Sore menggantung rendah di atas Umbra Veil, dan cahaya matahari yang tersisa jatuh miring melalui jendela-jendela tinggi ruang pertemuan istana. Warna keemasan itu tidak pernah benar-benar mencapai lantai. Pilar-pilar hitam menahannya dalam bayangan panjang, sementara lambang kerajaan yang terukir pada dinding tampak lebih tua ketika diterpa cahaya dari samping.
Sepuluh kursi telah terisi.
Ketua Dewan Tertinggi duduk di tengah, mengenakan jubah resmi berwarna gelap dengan lambang Dewan di dada. Lima anggota duduk di sisi kanan, lima lainnya di sisi kiri. Tidak ada pedang yang terlihat. Tidak ada penjaga yang berdiri di antara mereka.
Pertemuan semacam ini tidak membutuhkan senjata.
Hanya dokumen.
Hanya kata-kata.
Dan kewenangan yang telah diwariskan jauh sebelum Zareth Noctarius duduk di atas takhta.
Zareth berdiri di ujung meja.
Sebuah map tertutup terletak di hadapannya.
"Terima kasih sudah datang."
Ketua Dewan menundukkan kepala.
"Yang Mulia meminta, Dewan hadir."
Jawaban itu terdengar sopan.
Tidak lebih.
Zareth duduk.
"Beberapa keputusan mengenai Solmaria telah sampai kepadaku setelah keputusan tersebut hampir selesai dilaksanakan."
Salah satu anggota Dewan mengangkat pandangan.
Zareth melanjutkan.
"Termasuk bagian dari perjanjian yang menyangkut akses terbatas terhadap energi Kuil Helia."
Tidak ada yang bergerak.
"Ketika aku menerima penjelasan, sebagian besar pertimbangan strategis telah dibahas lebih dahulu oleh Dewan."
Ketua Dewan menjawab dengan tenang.
"Karena memang demikian prosesnya."
Zareth menatapnya.
"Itulah yang ingin kubicarakan."
--o--
Ia membuka map.
Tidak ada banyak dokumen di dalamnya.
Hanya beberapa lembar salinan laporan dan satu catatan administrasi.
Zareth menggeser salah satunya ke tengah meja.
"Ini laporan mengenai situs arkeologi di bawah wilayah Solmaria."
Salah satu anggota Dewan melihat dokumen itu.
"Kami mengetahui laporan tersebut."
"Aku tahu."
Zareth menyentuh sudut halaman.
"Yang ingin kutanyakan bukan apakah kalian mengetahuinya."
Ia berhenti.
"Melainkan kapan."
Ketua Dewan tidak menjawab segera.
Zareth membuka dokumen kedua.
"Laporan ini diterima melalui jalur khusus sebelum dikirimkan kepadaku."
"Benar."
Jawaban itu datang dari anggota Dewan di sebelah kanan Ketua.
Zareth menatapnya.
"Dan kau tidak menganggap ada masalah?"
"Tidak."
"Mengapa?"
"Karena jalur tersebut memang berada dalam kewenangan administrasi tertentu."
"Dan Dewan memiliki hak menerima salinan."
"Benar."
Zareth menyandarkan punggung.
Tidak ada penyangkalan.
Tidak ada alasan palsu.
Mereka bahkan tidak berusaha mengubah fakta.
"Berapa lama kalian memiliki laporan lengkap ini sebelum aku menerima ringkasannya?"
"Empat hari."
"Empat hari."
Zareth mengulanginya perlahan.
"Empat hari."
Anggota Dewan itu mengangguk.
"Selama waktu tersebut, apakah laporan dibahas?"
"Ya."
"Oleh siapa?"
"Dewan."
"Semua?"
"Anggota yang relevan."
Zareth melihat kesepuluh wajah di hadapannya.
Tidak satu pun terlihat gelisah.
Itu bukan karena mereka tidak peduli.
Justru karena mereka terbiasa berada dalam ruangan seperti ini.
Mereka tidak perlu mempertahankan diri dengan emosi.
Mereka hanya perlu memastikan setiap kalimat tetap berada dalam batas kewenangan.
"Aku tidak diberi tahu bahwa laporan itu sudah dibahas."
Ketua Dewan akhirnya berbicara.
"Yang Mulia menerima hasil pertimbangan Dewan."
"Ringkasan."
"Ya."
"Kenapa bukan laporan lengkap?"
Ketua Dewan melipat kedua tangan di atas meja.
"Karena laporan lengkap mengandung banyak informasi yang belum terverifikasi."
Zareth menatapnya.
"Dan Dewan memutuskan bahwa aku tidak perlu melihatnya."
"Kami memutuskan bahwa informasi yang belum terverifikasi tidak perlu langsung diteruskan sebagai fakta."
Jawaban itu masuk akal.
Terlalu masuk akal.
Zareth tidak segera membalas.
--o--
Cahaya sore bergeser di sepanjang lantai.
Bayangan pilar kini menyentuh meja.
Zareth membuka dokumen lain.
"Di dalam laporan itu terdapat catatan bahwa jaringan bawah tanah kemungkinan bergerak ke arah wilayah yang berdekatan dengan perbatasan kita."
"Benar."
"Juga terdapat catatan mengenai simbol yang belum diterjemahkan."
"Benar."
"Dan terdapat korban dalam ekspedisi."
"Benar."
"Jadi ini bukan sekadar laporan arkeologi."
Ketua Dewan mengangguk.
"Karena itu Dewan membahasnya."
"Namun tidak denganku."
"Karena belum ada kepastian bahwa situs tersebut memiliki hubungan dengan Umbra Veil."