Cahaya siang tidak pernah benar-benar masuk ke ruang arsip bawah tanah Abyssal Sovereign.
Kristal-kristal mana yang tertanam di dinding memberikan cahaya kebiruan yang dingin, cukup untuk menerangi meja-meja batu dan rak-rak tinggi, tetapi tidak cukup untuk menghilangkan kesan bahwa tempat itu selalu berada beberapa jam sebelum malam. Bau kertas tua, kulit yang mengering, tinta, dan debu batu bercampur di udara. Setiap langkah memantul pendek di antara lorong rak, lalu menghilang ke kedalaman bangunan.
Di salah satu ruang penelitian, sebuah peta telah dibentangkan di atas meja panjang.
Tidak ada seorang pun yang menyentuhnya.
Bukan karena mereka tidak ingin.
Melainkan karena mereka belum sepakat tentang apa yang sedang mereka lihat.
"Kalau garis ini benar," kata seorang peneliti tua, "maka kota itu berada di sisi timur rangkaian pegunungan."
"Kalau garis itu benar," sahut peneliti lain, "kita juga harus menganggap catatan sungai ini masih menggunakan aliran sebelum letusan."
"Itulah yang sedang kami perhitungkan."
"Dan kalau alirannya berubah?"
"Maka lokasinya bergeser."
"Berapa jauh?"
"Belum tahu."
Percakapan itu berhenti.
Di ujung meja, Lord Mireth berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung.
Beberapa pejabat senior guild duduk di kursi batu menghadap para peneliti. Mereka tidak datang untuk mendengarkan kisah legenda. Mereka datang untuk mengetahui apakah tumpukan kertas tua yang baru saja diambil dari rumah Arcante memiliki nilai nyata.
Sampai saat itu, belum ada jawaban sederhana.
Satu hal yang mereka miliki hanyalah pola.
Terlalu banyak pola.
Dan semuanya terus membawa mereka kembali kepada satu nama.
Elric.
Peneliti tua itu menarik sebuah lembar dari tumpukan.
"Catatan ini adalah salinan dari teks yang diperkirakan berasal dari periode awal sejarah ras iblis."
Ia meletakkannya di meja.
"Di dalamnya, Elric disebut sebagai penyihir."
Ia mengambil lembar kedua.
"Di sini ia disebut sebagai ilmuwan."
Lembar ketiga.
"Dan di sini..."
Ia berhenti.
"...sebagai pencipta."
Salah seorang pejabat mengangkat alis.
"Pencipta apa?"
Peneliti itu menoleh kepada rekannya.
Sebuah buku dibuka.
Halaman yang rapuh ditahan dengan kedua tangan agar tidak patah.
"Teknologi."
Kata itu terdengar terlalu sederhana untuk sebuah ruangan yang dipenuhi catatan ribuan tahun.
"Teknologi yang berkaitan dengan mana," lanjutnya. "Dan tubuh iblis."
Seorang pejabat senior menyandarkan tubuhnya.
"Jelaskan."
Peneliti lain mengambil alih.
"Catatan mengenai Elric menyebut bahwa pada zamannya, keterbatasan biologis ras iblis dalam menggunakan inkarnasi bayangan jauh lebih besar dibandingkan sekarang. Tubuh tidak mampu mempertahankan bentuk bayangan dalam durasi panjang tanpa mengalami tekanan berat."
"Hal itu sudah diketahui."
"Yang tidak diketahui adalah bagaimana Elric mengatasinya."
Ia menunjuk diagram kecil di halaman.
"Catatan-catatan ini menyebut sebuah mekanisme yang mampu menghasilkan atau mempertahankan aliran mana dari luar tubuh."
"Mana reactor," kata Mireth.
Semua mata beralih kepadanya.
Mireth tidak bergerak.
"Nama itu muncul pada beberapa catatan yang lebih baru," katanya. "Lanjutkan."
Peneliti itu mengangguk.
"Jika kita menerima semua catatan tersebut sebagai sejarah, maka Elric bukan hanya penyihir. Ia adalah seseorang yang mengembangkan teknologi yang mengubah batas biologis dan magis ras iblis."
"Jika," kata peneliti lain.
Suara itu datang dari sisi meja.
"Masalahnya ada pada kata itu."
Ia menunjuk beberapa dokumen.
"Kita tidak memiliki sumber primer. Tidak ada catatan langsung dari Elric. Tidak ada laporan laboratorium yang dapat diverifikasi. Tidak ada artefak yang ditemukan dan dapat diuji."
Peneliti pertama menatapnya.
"Namun ada terlalu banyak sumber yang menyebut hal yang sama."
"Legenda juga dapat diwariskan."
"Legenda tidak menjelaskan pola geografis."
"Geografi bisa benar sementara ceritanya salah."
Beberapa pejabat saling pandang.
Perdebatan mulai bergerak ke arah yang tidak mereka sukai.
Mireth tetap diam.
Ia membiarkan para peneliti bertukar argumen.
Bukan karena ia tidak peduli.
Justru karena ia ingin mengetahui bagian mana yang mereka yakini hanya karena cerita dan bagian mana yang dapat berdiri tanpa cerita.
--o--
Vynn berada di ruangan yang berbeda.
Ia tidak diperbolehkan masuk ke ruang penelitian utama selama pembahasan berlangsung. Perintah itu tidak disampaikan sebagai larangan keras. Ia hanya diberi tugas menunggu di ruang arsip luar sambil memastikan beberapa dokumen telah dipindahkan sesuai instruksi.
Vynn tidak keberatan.
Ia tidak memiliki alasan untuk peduli pada sejarah.
Baginya, pekerjaan adalah pekerjaan.
Mencari.
Masuk.
Mengambil.
Keluar.
Selesai.
Namun setelah beberapa waktu, pintu ruang penelitian terbuka.
Seorang peneliti keluar membawa dua bundel dokumen.
Vynn melihat simbol yang tergambar pada halaman paling atas.
Sebuah kota.
Dinding.
Gunung.
Dan sesuatu seperti lingkaran besar di tengahnya.
Vynn memandang sekilas.
"Elric?" tanyanya.
Peneliti itu berhenti.
"Kau tahu namanya?"
"Sedikit."
Peneliti tersebut memandangnya beberapa saat sebelum melanjutkan berjalan.
Vynn tidak mengejar.
Ia hanya kembali bersandar pada dinding.
Dari balik pintu yang belum sepenuhnya tertutup, suara perdebatan terdengar samar.
"...terlalu banyak kemiripan..."
"...bisa saja mitologi..."
"...catatan letusan..."
"...tidak ada bukti keadaan kota setelahnya..."
Vynn menatap pintu.
Sebuah kota tua.
Gunung meletus.
Catatan hilang.
Ia tidak memahami mengapa semua itu membuat orang-orang di dalam ruangan berbicara seolah sedang menentukan nasib sesuatu yang hidup.
Ia kembali menundukkan kepala.
Baginya, kota tua tetap kota tua.
--o--
Di dalam ruang penelitian, peta baru telah diletakkan di atas meja.