Malam telah melewati titik ketika sebagian besar rumah di permukiman Vrille mematikan lampu.
Jalan-jalan sempit di antara rumah kayu dan batu itu hampir seluruhnya gelap. Hanya beberapa lentera yang masih menyala di beranda, nyalanya kecil dan kuning, bergoyang pelan tertiup angin. Dari kejauhan terdengar suara serangga malam dan sesekali bunyi kayu terbakar dari tungku rumah seseorang. Tidak ada tanda bahwa beberapa puluh langkah dari sana, tanah lapang baru saja menjadi tempat pertarungan yang meninggalkan darah.
Vynn berjalan tanpa suara.
Ia tidak langsung menuju rumah Arcante.
Setelah meninggalkan Kael, ia terlebih dahulu berhenti di persimpangan kecil yang telah dipelajarinya sejak kedatangannya. Ia menoleh ke belakang. Tidak ada warga yang keluar. Tidak ada suara langkah tergesa. Tidak ada pintu yang terbuka akibat mendengar keributan. Permukiman tetap tidur seperti sebelumnya.
Itu cukup.
Pertarungan mereka memang menghasilkan suara, tetapi jaraknya dari rumah-rumah cukup jauh dan berlangsung singkat. Vynn juga telah memilih posisi yang tidak berada di antara bangunan padat. Tidak ada alasan bagi warga untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Ia menyentuh sisi tubuhnya yang terluka.
Luka dari kapak Kael masih terasa ketika ia bergerak.
Tidak dalam.
Namun cukup untuk mengingatkan bahwa petarung yang baru saja ia jatuhkan bukan lawan yang dapat dianggap selesai hanya karena tubuhnya terbaring di tanah.
Vynn mengalihkan pandangan.
Ia tidak datang untuk Kael.
Tujuannya masih berada beberapa langkah di depan.
Rumah Arcante.
Ia mempercepat langkah.
Namun ketika hampir mencapai jalan menuju rumah tersebut, ia berhenti.
Ada seseorang di luar.
Anak Arcante.
Sosok kecil itu berdiri tidak jauh dari sisi rumah, berada di dekat pagar rendah yang membatasi halaman. Tidak ada senjata. Tidak ada pengawal. Tidak ada tanda bahwa ia menyadari bahaya yang sedang mendekat.
Vynn memperhatikan beberapa detik.
Kesempatan.
Ia bergerak.
Tidak cepat.
Tidak perlu.
Satu langkah dari sisi jalan, kemudian dua langkah mendekat melalui bayangan rumah tetangga. Ketika anak itu menoleh karena mendengar suara kecil dari rerumputan, Vynn sudah berada di belakangnya.
Satu tangan menutup mulut.
Tangan lainnya mengunci tubuhnya.
Anak itu terkejut dan mencoba bergerak.
Vynn menahannya tanpa membanting.
"Diam."
Tidak ada ancaman keras.
Tidak perlu.
Anak itu membeku.
Vynn membawa tubuhnya menuju pintu rumah Arcante.
Ia membuka pintu dengan perlahan.
Tidak terkunci.
Begitu masuk, Vynn menutupnya kembali.
Baru setelah itu ia mengangkat pandangan.
Rumah itu sederhana.
Tidak ada hiasan yang menunjukkan masa lalu Arcante. Tidak ada simbol Abyssal Sovereign. Tidak ada senjata yang digantung sebagai kenang-kenangan. Rak kayu berisi buku-buku berdiri di salah satu sisi ruangan. Beberapa lembar kertas tersusun di atas meja. Ada tungku kecil yang apinya hampir padam.
Terlalu biasa.
Hampir membuat masa lalu pemiliknya terasa seperti kebohongan.
Vynn mendorong anak itu sedikit ke depan.
"Arcante."
Tidak ada jawaban.
Namun suara benda bergeser terdengar dari ruangan belakang.
Vynn mengangkat pisau.
