa iblis?"

"Tidak."

"Bahasa lama?"

"Kita tidak punya padanan."

Kepala ekspedisi menatap lorong ketiga.

Ia tidak suka jawaban itu.

Bukan karena tidak memahami tulisan tersebut.

Karena untuk pertama kalinya, mereka berhadapan dengan sesuatu yang bahkan tidak dapat ditempatkan dalam sejarah yang mereka kenal.

"Ambil nomor delapan dan dua belas."

Ia menunjuk dua prajurit.

"Kita buka dua jalur itu."

Mereka bergerak.

--o--

Lorong nomor delapan membawa mereka semakin dalam.

Tali yang terhubung ke ruang utama terus ditarik di belakang. Setiap sepuluh meter dipasang penanda kecil pada dinding.

A.

B.

C.

Kemudian D.

Peta dibuat sambil berjalan.

Satu peneliti memegang kompas.

Yang lain mencatat jarak.

Dua prajurit membawa lampu.

Dua lainnya menjaga bagian belakang.

Kepala ekspedisi berada di tengah.

Tidak ada yang berbicara kecuali untuk menyampaikan informasi.

"Empat puluh meter."

"Catat."

"Turun dua derajat."

"Catat."

"Lebar menyempit."

"Berapa?"

"Satu koma enam."

"Catat."

Mereka terus bergerak.

Kemudian lorong berubah.

Dinding batu lama berakhir.

Di depan mereka muncul pintu.

Bukan pintu kayu.

Bukan pintu besi.

Sebuah lempengan batu besar berdiri di antara dua pilar. Permukaannya penuh simbol.

Kepala ekspedisi mengangkat lampu.

Simbol itu tampak seperti tulisan, tetapi garis-garisnya terlalu asing.

Beberapa menyerupai bentuk mata.

Beberapa seperti cabang.

Yang lain seperti lingkaran yang dipotong garis lurus.

Tidak ada satu pun yang dapat dibaca.

Peneliti bahasa mendekat.

"Ini sama."

"Sama dengan apa?"

"Ukiran di jalur tiga."

Ia menyentuh udara di depan simbol tanpa menyentuh permukaan.

"Polanya identik."

"Artinya?"

"Tidak tahu."

Kepala ekspedisi menatap pintu.

"Periksa sambungan."

Lihat selengkapnya