Malam telah turun sepenuhnya ketika suara langkah kaki tergesa-gesa memecah ketenangan permukiman.
Udara dingin membawa bau tanah basah dan asap tungku yang mulai padam. Lampu-lampu kecil di depan rumah warga bergoyang tertiup angin, melemparkan bayangan panjang ke jalan tanah yang biasanya sudah sepi pada jam seperti itu. Namun malam itu, beberapa pintu terbuka. Beberapa kepala muncul dari balik jendela. Suara bisik-bisik bergerak dari satu rumah ke rumah lain seperti arus kecil yang tidak terlihat.
Ada suara benturan.
Ada suara sesuatu jatuh.
Lalu hening.
Seorang warga berlari melewati jalan utama menuju rumah Vrille. Napasnya tersengal ketika akhirnya menemukan Kylia yang sedang berdiri di depan rumah seorang tetangga, membawa keranjang kosong setelah membantu mengantar beberapa bahan makanan.
"Kylia."
Kylia menoleh.
Wajah warga itu pucat.
"Ada suara pertarungan di jalan dekat rumah Arcante."
Keranjang di tangan Kylia berhenti bergerak.
"Kael?"
Warga itu menggeleng cepat.
"Kami tidak tahu. Tapi..." Ia menarik napas. "Ada darah."
Kylia tidak menunggu kalimat berikutnya.
Ia langsung berlari.
Langkahnya menghantam tanah dengan cepat, tetapi bahu kanannya yang belum sepenuhnya pulih segera mengingatkan bahwa tubuhnya tidak lagi sama seperti dahulu. Ia menahan rasa nyeri yang menjalar dari bahu sampai lengan dan terus bergerak, melewati rumah-rumah yang mulai menutup pintu, melewati beberapa warga yang menunjuk ke arah jalan.
Malam terasa terlalu panjang.
Ketika ia mencapai tikungan terakhir, ia melihat jejak pertama.
Darah.
Tidak banyak, tetapi cukup jelas di atas tanah yang pucat diterangi cahaya bulan.
Kylia berhenti sesaat.
Di beberapa langkah berikutnya, jejak itu menjadi lebih pekat.
"Kael..."
Ia menemukan tubuh itu beberapa saat kemudian.
Kael terbaring miring di sisi jalan, satu tangan masih menggenggam tanah. Napasnya ada, tetapi berat. Wajahnya pucat, rambutnya basah oleh keringat, dan pakaian di bagian kiri tubuhnya telah berubah gelap karena darah.
Kapak panjangnya tergeletak beberapa meter dari sana.
Kylia berlutut.
"Kael."
Tidak ada jawaban.
Ia menyentuh pipi Kael.
Dingin.
Tidak sedingin mayat, tetapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dada Kylia runtuh sesaat.
"Kael."
Kelopak mata Kael bergerak.
"Kylia..."
Suara itu hampir tidak terdengar.
Kylia mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan.
"Kau masih sadar."
Kael mencoba bergerak.
Kylia segera menahan bahunya.
"Jangan."
"Aku bisa—"
"Jangan."
Nada suaranya tidak keras. Justru karena itu, Kael berhenti.
Beberapa warga tiba beberapa saat kemudian. Salah seorang membawa kain, yang lain membawa tandu sederhana dari dua batang kayu dan papan yang biasa digunakan untuk mengangkut barang.
Kylia tidak banyak bicara.
"Angkat pelan."
Mereka memindahkan Kael dengan hati-hati. Begitu tubuhnya terangkat, darah kembali merembes dari sisi kiri perutnya.
Kylia melihatnya.
Tangannya mengepal.
Tetapi wajahnya tetap tenang.
"Jangan tekan terlalu keras," katanya kepada warga yang membawa kain. "Biarkan kainnya menutup luka. Jangan tarik senjatanya jika masih ada sesuatu yang tertinggal."
"Senjatanya sudah tidak ada," jawab warga itu.
