Veilbound: Beyond the Ashen Crown

Diva Amane
Chapter #18

Pemurnian

Malam di Umbra Veil tidak pernah benar-benar gelap.

Di atas istana, bulan tertutup awan tipis yang bergerak perlahan seperti kain kelabu di atas luka lama. Cahaya dari menara-menara kerajaan jatuh ke halaman dalam garis-garis pucat, terpotong oleh kisi jendela dan pilar batu. Namun semakin jauh seseorang masuk ke bagian terdalam istana, semakin sedikit cahaya yang tersisa. Udara menjadi lebih dingin. Bau lilin berubah menjadi bau kertas tua, kulit kering, dan debu yang tidak pernah disentuh matahari.

Zareth Noctarius menuruni tangga batu seorang diri.

Di tangannya terdapat satu kunci besi panjang.

Ia tidak membawanya karena ingin membaca sejarah.

Ia membawanya karena beberapa halaman dari arsip persuratan malam sebelumnya tidak mau hilang dari pikirannya.

Laporan Solmaria.

Jalur khusus.

Dewan Tertinggi.

Empat hari.

Dan sebuah peta yang berhenti sebelum batas wilayah Umbra Veil.

Jika ada satu hal yang telah dipelajari Zareth dari pemerintahan, itu adalah bahwa sebuah sistem jarang menyembunyikan sesuatu dengan menghapusnya. Sistem yang lebih tua dan lebih kuat justru menyembunyikan sesuatu dengan menyimpannya terlalu baik.

Ia berhenti di depan pintu terakhir.

Tidak ada lambang kerajaan di sana.

Hanya nomor arsip yang terukir pada batu.

Penjaga arsip yang bertugas malam itu berdiri beberapa langkah di belakangnya. Lelaki tua dengan rambut hampir seluruhnya memutih tersebut membawa lampu minyak kecil dan sebuah buku registrasi.

"Arsip sejarah terdalam, Yang Mulia."

Zareth memasukkan kunci.

"Berapa banyak orang yang memiliki akses?"

Penjaga itu menjawab setelah berpikir sejenak.

"Secara resmi?"

"Ya."

"Tiga."

"Siapa?"

"Penjaga utama arsip, kepala pengelola sejarah kerajaan, dan pejabat yang menerima izin langsung dari takhta."

Zareth menatap pintu.

"Ketua Dewan?"

Penjaga itu tidak langsung menjawab.

"Secara administratif, Dewan dapat mengajukan permintaan."

"Tapi?"

"Arsip tertentu tidak dapat dibuka hanya dengan kewenangan Dewan."

Zareth mengangguk.

Setidaknya masih ada sesuatu di kerajaan yang belum sepenuhnya berada di tangan mereka.

Ia memutar kunci.

Pintu batu bergeser dengan suara berat.

Udara dingin dari dalam menyentuh wajahnya.

"Jangan tunggu di luar."

Penjaga itu terkejut.

"Yang Mulia?"

"Jika aku membutuhkan sesuatu, aku tidak ingin mencarinya sendiri."

Penjaga itu menunduk.

"Baik."

Mereka masuk.

Pintu tertutup di belakang mereka.

--o--

Rak-rak di ruang terdalam jauh lebih rendah daripada arsip administratif, tetapi lebih padat.

Tidak ada tumpukan laporan harian. Tidak ada catatan pengiriman atau permintaan persediaan. Yang disimpan di sini adalah hal-hal yang dianggap terlalu penting untuk dibuang dan terlalu tua untuk masih dipahami sepenuhnya.

Catatan keluarga kerajaan.

Silsilah.

Doktrin lama Helia.

Salinan ketentuan kerajaan.

Perjanjian yang bahkan bahasa aslinya sudah tidak lagi digunakan.

Zareth berjalan di antara rak dengan lampu di tangan.

Ia mulai dari bagian sejarah keluarga.

Nama-nama raja tersusun berdasarkan generasi.

Kelahiran.

Pernikahan.

Kematian.

Pergantian takhta.

Beberapa halaman dihiasi lambang matahari Helia, beberapa lainnya hanya memiliki cap kerajaan.

Ia menarik satu buku.

Debu jatuh dari sampulnya.

"Yang Mulia."

Penjaga menunjuk rak di sisi kiri.

"Dokumen mengenai doktrin Helia yang paling tua ada di sana."

Zareth berpindah.

Ia membuka beberapa gulungan.

Sebagian besar berisi hal-hal yang telah ia dengar sejak kecil.

Persembahan.

Pengabdian.

Cahaya.

Kemurnian.

Kewajiban terhadap darah dan kehidupan.

Bahasa keagamaan memenuhi hampir setiap halaman.

Namun beberapa istilah memiliki catatan tambahan yang jauh lebih pendek.

Kewajiban keluarga.

Pengawasan keturunan.

Penjagaan garis tertentu.

Zareth berhenti.

"Garis tertentu?"

Penjaga mendekat.

"Di mana?"

Zareth menunjukkan kalimat tersebut.

Lelaki tua itu membaca.

"Saya tidak tahu."

"Kau penjaga arsip."

"Saya menjaga tempatnya, Yang Mulia. Tidak berarti saya memahami semua yang disimpan di dalamnya."

Jawaban itu jujur.

Zareth tidak tersinggung.

Ia justru mengambil buku lain.

Beberapa halaman berikutnya menyebut istilah yang sama.

Bukan sekali.

Bukan dua kali.

Sebuah garis keturunan tertentu harus diawasi.

Kemudian ada kata lain.

Pemurnian.

Zareth mengernyit.

"Pemurnian."

Penjaga itu menunduk sedikit.

"Istilah agama?"

"Mungkin."

"Apakah ada catatan pelaksanaannya?"

"Jika ada, biasanya ada di bagian sejarah keluarga."

Zareth menatap rak di depannya.

"Kalau begitu kita cari."

--o--

Satu jam berlalu.

Lalu dua.

Lilin pertama habis.

Lilin kedua dinyalakan.

Malam bergerak melewati tengah malam tanpa mereka sadari.

Zareth mulai menyusun dokumen di lantai.

Silsilah satu keluarga di sebelah kiri.

Doktrin Helia di tengah.

Catatan pemerintahan di sebelah kanan.

Ia tidak lagi membaca berdasarkan tahun.

Ia membaca berdasarkan nama.

Satu nama muncul pada masa pemerintahan seorang raja tua.

Kemudian nama yang sama muncul sebagai ayah dari seorang anak.

Beberapa puluh tahun kemudian, garis tersebut muncul lagi.

Kemudian hilang.

Di samping salah satu nama terdapat catatan pendek.

Telah dimurnikan.

Zareth membacanya dua kali.

Ia mengira itu mungkin sebuah istilah ritual.

Seseorang menjalani upacara.

Mungkin pengasingan.

Mungkin pembersihan spiritual.

Ia mengambil dokumen lain.

Nama lain.

Catatan yang sama.

Telah dimurnikan.

Ia mengambil dokumen ketiga.

Nama berbeda.

Lihat selengkapnya