Veilbound: Beyond the Ashen Crown

Diva Amane
Chapter #22

Nama yang Tidak Ingin Diingat

Matahari siang menggantung pucat di atas jalur perdagangan Solmaria, tertutup lapisan tipis awan yang membuat cahaya tidak pernah benar-benar terasa hangat. Roda kereta berderak di atas jalan batu, sepatu kuda memukul tanah yang mengeras, dan suara para pedagang bercampur dengan teriakan orang-orang yang sedang memindahkan peti dari satu gerobak ke gerobak lain. Debu tipis beterbangan setiap kali kendaraan lewat, menempel pada sepatu dan ujung pakaian.

Kael menurunkan sebuah peti kayu dari atas kereta.

"Di sini?"

"Yang sebelah kiri."

Ia menggesernya ke tempat yang ditunjukkan pemilik toko, lalu melepaskan tangan. Bahunya terasa berat, tetapi tidak sampai mengganggu. Pekerjaan hari itu sudah hampir selesai. Beberapa paket terakhir telah diantar, tanda terima sudah diserahkan, dan rute yang biasa ia lewati tidak lagi membutuhkan peta di tangan.

Ia mengenal jalan itu sekarang.

Mengenal toko mana yang selalu meminta barang dibawa sampai bagian belakang.

Mengenal pedagang mana yang akan memeriksa segel dua kali.

Mengenal rumah mana yang memiliki anjing terlalu berisik.

Bahkan beberapa orang mulai mengenalnya lebih dahulu.

"Besok lewat sini lagi?"

Kael menoleh.

Pemilik toko tadi sedang menutup peti dengan kain.

"Kalau rutenya sama."

"Bagus. Ada barang dari utara."

Kael mengangguk.

"Taruh saja di depan."

Pria itu tertawa kecil. "Kau sudah seperti orang sini."

Kael tidak langsung menjawab.

Ia hanya tersenyum tipis.

Dulu, sebuah kalimat seperti itu mungkin akan terdengar tidak berarti.

Sekarang, entah mengapa, ia menyimpannya lebih lama.

Orang sini.

Bukan orang dari guild.

Bukan petarung.

Bukan buronan.

Bukan seseorang yang pernah berdiri di tengah pertempuran dengan darah menempel di pakaian.

Hanya orang yang membawa barang dari satu tempat ke tempat lain.

Kael mengangkat tasnya.

"Aku pergi."

"Besok."

"Besok."

Ia meninggalkan jalur perdagangan ketika matahari mulai condong ke barat.

--o--

Jalan menuju permukiman Vrille lebih sepi dibandingkan pusat perdagangan.

Semakin jauh dari kawasan kota, suara kendaraan berkurang. Bangunan-bangunan padat berganti rumah-rumah kecil, kemudian ladang, lalu pepohonan yang tumbuh tidak terlalu rapat. Kael berjalan tanpa tergesa-gesa. Ia sudah hafal sebagian besar jalan itu, bahkan tahu bagian mana yang biasanya berlumpur setelah hujan.

Ketika atap rumah pertama terlihat di balik pepohonan, ia mendengar suara palu.

Tok.

Tok.

Tok.

Tok.

Kael tersenyum samar.

Ia tahu apa yang sedang terjadi bahkan sebelum melihatnya.

Permukiman itu berkembang.

Tidak cepat.

Tidak seperti kota yang tumbuh karena keputusan seorang penguasa.

Rumah demi rumah.

Keluarga demi keluarga.

Beberapa bangunan baru berdiri di antara rumah lama. Kayunya masih pucat, belum menghitam oleh hujan dan waktu. Di salah satu halaman, dua orang sedang mengangkat balok. Di tempat lain, seorang perempuan membersihkan tanah yang baru diratakan.

"Kael!"

Ia menoleh.

Seorang warga melambaikan tangan dari kejauhan.

Kael mengangkat tangan sebagai balasan.

Ia tidak perlu bertanya apakah Vrille ada di sana.

Beberapa langkah kemudian ia menemukan pria tua itu berdiri di depan sebuah rumah yang sedang dibangun. Vrille memegang balok kayu dengan satu tangan sementara seorang pemuda di sampingnya berusaha memasukkan ujung balok ke dalam sambungan.

"Sedikit ke kanan," kata Vrille.

"Sudah."

"Belum."

Pemuda itu menggeser.

"Yang lain."

"Ini?"

"Ya."

Balok akhirnya masuk.

Vrille melepaskannya.

"Begitu."

Kael mendekat.

"Sepertinya kalian tidak butuh bantuan."

Vrille menoleh.

"Justru datang terlambat."

Kael terkekeh.

"Aku habis kerja."

"Alasan."

"Memang."

Vrille mendengus, lalu menunjuk balok lain.

"Bawa itu."

Kael melihat ukurannya.

"Sendiri?"

"Katanya mau membantu."

Kael mengangkat balok itu ke bahu.

"Kalau patah, salahmu."

"Kalau patah, berarti kayunya buruk."

Beberapa warga tertawa.

Kael membawa balok itu ke sisi bangunan.

Pekerjaan sederhana.

Tidak ada strategi.

Tidak ada mantra.

Tidak ada darah.

Ia membantu memasang papan, mengangkat batu, memindahkan karung. Sesekali seseorang meminta bantuannya karena tubuhnya masih lebih kuat daripada kebanyakan warga biasa.

Tidak ada yang bertanya tentang pertempuran.

Tidak ada yang meminta ia menceritakan masa lalu.

Dan mungkin itu alasan Kael menyukai tempat ini.

Di sini, seseorang bisa mengenalnya karena hal-hal kecil.

Bukan karena apa yang pernah ia lakukan.

"Rumah baru lagi?" tanya Kael ketika melihat bangunan lain di kejauhan.

Vrille mengangguk.

"Keluarga baru."

"Dari mana?"

"Utara."

"Mereka tahu tempat ini?"

"Mereka tahu ada pekerjaan."

Kael memandang beberapa bangunan baru.

"Semakin ramai."

Vrille menyandarkan tubuh pada tiang.

"Sedikit."

"Kau khawatir?"

"Belum."

Jawabannya singkat.

Kael memahami maksudnya.

"Kalau terlalu besar?"

Vrille menatap permukiman.

"Tempat seperti ini akan berubah kalau orang mulai datang hanya karena mendengar nama."

Kael diam.

Vrille melanjutkan.

"Untuk sekarang mereka datang karena butuh rumah. Butuh pekerjaan. Butuh hidup."

"Dan kau membiarkan mereka?"

"Aku bukan raja."

Kael tertawa kecil.

"Syukurlah."

Vrille meliriknya.

"Kau juga."

Kael tidak membalas.

Kalimat itu sederhana.

Namun untuk sesaat, udara di antara mereka terasa sedikit lebih berat.

Vrille tidak mengatakan apa-apa lagi.

Kael pun tidak.

Mereka kembali bekerja.

--o--

Menjelang sore, permukiman menjadi lebih hidup.

Anak-anak pulang.

Beberapa orang dewasa membawa hasil pekerjaan.

Suara piring mulai terdengar dari rumah-rumah.

Kael baru selesai membantu memindahkan beberapa karung ketika seseorang memanggilnya dari belakang.

"Kael."

Ia menoleh.

Elora berdiri beberapa langkah darinya.

Rambutnya sedikit berantakan karena angin. Ia membawa keranjang kosong di satu tangan.

"Kau sudah selesai?"

"Sepertinya."

"Kalau begitu ikut aku."

Lihat selengkapnya