Senja menurunkan cahaya merah kusam di atas jalan tanah yang membelah perbatasan Solmaria. Angin membawa bau rumput kering, tanah yang mulai dingin, dan asap dapur dari permukiman yang belum terlihat di balik pepohonan. Dari kejauhan, tidak ada menara pengawas. Tidak ada gerbang besi. Tidak ada panji militer yang berkibar di antara bangunan.
Hanya beberapa rumah.
Beberapa atap kayu.
Dan asap tipis yang naik perlahan menuju langit yang mulai gelap.
Vynn berhenti di bawah bayangan pohon tua.
Ia tidak membawa lambang Abyssal Sovereign.
Tidak ada jubah guild.
Tidak ada senjata yang mudah dikenali.
Pakaian yang dikenakannya sederhana, cukup kusam untuk membuatnya tampak seperti pelancong yang sedang mencari tempat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Sebuah tas kain menggantung di bahunya. Di dalamnya terdapat makanan kering, pakaian cadangan, perlengkapan perjalanan, dan senjata yang disembunyikan sedemikian rupa sehingga tidak terlihat dari luar.
Ia telah meninggalkan wilayah utama Abyssal Sovereign beberapa jam sebelumnya.
Tidak ada yang perlu tahu ke mana ia pergi.
Lebih tepatnya, tidak ada yang perlu melihatnya pergi.
Vynn memandang permukiman di kejauhan.
Ia tidak bergerak selama hampir sepuluh menit.
Bukan karena ragu.
Ia sedang menghitung.
Satu orang keluar dari rumah sebelah timur.
Seorang perempuan tua membawa keranjang.
Dua anak berlari melewati jalan utama.
Seorang pria membawa kayu dari sisi utara.
Seorang pemuda kembali dari arah jalan besar dengan membawa karung.
Tidak ada penjaga.
Tidak ada patroli.
Tidak ada titik pemeriksaan.
Vynn mempersempit pandangan.
Permukiman itu tidak terlihat seperti tempat seseorang bersembunyi.
Itu masalah pertama.
Tempat yang mudah disusupi biasanya memiliki sesuatu yang disembunyikan.
Tempat ini justru terlalu biasa.
Ia menunggu.
Seorang perempuan keluar dari rumah lain dan berbicara kepada tetangganya. Mereka berhenti cukup lama untuk berbincang mengenai sesuatu yang tidak dapat didengar dari jarak sejauh itu. Setelah itu, keduanya berpisah tanpa memeriksa jalan.
Tidak ada yang memandang ke arah hutan.
Tidak ada yang memperhatikan Vynn.
Ia melanjutkan pengamatan.
Satu rumah.
Dua.
Tiga.
Kemudian ia menemukan bangunan yang lebih besar daripada rumah lain di bagian tengah permukiman.
Rumah Vrille.
Tidak sulit dikenali setelah Vynn mencocokkannya dengan informasi yang diberikan Mireth.
Beberapa warga sering melewati halaman rumah itu. Ada yang datang membawa barang. Ada yang berbicara dari luar. Tidak terlihat penjagaan khusus.
Vynn menggeser pandangannya.
Kemudian menemukan rumah yang ia cari.
Rumah Arcante dan Isolde.
Sederhana.
Dinding kayu.
Atap rendah.
Halaman kecil.
Tidak ada pagar tinggi.
Tidak ada lingkaran sihir.
Tidak ada kristal penghalang.
Tidak ada tanda seorang penyihir legendaris pernah tinggal di sana.
Vynn menatapnya cukup lama.
Arcante.
Mantan Abbysal Sovereign.
Salah satu penyihir paling berbahaya yang pernah dimiliki guild.
Seseorang yang telah menghilang selama tiga puluh lima tahun.
Dan rumahnya bahkan tidak memiliki pintu besi.
Vynn tidak merasa kecewa.
Ia justru menjadi lebih berhati-hati.
Seseorang yang benar-benar ingin menghilang tidak selalu membutuhkan tembok.
