Veilbound: Beyond the Ashen Crown

Diva Amane
Chapter #32

Kapak yang Harus Dipelajari Lagi

Pagi datang tanpa benar-benar membawa kehangatan.

Kabut tipis menggantung rendah di antara pepohonan di belakang pondok, menahan sisa dingin malam di atas rerumputan yang masih basah. Cahaya matahari menembus sela daun dalam garis-garis pucat, jatuh di tanah yang keras dan membentuk bercak keemasan yang bergerak perlahan mengikuti angin. Dari kejauhan terdengar suara burung, tetapi di halaman belakang pondok, hanya ada bunyi napas yang berat dan gesekan sepatu di atas tanah.

Kael berdiri dengan kedua kaki terbuka selebar bahu.

Kapak panjang berada di tangannya.

Untuk beberapa saat ia hanya menatap bilahnya.

Logam yang ditempa Arelith itu masih memiliki bekas-bekas baru pada permukaannya. Dua bilah menghadap ke arah berlawanan di ujung gagang panjang, menciptakan siluet yang berbeda dari dua kapak pendek yang selama bertahun-tahun telah menjadi perpanjangan tubuhnya. Senjata itu tampak sederhana jika hanya dilihat sebagai benda.

Tetapi tubuh Kael tahu bahwa benda itu tidak sederhana.

Ia menarik napas.

Mengangkat kapak.

Mengayunkannya mendatar.

Berhenti.

Tidak ada rasa sakit tajam di sisi kiri perutnya. Luka yang ditinggalkan Vynn sudah menutup cukup baik setelah beberapa hari perawatan Isolde. Namun bekas tarikan di bawah perban masih mengingatkan bahwa tubuhnya belum kembali seperti sebelumnya. Otot perutnya belum sepenuhnya pulih. Lengan kirinya pun masih terasa berbeda, terutama ketika ia mencoba mengandalkannya untuk gerakan yang membutuhkan respons cepat.

Isolde sudah memberinya izin untuk bergerak.

Dengan syarat tidak memaksakan diri.

Kael menurunkan kapak.

Lalu mengulanginya.

Ayunan pendek.

Berhenti.

Tarik kembali.

Langkah kanan.

Putar pinggang.

Ayunan pendek.

Kali ini ujung bilah hampir menyentuh tanah.

Kael mengerutkan kening.

Ia memperbaiki posisi tangannya.

Dulu, kesalahan sekecil itu tidak berarti banyak.

Dulu, ketika dua kapak berada di kedua tangannya, gerakan yang salah masih dapat dikoreksi oleh tangan yang lain. Jika satu bilah terlambat, bilah kedua bisa mengambil ruang. Jika tubuh kehilangan keseimbangan, satu kapak dapat menjadi penahan. Jika lawan masuk dari sudut yang tidak terduga, tangan kiri dapat memotong jalur serangan sebelum tangan kanan menyelesaikan serangannya.

Sekarang hanya ada satu gagang panjang.

Dan satu tubuh yang harus membuat seluruh sistem itu bekerja.

Kael menarik napas lagi.

Kemudian ia bergerak.

Kaki kiri maju.

Bilah kanan turun.

Ia memutar gagang.

Bilah kiri naik.

Gerakannya hampir berhasil.

Hampir.

Begitu pusat berat berpindah, tubuhnya secara refleks melakukan sesuatu yang sudah tertanam bertahun-tahun.

Tangan kirinya bergerak ke luar.

Pinggulnya ikut berputar terlalu jauh.

Kaki belakangnya bergeser seperti hendak membuka ruang untuk kapak kedua.

Tetapi tidak ada kapak kedua.

Ujung gagang panjang menarik tubuh Kael mengikuti momentum yang seharusnya ditahan oleh senjata lain.

Ia kehilangan keseimbangan.

Kael menahan diri sebelum jatuh. Ujung kapak menghantam tanah dengan suara keras.

Tak!

Ia diam.

Menatap senjatanya.

Kemudian mengembuskan napas melalui hidung.

