Pagi datang tanpa benar-benar mengusir sisa malam.
Kabut tipis masih menggantung di antara rumah-rumah permukiman ketika cahaya matahari pertama menyentuh atap kayu dan jalan tanah yang basah. Asap dari beberapa tungku naik lurus sebelum perlahan dipecah angin. Suara aktivitas mulai terdengar dari kejauhan, langkah kaki, pintu yang dibuka, kayu dipindahkan, percakapan pendek antarwarga yang menjalani pagi seperti biasa.
Namun di rumah Arcante, udara pagi terasa berbeda.
Pintu depan masih menyisakan bekas tanah dari sepatu seseorang yang masuk pada malam sebelumnya. Beberapa bagian lantai dipenuhi jejak kaki yang tidak seharusnya ada. Sebuah kursi bergeser dari tempatnya. Laci terbuka. Kain penutup sebuah rak terjatuh ke lantai dan dibiarkan begitu saja.
Arcante berdiri di ambang ruangan.
Ia tidak langsung masuk.
Matanya menyapu setiap sudut.
Tidak ada darah.
Tidak ada tubuh.
Tidak ada tanda pertarungan besar.
Namun kekacauan kecil yang memenuhi ruangan itu justru lebih mengganggunya.
Karena seseorang telah mencari sesuatu.
Dan orang itu tahu apa yang harus dicari.
Isolde berdiri beberapa langkah di belakangnya.
"Dia benar-benar masuk sampai ke sini."
Arcante tidak menjawab.
Ia melangkah masuk.
Kayu lantai berderit di bawah telapak kakinya.
Rak tua di sisi dinding terbuka. Beberapa buku yang selama bertahun-tahun hampir tidak pernah disentuh kini berserakan di lantai. Sebuah kotak kayu kecil terbalik. Tali pengikat yang dahulu menjaga beberapa bundel kertas tetap rapat terpotong begitu saja.
Arcante berlutut.
Ia mengambil satu lembar yang tersisa.
Tulisan tangan lama.
Tintanya sudah memudar.
Ia mengenal setiap goresannya.
Tiga puluh lima tahun.
Tiga puluh lima tahun sejak tulisan itu dibuat.
Arcante membalik lembar tersebut.
Kosong.
Bukan karena tidak pernah berisi sesuatu.
Bagian yang paling penting sudah tidak ada.
"Isolde."
"Ya?"
"Ambil lampunya."
Isolde mengambil lampu minyak dan mendekat.
Arcante membuka kotak yang tergeletak di lantai. Isinya tinggal beberapa serpihan kertas, satu batu kecil berukir simbol yang sudah aus, dan potongan kain pembungkus yang dulu digunakan untuk menyimpan peta.
Hanya itu.
Isolde menatap isi kotak.
"Berapa banyak?"
Arcante tidak menjawab segera.
Ia menggeser beberapa buku.
Satu.
Dua.
Tiga rak.
Kosong.
Ia membuka lemari kecil di sudut ruangan.
Kosong.
Kemudian laci bawah meja.
Kosong.
Ia berdiri dan berjalan menuju dinding belakang.
Ada celah sempit di antara dua papan kayu. Dulu mereka menyimpan beberapa salinan catatan di sana untuk berjaga-jaga jika tempat penyimpanan utama ditemukan.
Celah itu sudah terbuka.
Kosong.
Arcante menutup mata.
"Semua."
Isolde mengerti.
"Hampir semua?"
"Yang berhubungan dengan ekspedisi."
Ruangan itu kembali sunyi.
Isolde menurunkan lampu.
Selama bertahun-tahun, mereka tidak pernah membicarakan dokumen-dokumen itu dengan siapa pun.
Bukan karena tidak mempercayai orang lain.
Melainkan karena mereka sendiri tidak yakin apa yang harus dilakukan dengan pengetahuan yang terkandung di dalamnya.
Arcante berjalan ke meja.
Tangannya menyentuh permukaan kayu yang penuh goresan kecil.
Dulu, ia pernah memenuhi meja ini dengan peta.
Jalur pegunungan.
Catatan tentang reruntuhan.
Nama-nama tempat yang hanya muncul sekali dalam mitologi tua.
Kesaksian dari pengembara yang telah mati puluhan tahun sebelum Arcante membacanya.
Potongan bahasa yang tidak lagi digunakan.
Catatan tentang fenomena mana yang tidak dapat dijelaskan oleh teori sihir pada masa itu.
Semuanya pernah memenuhi ruangan ini.
Kemudian mereka memilih untuk menguburnya.
Bukan membakarnya.
Bukan menghancurkannya.
Menyimpannya.
Karena Arcante tahu bahwa menghancurkan pengetahuan tidak sama dengan menghapus apa yang pernah terjadi.
Dan sekarang seseorang telah mengambilnya.
--o--
Menjelang siang, Vrille datang.
Tubuh yang masih kokoh itu berhenti di depan pintu, matanya segera menangkap keadaan ruangan.
Ia tidak bertanya apa yang terjadi.
Ia sudah melihat cukup banyak rumah setelah pertempuran untuk mengenali tanda seseorang mencari sesuatu.
"Jadi dia benar-benar mengambilnya."
Arcante berdiri di dekat jendela.
"Ya."
Vrille masuk perlahan.
"Kael?"
"Masih hidup."
"Isolde?"
"Menjaga dia bersama Kylia."
Vrille mengangguk.
Baru setelah itu ia melihat lantai.
"Berapa banyak yang hilang?"
"Yang kami simpan di sini hampir semuanya."
Vrille tidak langsung bicara.
Ia mengambil sebuah buku yang tergeletak terbuka. Beberapa halaman di tengahnya hilang, tercabut kasar dari jilid.
"Dia tahu apa yang dicari."
"Ya."
"Bagaimana?"
Arcante menatap buku itu.
"Itulah masalahnya."
Vrille mengangkat kepala.
Arcante menarik kursi dan duduk.
"Kalau dia hanya masuk untuk mencari sesuatu secara acak, aku masih bisa menganggap ini sebagai pencarian biasa. Tapi dia mengambil hampir semua catatan yang berhubungan dengan ekspedisi."
"Berarti mereka sudah tahu."
"Mereka tahu cukup banyak."
Vrille menyipitkan mata.
"Cukup banyak tentang apa?"
Arcante tidak segera menjawab.
Ia mengambil sebuah potongan kertas dari lantai.
Di bagian atasnya masih terlihat tiga kata dalam tulisan tangannya.
Utara. Kota tua.
Tidak ada kalimat lain.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada jawaban.
Hanya tiga kata.
Arcante membalik kertas itu.