Veilbound: Beyond the Ashen Crown

Diva Amane
Chapter #23

Di Depan Rumah Arcante

Malam telah menelan hampir seluruh warna dari permukiman Vrille.

Lampu-lampu kecil masih menyala di balik jendela rumah warga, memantulkan cahaya kekuningan pada jalan tanah yang lembap. Udara membawa sisa aroma makanan dari dapur-dapur yang baru selesai digunakan, bercampur dengan bau kayu terbakar dan tanah dingin. Suara percakapan terdengar semakin jarang. Anak-anak telah masuk ke rumah. Pintu-pintu mulai tertutup. Beberapa lampu dipadamkan satu demi satu.

Kael berjalan sendirian.

Ia baru saja meninggalkan rumah Elora.

Langkahnya santai, tetapi pikirannya masih tertinggal sedikit di meja makan tadi. Makanan yang terlalu banyak, percakapan yang tidak penting, dan pertanyaan sederhana tentang masa lalu yang entah mengapa terasa lebih berat daripada seharusnya.

Ia tidak menyesal menjawab.

Tidak juga menyesal tidak menjawab.

Ada hal-hal yang lebih mudah dibiarkan terkubur.

Kael memasukkan kedua tangan ke dalam saku pakaiannya. Kapak panjangnya tergantung di punggung, dibawa dengan cara yang sudah mulai menjadi kebiasaan. Berat senjata itu masih terasa asing dibandingkan dua kapak lamanya, tetapi setidaknya sekarang ia tidak lagi harus memikirkan setiap langkah hanya untuk menjaga keseimbangan.

Jalan di depannya membelok.

Di sebelah kiri terdapat rumah Vrille.

Di sebelah kanan, beberapa bangunan baru yang siang tadi masih dipenuhi aktivitas.

Kael terus berjalan.

Ia hendak keluar menuju jalan utama ketika seseorang muncul dari arah berlawanan.

Sosok berjubah.

Tidak mencolok.

Tinggi tubuh sedang.

Langkahnya tenang.

Tidak membawa sesuatu yang terlihat seperti senjata.

Kael tidak langsung memperhatikannya.

Orang asing bukan hal aneh di permukiman itu lagi. Beberapa keluarga baru mulai datang. Pedagang sesekali melewati jalur tersebut. Pekerja dari daerah sekitar terkadang mencari tempat tinggal.

Namun setelah tiga langkah, sesuatu membuat Kael memperlambat langkah.

Bukan wajah.

Bukan pakaian.

Cara berjalan.

Langkah kaki sosok itu terlalu ringan untuk seorang pelancong biasa.

Tidak ada gerakan sia-sia.

Tumit tidak pernah benar-benar jatuh keras ke tanah. Bahunya tetap rileks. Tubuh bagian atas hampir tidak bergerak ketika kakinya berpindah.

Kael berhenti memikirkan soal makan malam.

Tangannya keluar dari saku.

Sosok di depannya masih berjalan.

Lengan kanannya sedikit lebih dekat dengan tubuh.

Terlalu dekat.

Seolah tangan itu tidak ingin terlihat.

Kael mengenal kebiasaan itu.

Dulu, ia pernah melihatnya ratusan kali.

Di lorong-lorong batu.

Di halaman latihan.

Di tengah pertempuran.

Ketika orang lain memegang pedang dengan cara yang terlihat jelas, orang itu justru menyembunyikan tangan sampai jarak yang dibutuhkan tercapai.

Kael berhenti.

Sosok itu juga berhenti.

Jarak mereka hanya beberapa langkah.

Angin bergerak di antara keduanya.

Kain jubah bergetar pelan.

Untuk sesaat, tidak ada seorang pun berbicara.

Kael memandang wajah di balik bayangan tudung.

Dan nama itu muncul di kepalanya sebelum mulutnya sempat mengucapkannya.

Vynn.

Mata mereka bertemu.

Tidak ada keterkejutan yang berlebihan.

Tidak ada seruan.

Hanya pengenalan yang dingin.

Kael telah mengenal terlalu banyak petarung sepanjang hidupnya untuk salah mengenali postur seperti itu.

Dan Vynn juga bukan orang yang akan lupa pada postur seseorang yang pernah berdiri di medan latihan dan pertempuran bersamanya.

Kael menggeser berat tubuh sedikit ke belakang.

Bukan mundur.

Penyesuaian.

Vynn memperhatikan.

Kael tahu ia memperhatikan.

Itulah masalahnya.

Mereka tidak membutuhkan penjelasan.

--o--

Vynn telah melihat Kael sebelum Kael melihatnya.

Dari kejauhan, pria itu tampak seperti penduduk biasa yang sedang pulang terlambat. Pakaian sederhana. Langkah tidak tergesa. Tidak ada tanda bahwa ia sedang mencari masalah.

Kemudian Vynn melihat senjata di punggungnya.

Kapak.

Bukan dua kapak pendek yang dulu menjadi ciri khas Kael.

Satu senjata panjang dengan dua bilah.

Vynn langsung menyadari perubahan itu.

Ia tidak tahu alasan tepatnya.

Namun ia dapat melihat akibatnya.

Cara Kael membawa senjata tersebut berbeda.

Punggungnya sedikit lebih tegak.

Bahu kirinya tidak bergerak dengan pola lama.

Tangan yang biasa bekerja bersama tangan kanan tidak lagi berada dalam posisi yang sama.

Ada sesuatu yang hilang dari sistem pertarungannya.

Dan ada sesuatu yang baru menggantikannya.

Vynn tidak mempercepat langkah.

Ia terus berjalan.

Mungkin Kael tidak akan memperhatikannya.

Mungkin mereka akan lewat begitu saja.

Kemungkinan itu bertahan selama beberapa detik.

Kemudian Kael berhenti.

Vynn berhenti.

Selesai.

Ia tidak perlu melihat wajah Kael lebih dekat untuk memastikan.

Tidak ada orang lain yang berdiri seperti itu.

Tidak ada orang lain yang membawa kapak dengan cara tersebut.

Tidak ada orang lain yang menatap tangan lawan sebelum wajahnya.

Vynn mengenali kebiasaan itu.

Kael selalu mengamati tangan.

Karena tangan menentukan senjata.

Senjata menentukan jarak.

Dan jarak menentukan siapa yang mati lebih dahulu.

Vynn membiarkan tangan kanannya tetap tersembunyi di balik jubah.

Jarinya menyentuh gagang dagger.

Belum ditarik.

Belum.

Kael melihat gerakan kecil itu.

Tentu saja.

Vynn hampir tersenyum.

Bukan karena lucu.

Karena beberapa hal tidak pernah berubah.

Kael akhirnya berbicara.

"Kau tidak terlihat seperti orang yang sedang berkunjung untuk bertemu teman."

Suara itu rendah.

Tidak keras.

Namun cukup untuk membuat udara di antara mereka berubah.

Vynn tidak menjawab.

Matanya turun sebentar ke kapak panjang di punggung Kael.

Kemudian kembali ke wajahnya.

Kael memperhatikan gerakan itu.

"Berbeda, ya?"

Ia menyentuh tali pengikat senjatanya.

Vynn tidak menjawab.

Kael tidak perlu menjelaskan apa yang dimaksud.

Ia tahu Vynn sedang melihat senjatanya.

Dulu, dua kapak.

Sekarang satu.

Namun satu itu jauh lebih panjang.

Perubahan yang terlihat jelas bagi seseorang yang pernah melihat gaya bertarungnya dari dekat.

Lihat selengkapnya