Veilbound: Beyond the Ashen Crown

Diva Amane
Chapter #26

Jangkar Hidup

Awan hitam menutup bulan sepenuhnya.

Tanah lapang di tengah permukiman Vrille tenggelam dalam cahaya redup yang hanya datang dari jendela-jendela rumah di sekelilingnya. Lampu minyak menggantung di beberapa beranda, cahayanya bergetar setiap kali angin malam melewati jalan sempit di antara rumah. Rumput yang sebelumnya hijau kini tampak gelap dan basah, sebagian rebah karena pijakan kaki, sebagian lagi tercabik oleh ujung bilah yang sejak tadi membelah tanah dan udara.

Bau tanah lembap bercampur dengan logam.

Darah.

Kael berdiri di tengah lapangan dengan napas berat.

Kapak panjang masih berada di kedua tangannya. Bilah gandanya menangkap cahaya samar dari sebuah rumah terdekat, memperlihatkan noda tanah dan goresan tipis akibat benturan pisau. Gagang kayunya telah basah oleh keringat telapak tangannya.

Jari-jari itu mulai sulit digerakkan.

Bukan karena kehilangan kemampuan.

Karena kelelahan.

Kael merasakan otot lengan bawahnya berdenyut setiap kali ia mengencangkan genggaman. Telapak tangannya seperti terbakar. Pergelangan terasa berat. Bahu dan punggungnya telah bekerja terlalu lama untuk menghentikan momentum senjata yang jauh lebih panjang daripada dua kapak yang biasa ia gunakan.

Namun matanya masih tajam.

Di seberangnya, Vynn berdiri beberapa langkah di luar jangkauan bilah.

Pisau masih berada di tangannya.

Tidak banyak gerakan.

Itulah yang membuatnya berbahaya.

Kael sudah memahami pola itu.

Vynn tidak lagi berusaha menerobos pertahanan.

Ia menunggu.

Mengitari.

Memancing.

Membuat Kael mengeluarkan tenaga untuk sesuatu yang mungkin bahkan tidak akan terjadi.

Vynn bergeser ke kiri.

Kael mengikuti.

Vynn berhenti.

Kael tidak menyerang.

Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling mengawasi.

Kemudian Vynn mengangkat tangan.

Kael menggeser posisi gagang.

Tidak ada pisau yang dilempar.

Vynn menurunkan tangannya.

Kael tetap diam.

"Kau mulai belajar," kata Vynn.

Kael tidak menjawab.

Napasnya keluar lebih berat daripada sebelumnya.

Vynn bergerak lagi.

Kali ini cepat.

Kael memutar kapak.

Bilah pertama menyapu di depan tubuh.

Vynn mundur sebelum terkena.

Kael segera menarik senjata kembali.

Lengan bawahnya menegang.

Berat.

Terlalu berat.

Ia menahan napas sesaat untuk mengembalikan kapak ke posisi guard.

Vynn sudah berada di sisi lain.

Kael memutar tubuh.

Bilah kedua terangkat.

Vynn kembali mundur.

Tidak ada serangan.

Hanya ancaman.

Kael menggertakkan gigi.

Ia sudah mengenali taktik itu.

Vynn sedang memaksanya menggerakkan senjata tanpa pernah memberikan sasaran yang benar-benar dapat dihantam.

Masalahnya, tubuh Kael tidak bisa membedakan ancaman nyata dan ancaman palsu secepat pikirannya.

Ketika Vynn bergerak, tubuh tetap harus bersiap.

Ketika Vynn berhenti, tubuh harus menghentikan persiapan itu.

Ketika ia mengubah arah, Kael harus mengubah posisi lagi.

Setiap koreksi membutuhkan tenaga.

Dan kapak itu tidak ringan.

Distribusi beratnya berada jauh dari titik genggam. Semakin cepat arah bilah diubah, semakin besar pula kerja otot yang dibutuhkan untuk menghentikan momentum sebelum mengarahkannya kembali.

Pada awal pertarungan, Kael dapat mengatasinya.

Sekarang setiap perubahan arah mulai terasa seperti menarik seluruh tubuhnya sendiri.

Vynn melangkah maju.

Kael mengangkat kapak.

Vynn berhenti.

Kael tidak mengayun.

Vynn tersenyum tipis.

"Kali ini benar."

Kael tetap diam.

Kemudian Vynn melempar pisau.

Kael langsung bergerak.

Lintasannya terbaca jelas.

Dari sudut bahu Vynn, arah pergelangan, dan posisi jari ketika melepaskan senjata, Kael tahu pisau itu akan datang ke bagian kiri tubuhnya.

Ia mengangkat kapak.

Namun tubuhnya terlambat.

Bukan pikirannya.

Tubuhnya.

Bilah menyapu untuk memotong lintasan dagger.

Kael tahu ia seharusnya hanya menggeser ujung kapak beberapa derajat.

Tetapi tubuhnya masih membawa kebiasaan lama.

Gerakan besar.

Putaran.

Perpindahan berat.

Satu senjata yang harus menutup ruang yang sebelumnya dapat dijaga oleh dua kapak.

Bilah kapak mengenai sisi dagger.

Tak!

Arah pisau berubah.

Sedikit.

Sangat sedikit.

Tetapi cukup untuk menyelamatkan jantungnya.

Tidak cukup untuk menyelamatkan tubuhnya.

Kael merasakan sesuatu menembus sisi kiri perut.

Dunia mendadak sunyi.

Tidak ada suara langkah.

Tidak ada suara angin.

Tidak ada suara dari rumah-rumah di sekitar.

Hanya tekanan dingin yang menembus tubuhnya, lalu panas yang menyusul beberapa saat kemudian.

Kael menatap ke bawah.

Gagang dagger terlihat dari sisi tubuhnya.

Darah mulai mengalir.

Ia menarik napas.

Tidak keluar.

Kakinya mundur satu langkah.

Kemudian satu lagi.

Kapak hampir terlepas.

Kael memaksa tangannya tetap menggenggam gagang.

Lihat selengkapnya