Veilbound: Beyond the Ashen Crown

Diva Amane
Chapter #25

Senjata yang Belum Menjadi Miliknya

Bulan tertutup separuh oleh awan tipis ketika suara bilah kapak membelah udara untuk kesekian kalinya.

Desingannya terdengar terlalu berat untuk sebuah tanah lapang yang sunyi. Rumput pendek di bawah kaki Kael telah tercabik oleh beberapa jejak sepatu, tanah lembap terangkat menjadi gumpalan-gumpalan kecil, dan embun malam mulai menempel pada ujung-ujung rerumputan. Dari kejauhan, lampu-lampu rumah permukiman Vrille tampak seperti titik-titik kuning yang tenang, seolah tidak ada apa pun yang sedang terjadi di antara rumah-rumah itu.

Kael berputar.

Kapak panjang di tangannya mengikuti gerakan pinggang dan bahunya, kedua bilahnya berkilat singkat sebelum salah satunya menebas kosong di tempat Vynn berdiri sesaat sebelumnya.

Vynn sudah tidak ada di sana.

Kael menghentikan putaran dengan menarik gagang ke samping.

Beratnya menggigit telapak tangannya.

Ia segera mengangkat bilah ke depan.

Tidak ada serangan.

Hanya suara langkah.

Kiri.

Kemudian kanan.

Vynn tidak lagi mencoba menerobos.

Itulah perubahan yang membuat Kael semakin waspada.

Pada awal pertarungan, Vynn telah menguji pertahanan kapaknya secara langsung. Ia menyerang dari sudut sempit, melemparkan pisau untuk membuka celah, lalu mencoba masuk melalui ruang yang tercipta di antara putaran gagang. Sistem baru Kael mampu menghentikannya. Jangkauan panjang membuat Vynn sulit mencapai tubuhnya tanpa terlebih dahulu melewati lingkar pertahanan kapak.

Namun sekarang Vynn berhenti memaksakan itu.

Ia hanya berjalan.

Satu langkah.

Dua.

Kemudian berhenti di luar jangkauan.

Kael mengikuti dengan mata.

Vynn memiringkan kepala sedikit.

"Berat."

Kael tidak menjawab.

"Senjatamu."

"Aku tahu."

"Bagus."

Vynn bergerak.

Bukan ke depan.

Ke samping.

Kael segera memutar gagang.

Bilah kanan terangkat.

Vynn mengangkat satu pisau di tangannya seolah hendak melemparkannya.

Kael bereaksi.

Putaran gagang dipercepat.

Bilah kapak berpindah posisi, menutup jalur lemparan yang belum pernah terjadi.

Vynn tidak melempar.

Ia hanya menurunkan tangannya.

Kael mengerutkan kening.

Satu detik.

Hanya satu detik.

Tetapi berat kapak yang sudah terlanjur bergerak membuat telapak tangannya harus bekerja lebih keras untuk mengembalikannya.

Vynn tersenyum tipis.

"Begitu."

Kael langsung menyadarinya.

Ia tidak sedang mencari celah pada pertahanannya.

Ia sedang membuat Kael sendiri menciptakan celah.

Vynn kembali bergerak mengitari lingkar jangkauan kapak. Langkahnya ringan, pendek, tidak pernah benar-benar masuk terlalu jauh. Setiap kali ia mengubah arah, Kael harus menyesuaikan posisi tubuh agar bilah tetap menghadap kepadanya.

Satu ancaman kecil.

Satu perubahan posisi.

Satu koreksi.

Tidak ada serangan sungguhan.

Tetapi setiap koreksi membutuhkan tenaga.

Kael menggeser kaki kirinya.

Vynn tiba-tiba merendahkan tubuh.

Kael mengayunkan gagang.

Vynn mundur.

Kosong.

Kael menarik kapak kembali.

Terlambat.

Vynn sudah berpindah ke sisi lain.

Kael memutar pinggang.

Kapak kembali mengikuti.

Suara logam berdesing di udara.

Vynn menunggu sampai bilah hampir selesai berputar sebelum mengangkat pisaunya.

Kael langsung mengubah sudut.

Tidak ada benturan.

Tidak ada luka.

Namun lengan bawahnya menegang.

Ia menggenggam lebih kuat.

Jari-jarinya terasa seperti dikunci pada gagang.

Vynn memperhatikan.

Kael melihat tatapan itu.

"Jangan berharap aku kehabisan napas."

"Aku tidak perlu berharap."

Vynn melangkah maju.

Kael mengayun.

Kali ini serangan itu nyata.

Bilah pertama menyapu horizontal setinggi pinggang. Vynn melompat mundur, lalu langsung kembali maju sebelum kapak sepenuhnya berhenti.

Kael menarik gagang.

Bilah kedua berputar naik.

Vynn sudah keluar dari jalurnya.

Ia tidak menyerang.

Ia hanya menunggu.

Kael mengangkat kapak ke posisi guard.

Napasnya masih teratur.

Tetapi telapak tangannya mulai panas.

Ia mengubah posisi jari.

Memperbaiki cengkeraman.

Kapak itu terlalu panjang.

Ia sudah tahu sejak latihan pertama.

Distribusi berat senjata berada jauh dari titik genggam. Itu memberi daya dan jangkauan yang tidak dimiliki kapak-kapak lamanya dalam konfigurasi dua tangan terpisah, tetapi juga membuat perubahan arah membutuhkan koreksi lebih besar. Ketika bilah sudah bergerak, tubuh tidak cukup hanya memerintahkannya berhenti.

Tubuh harus menghentikan momentum itu.

Kemudian mengarahkannya lagi.

Lalu menahannya.

Kael mengembuskan napas melalui hidung.

Ia tahu tekniknya.

Ia tahu bagaimana membaca Vynn.

Ia bahkan tahu serangan macam apa yang mungkin datang berikutnya.

Masalahnya bukan pengetahuan.

Masalahnya adalah tubuh.

Vynn bergerak lagi.

Kali ini ke kiri.

Kael tidak bereaksi.

Ia menunggu.

Vynn mengangkat pisau.

Kael tetap diam.

Vynn berhenti.

Mata mereka bertemu.

"Lebih baik."

Kael tidak membalas.

Vynn melempar.

Pisau meluncur rendah.

Kael memiringkan gagang.

Bilah kapak memantulkan pisau itu dengan suara nyaring.

Tak.

Pisau jatuh ke tanah.

Vynn sudah berada di sisi kanan.

Kael memutar tubuh.

Terlalu jauh.

Ia segera menyadarinya.

Bilah kapak telah bergerak lebih lebar daripada yang dibutuhkan.

Vynn masuk.

Kael menghentakkan kaki dan menarik gagang.

Ujung pisau berhenti beberapa jari dari rusuknya.

Kael menangkis dengan batang gagang.

Pisau Vynn bergeser.

Kael mendorongnya menjauh.

Vynn mundur.

Tidak ada luka.

Lihat selengkapnya