Kylia menatap luka tersebut sekali lagi.
Lalu memandang ke arah jalan yang gelap.
Seseorang telah datang.
Seseorang telah bertarung dengan Kael.
Dan seseorang telah pergi.
--o--
Pintu pondok terbuka sebelum tandu mencapai beranda.
Isolde sudah berada di sana.
Ia tidak bertanya siapa yang terluka.
Begitu melihat Kael, matanya langsung tertuju pada sisi kiri perutnya.
"Bawa ke kamar."
"Dia kehilangan banyak darah?" tanya Kylia.
"Cukup."
Jawaban Isolde singkat.
Tidak ada kepanikan dalam suaranya.
Justru ketenangan itu yang membuat Kylia mampu terus bergerak.
Mereka membaringkan Kael di atas ranjang. Isolde meminta air panas, kain bersih, ramuan pembeku darah, dan beberapa peralatan kecil dari kotak kayu yang selama ini disimpan di sudut rumah.
Kylia bergerak tanpa diminta.
Air.
Kain.
Lampu.
Pisau kecil untuk memotong pakaian.
Semua disiapkannya satu demi satu.
Isolde membuka bagian pakaian Kael yang telah menempel pada luka.
Darah yang mengering membuat kain tertarik ketika dipisahkan.
Kael mengerang.
Kylia langsung mendekat.
"Tarik napas."
Kael membuka mata sedikit.
"Sudah."
"Belum."
Kael menarik napas.
Isolde membersihkan luka perlahan. Cairan hangat bercampur darah mengalir ke kain di bawah tubuh Kael. Luka itu cukup dalam untuk membuat Kylia menahan napas, tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan pada organ dalam.
Isolde memeriksa dengan teliti.
Jari-jarinya menekan beberapa bagian di sekitar luka, mengamati respons tubuh Kael.
"Masih bisa merasakan?"
Kael mengangguk.
"Kaki?"
"Bisa."
"Tarik napas dalam."
Kael menurut.
Isolde menunggu.
Kemudian ia mengangguk kecil.
"Tidak mengenai organ vital."
Kylia baru menyadari bahwa tangannya sendiri sejak tadi menggenggam ujung kain terlalu kuat.
Ia melepaskannya.
"Seberapa parah?"
"Luka tajam." Isolde mengambil ramuan dari botol kecil. "Dalam, tetapi arahnya tidak masuk terlalu jauh. Darahnya cukup banyak. Tubuhnya butuh waktu."
"Berapa lama?"
"Beberapa hari sebelum ia boleh melakukan banyak aktivitas. Lebih lama sebelum kembali bertarung."
Kael membuka mata.
"Beberapa hari?"
Isolde menoleh kepadanya.
"Kalau ingin hidup cukup lama untuk mengeluh soal pekerjaan, ya."
Kael terdiam.
Kylia hampir tersenyum.
Hampir.
Isolde menuangkan ramuan ke luka. Kael menegang, tetapi tidak bersuara. Tangannya mencari sesuatu di samping tubuh dan akhirnya menemukan seprai.
Kylia menggenggam tangannya.
"Jangan bergerak."
"Aku tidak bergerak."
"Bagus."
Isolde menutup luka dengan balutan yang cukup tebal. Setelah memastikan tidak ada pendarahan baru, ia membersihkan sisa darah dari tubuh Kael.
Barulah ia berdiri.
"Dia perlu tidur."
"Kau yakin?" tanya Kylia.
"Kalau ia kehilangan kesadaran karena tubuhnya kelelahan, itu bukan sesuatu yang aneh." Isolde memandang Kael. "Yang perlu diperhatikan adalah napas, suhu tubuh, dan apakah perdarahannya kembali."
Kylia mengangguk.
Isolde mengambil beberapa kain dan membersihkan tangannya.
Kemudian tatapannya beralih kepada Kylia.
"Dia beruntung."