Veilbound: Beyond the Ashen Crown

Diva Amane
Chapter #30

Peta Menuju Elric

Hujan turun tipis di atas kompleks pusat Abyssal Sovereign ketika Vynn tiba.

Langit berwarna kelabu gelap, seolah matahari berhenti sebelum mencapai dinding-dinding batu hitam yang mengelilingi pusat administrasi. Air mengalir melalui celah batu, membawa debu dan sisa tanah dari jalan menuju saluran sempit di sepanjang halaman. Lentera mana yang tergantung di bawah lengkungan bangunan tetap menyala meskipun siang belum berakhir, cahayanya pucat dan dingin di antara kabut hujan.

Vynn berjalan tanpa tergesa.

Jubah perjalanan yang dipakainya masih menyimpan noda tanah dari permukiman. Ada sobekan kecil di bagian samping yang tidak sempat diperbaiki. Luka tipis bekas tebasan kapak Kael masih terasa di sisi tubuhnya setiap kali langkahnya terlalu panjang.

Di tangannya terdapat sebuah peti kayu.

Tidak besar.

Namun berat.

Bukan karena isi fisiknya semata.

Peti itu berisi puluhan tahun penelitian yang telah dikumpulkan Arcante sebelum memilih menghilang dari dunia.

Vynn berhenti di depan pintu ruang administrasi utama.

Dua penjaga mengenalinya.

Tidak ada pemeriksaan panjang.

Pintu dibuka.

Vynn masuk.

--o--

Lord Mireth telah menunggunya.

Ruangan itu luas dan hampir tanpa dekorasi. Rak-rak dokumen berdiri di sepanjang dinding, masing-masing diberi segel guild. Sebuah meja batu hitam berada di tengah, diterangi tiga kristal mana yang melayang beberapa jengkal di atas permukaannya.

Mireth berdiri di belakang meja.

Tatapannya langsung jatuh pada peti.

"Berhasil?"

Vynn meletakkannya di atas meja.

"Semua yang ditemukan."

Mireth tidak segera membuka.

"Semua?"

"Dokumen, catatan, peta, salinan mitologi, penelitian geografis."

Vynn berhenti sejenak.

"Semua yang berkaitan dengan ekspedisi lama."

Mireth mengangguk.

Ia membuka peti.

Kertas-kertas tua tersusun tidak rapi. Beberapa masih terikat dengan tali kulit. Sebagian memiliki pinggiran yang telah menguning. Ada gulungan peta yang tampak jauh lebih tua daripada kertas lainnya. Beberapa fragmen bahkan hanya berupa lembaran kecil dengan tulisan yang nyaris tidak terbaca.

Mireth mengambil satu.

Membacanya.

Kemudian meletakkannya kembali.

"Kau membaca isinya?"

"Tidak."

"Bagus."

Vynn berdiri diam.

Mireth mengangkat satu bundel catatan.

"Arcante menyimpan semua ini selama tiga puluh lima tahun?"

"Sepertinya."

"Dan kau mengambil semuanya?"

"Ya."

Mireth menatapnya beberapa saat.

"Kau terluka."

"Sedikit."

"Kael?"

"Masih hidup."

Mireth berhenti membalik halaman.

"Dia melawanmu."

"Ya."

"Dan kau meninggalkannya."

"Dia terlalu lemah untuk menjadi ancaman."

Mireth tidak menunjukkan ketidakpuasan.

Justru sebaliknya.

"Keputusan yang tepat."

Vynn mengangguk.

"Apakah ada tugas lain?"

Mireth menutup peti.

"Ada."

Ia memberi isyarat kepada seorang pejabat di sisi ruangan.

"Ambil kelompok sejarah."

Pejabat itu membungkuk.

"Berapa orang?"

"Yang diperlukan."

Pejabat tersebut segera pergi.

Vynn tetap berdiri.

Ia tidak bertanya apa yang akan dilakukan Mireth terhadap dokumen-dokumen itu.

Mireth pun tidak menjelaskan.

Namun ketika peti itu dibawa keluar, tatapan Mireth mengikuti hingga pintu tertutup.

Barulah ia berbicara.

"Kalau Arcante menyimpan semuanya selama tiga puluh lima tahun, berarti ada alasan mengapa ia tidak membuangnya."

Vynn menoleh.

"Mungkin."

Mireth memandang peti yang kini telah dibawa pergi.

"Atau mungkin ia takut seseorang akan memahami isinya."

--o--

Ruang penelitian berada tiga tingkat di bawah administrasi utama.

Tidak ada jendela.

Dindingnya dilapisi batu hitam dengan garis-garis tipis kristal yang mengalir seperti urat. Cahaya dari kristal tersebut cukup untuk membaca, tetapi tidak cukup terang untuk membuat ruangan terasa nyaman.

Enam peneliti duduk mengelilingi meja panjang.

Di atasnya, dokumen Arcante telah dibentangkan.

Tidak ada yang membaca dari awal hingga akhir.

Mereka memilah.

Satu orang memisahkan catatan geografis.

Yang lain mengelompokkan nama.

Dua orang memeriksa simbol.

Seorang peneliti tua membandingkan tulisan dari tiga sumber berbeda.

Dan di ujung meja, seorang ahli mitologi demon membuka buku referensi yang sampulnya hampir hancur.

"Ini tidak masuk akal."

Peneliti di sebelahnya tidak mengangkat kepala.

"Bagian mana?"

"Simbol ini."

Ia menunjuk sebuah tanda yang terlihat seperti lingkaran yang terpotong tiga garis.

"Ada di sini."

Kemudian ia membuka dokumen lain.

"Dan di sini."

Ia mengambil fragmen ketiga.

"Di sini juga."

Peneliti lain mendekat.

"Tiga sumber berbeda?"

"Empat."

Mereka terdiam.

Simbol yang sama muncul pada catatan mitologi, peta lama, dan laporan perjalanan yang ditulis oleh orang berbeda dalam periode yang berbeda.

"Nama tempatnya?"

"Belum cocok."

"Nama orang?"

Peneliti tua itu mengambil daftar.

Ada beberapa nama.

Sebagian tidak lengkap.

Sebagian hanya berupa gelar.

Sebagian menggunakan bahasa demon kuno yang sudah jarang dipakai.

Ia membaca satu per satu.

Kemudian berhenti.

"Elric."

Ruangan mendadak lebih sunyi.

Peneliti di sebelahnya mengangkat kepala.

Lihat selengkapnya