"Keluar."
Beberapa detik berlalu.
Kemudian Arcante muncul.
Wajah lelaki tua itu berubah begitu melihat siapa yang berdiri di dalam rumahnya.
Bukan terkejut.
Bukan takut.
Pengenalan.
Mata Arcante langsung turun ke tangan Vynn yang memegang anaknya, lalu kembali ke wajah sang assassin.
"Vynn."
Vynn tidak menjawab.
Arcante berdiri diam.
Tatapan mereka bertemu.
Ada puluhan tahun di antara keduanya.
Vynn mengenal nama Arcante dari laporan, catatan lama, dan cerita yang tidak pernah sepenuhnya jelas. Mantan Abbysal Sovereign. Penyihir ofensif yang pernah dianggap salah satu yang paling berbahaya. Seseorang yang menghilang tiga puluh lima tahun lalu dan tidak pernah kembali.
Namun orang di hadapannya tidak terlihat seperti legenda.
Ia terlihat seperti seorang ayah yang baru saja melihat anaknya berada di tangan orang lain.
Arcante mengangkat tangan sedikit.
Bayangan bergerak di lantai.
Vynn langsung menekan pisau lebih dekat.
"Jangan."
Bayangan berhenti.
Arcante memandangnya.
"Kau datang untuk membunuhku?"
"Kalau itu tujuanku, aku tidak akan membawa anakmu."
Jawaban itu membuat wajah Arcante mengeras.
Ia memahami.
Vynn juga tahu ia memahami.
Tujuannya bukan nyawa Arcante.
Ada sesuatu yang lebih tua.
Sesuatu yang disimpan lelaki itu selama puluhan tahun.
Arcante menatap meja di ruang utama.
Kemudian rak.
Kemudian sebuah lemari tua di dekat dinding.
Vynn mengikuti arah matanya.
"Kau tahu apa yang kucari."
Arcante tidak menjawab.
Vynn berkata, "Semua dokumen."
"Dokumen apa?"
"Jangan buang waktuku."
Nada Vynn tetap tenang.
Justru itu yang membuat ancaman terasa lebih nyata.
Arcante menarik napas.
"Ekspedisi."
Vynn mengangguk.
"Tiga puluh lima tahun lalu."
Arcante menutup mata sesaat.
Tidak ada keterkejutan.
Hanya kelelahan yang tiba-tiba terlihat lebih tua dari wajahnya.
"Jadi akhirnya kalian datang juga."
"Kami sudah lama mencarimu."
"Dan sekarang?"
"Sekarang kami tahu di mana kau tinggal."
Arcante memandang anaknya lagi.
Bayangan di lantai bergerak tipis.
Vynn mengangkat pisau.
Arcante menghentikan tangannya.
Ia masih memiliki kekuatan.
Vynn dapat melihatnya.
Meskipun tua dan telah hidup jauh dari medan perang, tubuh Arcante belum kehilangan seluruh kebiasaan seorang penyihir. Ada sesuatu dalam tatapannya yang menunjukkan bahwa jika anak itu tidak berada di antara mereka, pertemuan ini mungkin akan berakhir sangat berbeda.
Namun Arcante juga tahu batasnya.
Cadangan energi yang ia miliki tidak besar.
Terlalu banyak kekuatan telah hilang dalam pertempuran sebelumnya. Tubuhnya sendiri belum sepenuhnya pulih. Ia tidak dapat memanggil bayangan dalam jumlah seperti dahulu, apalagi mempertahankan inkarnasi bayangan sambil melindungi anaknya dari seorang assassin veteran.
Tetapi Vynn tidak tahu persis seberapa jauh batas itu.
Ia hanya melihat Arcante sebagai ancaman yang masih mungkin berbahaya.
"Serahkan semuanya."
Arcante menatapnya.
"Kalau aku menolak?"
Vynn memandang anak itu.
Tidak menjawab.