“Lagi.”

Ia mengangkatnya.

--o--

Dari sisi halaman, Kylia memperhatikan tanpa berkata apa-apa.

Ia duduk di bangku kayu yang diletakkan dekat pagar rendah. Bahu kanannya masih belum sepenuhnya pulih, sehingga ia tidak ikut berlatih. Sesekali tangan kirinya bergerak membetulkan kain yang menutupi lengan kanan. Tidak ada pedang di pinggangnya pagi itu.

Ia hanya mengamati.

Kael mengulang gerakan yang sama.

Sekali.

Dua kali.

Lima kali.

Sepuluh kali.

Pada pengulangan ketujuh belas, kaki kirinya kembali bergerak terlalu jauh.

Kylia melihatnya.

Pada pengulangan kedua puluh, Kael hampir kehilangan keseimbangan.

Pada pengulangan kedua puluh tiga, ia menghentikan gerakan sebelum tubuhnya kembali melakukan kesalahan yang sama.

Ia mulai memahami sesuatu.

Bukan bagaimana kapak itu bergerak.

Tetapi bagaimana tubuhnya selama ini telah mengingat cara bertarung yang lama.

“Jangan lawan gagangnya.”

Kael berhenti.

Ia menoleh.

Kylia masih duduk.

“Apa?”

“Kapaknya.”

Kael menatap senjata di tangannya.

“Gerakanmu terlalu besar. Kau mencoba menghentikan momentum setelah momentum itu sudah terbentuk.”

Kael tidak menjawab.

Kylia berdiri perlahan. Ia berjalan mendekat, tetapi berhenti beberapa langkah dari jangkauan bilah.

“Coba lagi.”

Kael mengangkat kapak.

Ia melakukan ayunan pendek seperti sebelumnya.

Kylia menggeleng.

“Kaki.”

Kael menurunkan kapak.

“Apa yang salah?”

“Kau memindahkan berat badan setelah mengayun.”

“Memangnya harus sebelum?”

“Bukan.”

Kylia mendekat sedikit.

“Bersamaan.”

Kael diam.

Kylia menunjuk tanah dengan ujung sepatu.

“Di sini. Kakimu harus sudah tahu ke mana tubuhmu pergi sebelum kapaknya bergerak.”

Kael menatap titik yang ditunjuknya.

“Kalau terlalu cepat?”

“Kau akan jatuh ke depan.”

“Kalau terlalu lambat?”

“Kau akan ditarik kapak.”

Kael mengangguk kecil.

Kylia mundur.

“Coba.”

Kael mengambil posisi.

Kali ini ia tidak langsung mengayunkan senjata.

Ia menurunkan bahu.

Melonggarkan genggaman.

Kaki kanan sedikit mundur.

Lutut ditekuk.

Pusat berat turun.

Kemudian ia bergerak.

Langkah.

Putar.

Ayunan.

Bilah bergerak dalam busur pendek.

Kael menarik gagang kembali sebelum momentum membawanya terlalu jauh.

Ia berhenti dengan kedua kaki masih menempel kuat di tanah.

Kylia tidak mengatakan apa-apa.

Kael menoleh.

“Benar?”

“Lebih baik.”

“Itu pujian?”

“Jangan terbiasa.”

Sudut mulut Kael bergerak sedikit.

Kemudian ia kembali ke posisi awal.

“Lagi.”

Kylia menyilangkan tangan.

Kali ini ia tidak perlu mengatakan apa pun.

--o--

Matahari naik perlahan.

Kabut telah menghilang dari halaman. Tanah mulai mengering, dan udara yang sebelumnya dingin berubah hangat di kulit. Bayangan pohon memendek sedikit demi sedikit.

Kael tetap berada di sana.

Gerakan yang sama.

Tidak ada serangan besar.

Tidak ada lompatan.

Tidak ada teknik yang terlihat mengesankan.

Hanya satu pola sederhana.

Langkah.

Pindah berat.

Putar gagang.

Ayun.

Tarik.

Berhenti.

Lihat selengkapnya