Kadang-kadang, ia hanya perlu menjadi tidak menarik.
--o--
Vynn memasuki permukiman ketika matahari telah menyentuh garis pepohonan.
Ia tidak berjalan langsung menuju rumah Arcante.
Ia memilih jalan memutar.
Langkahnya dibuat sedikit lebih lambat daripada biasanya.
Bahunya tidak terlalu tegak.
Tatapannya tidak terlalu sering bergerak.
Seorang assassin yang berjalan seperti sedang mencari target akan terlihat lebih mencurigakan daripada seorang pelancong yang tidak tahu jalan.
Ia melewati sebuah rumah.
Seorang perempuan sedang menjemur kain.
Vynn mengangguk ringan.
Perempuan itu membalas.
Tidak ada percakapan.
Bagus.
Beberapa langkah kemudian, seorang lelaki tua sedang memperbaiki gagang alat pertanian.
Vynn berhenti.
"Permisi."
Lelaki itu mengangkat wajah.
"Ya?"
"Aku mencari tempat untuk membeli makanan."
"Di ujung sana."
Ia menunjuk ke arah jalan utama.
"Kalau tidak ada, tanya rumah Vrille."
Vynn mengikuti arah tangannya.
"Vrille?"
"Pemimpin kami."
"Terima kasih."
Ia melanjutkan perjalanan.
Informasi pertama didapatkan tanpa perlu bertanya mengenai hal yang penting.
Vynn menyimpannya.
Warga di sini saling mengenal.
Mereka tidak mencurigai orang asing secara otomatis, tetapi mereka juga mengetahui siapa yang datang dan pergi.
Artinya, ia tidak boleh terlalu sering muncul.
Sekali mungkin tidak berarti apa-apa.
Dua kali akan diingat.
Tiga kali akan menjadi cerita.
Vynn tidak membutuhkan cerita.
Ia membutuhkan pintu yang terbuka pada waktu yang tepat.
Ia terus berjalan.
Dari sudut matanya, ia mencatat jalur utama.
Jalur timur menuju jalan besar.
Jalur barat menuju ladang.
Jalur utara menuju daerah pepohonan.
Dan sebuah jalur kecil di belakang rumah-rumah yang hampir tertutup semak.
Jalur terakhir itu tidak digunakan banyak orang.
Namun justru karena itu, jalur tersebut menarik perhatian Vynn.
Ia berhenti di sebuah persimpangan kecil dan berpura-pura memeriksa tasnya.
Seorang anak berlari melewatinya.
Kemudian seorang perempuan.
Lalu tidak ada siapa pun selama hampir dua menit.
Vynn melihat jalur kecil itu lagi.
Jika terjadi sesuatu di rumah Arcante, jalur tersebut dapat menjadi jalan keluar.
Namun bukan untuk masuk.
Terlalu sempit.
Terlalu terbuka pada bagian ujung.
Ia membutuhkan jalur lain.
Ia menyimpan kesimpulan itu dalam pikirannya.
Kemudian kembali berjalan.
--o--
Rumah Arcante semakin terlihat ketika malam mendekat.
Dari jarak tertentu, Vynn dapat melihat aktivitas di dalamnya melalui celah tirai.
Seseorang bergerak di dapur.
Perempuan.
Isolde, kemungkinan besar.
Beberapa menit kemudian, sosok lain muncul.
Lebih tinggi.
Arcante.
Vynn langsung mengenalinya dari deskripsi yang diberikan Mireth.
Namun pengenalan itu tidak datang dari wajah.
Arcante tidak memiliki penampilan yang sesuai dengan cerita.
Tidak ada aura yang terasa dari tubuhnya.
Tidak ada jubah penyihir.
Tidak ada senjata.
Ia hanya seorang pria yang berjalan membawa sesuatu dari satu ruangan ke ruangan lain.
Kemudian duduk.
Kemudian bangkit lagi.
Biasa.
Terlalu biasa.