Veilbound: Beyond the Ashen Crown

Diva Amane
Chapter #33

Tidak Ada Lagi Kehidupan yang Benar-Benar Biasa

Pagi itu langit Solmaria berwarna kelabu pucat.

Tidak hujan, tetapi udara menyimpan kelembapan yang menempel pada kulit dan membuat jalan tanah di luar Telmora terasa lebih gelap dari biasanya. Kabut tipis bergerak rendah di antara bangunan, melewati pagar-pagar kayu, roda gerobak, dan atap rumah yang masih basah oleh embun. Dari kejauhan terdengar lonceng kecil dari pusat kota, disusul suara pedagang yang mulai membuka kios.

Kael berdiri di depan pondok sambil memeriksa tali pengikat pada tas kurir.

Tangannya berhenti sesaat.

Ia menoleh ke jalan.

Seorang lelaki membawa keranjang melewati pagar. Dua perempuan berjalan beriringan menuju pasar. Seorang anak berlari mengejar anjing yang terlepas dari tali.

Tidak ada yang aneh.

Tidak ada yang memperhatikannya.

Kael kembali menunduk.

Tali terikat kuat.

“Kalau kau terus melihat jalan seperti itu,” suara Kylia terdengar dari belakang, “kau akan terlambat bekerja.”

Kael menoleh.

Kylia berdiri di ambang pintu dengan satu tangan memegang cangkir. Bahu kanannya masih belum sepenuhnya pulih, tetapi gerakannya sudah jauh lebih bebas dibanding beberapa minggu sebelumnya.

“Aku hanya memastikan jalannya aman.”

“Jalan menuju tempat kerja.”

Kael mengangkat tas.

“Justru itu.”

Kylia menatapnya beberapa saat.

Ia tidak tertawa.

“Pulang sebelum gelap.”

Kael mengangguk.

Kemudian ia berjalan.

Beberapa langkah setelah meninggalkan pondok, ia kembali menoleh.

Kylia masih berdiri di depan pintu.

Ia mengangkat satu tangan kecil sebagai tanda pergi.

Kael membalas.

Lalu berbalik.

Pekerjaan menunggunya.

Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia kembali melakukan sesuatu yang dulu terasa begitu biasa.

Mengantarkan surat.

--o--

Jalur kurir pagi itu lebih ramai daripada perkiraannya.

Kereta pengangkut bahan pangan melintas di persimpangan. Dua pekerja dari bengkel kristal berjalan membawa peti kecil yang disegel lambang perdagangan Solmaria. Beberapa pedagang membuka pintu toko. Anak-anak sekolah berlarian di antara orang dewasa sebelum ditegur guru mereka.

Kael berjalan di tengah semua itu dengan tas di bahu.

Tidak ada pedang.

Tidak ada zirah.

Hanya pakaian kerja dan tanda pengenal kurir.

Ia berhenti di sebuah rumah batu kecil di dekat jalan utama.

Mengetuk.

Seorang pria tua membuka pintu.

“Oh. Kael.”

Kael menyerahkan surat.

“Dari kantor pajak.”

Pria itu langsung menghela napas.

“Kalau surat dari kantor pajak, seharusnya kurir boleh ikut membakarnya.”

Kael hampir tersenyum.

“Bukan bagian pekerjaan saya.”

“Sayang sekali.”

Pria itu mengambil surat tersebut dan memperhatikannya.

Kemudian ia menatap Kael.

“Kau terlihat lebih kurus.”

“Sedikit.”

“Bekerja terlalu keras?”

“Kurang makan.”

Pria itu terkekeh.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa beberapa hari sebelumnya Kael terbaring dengan luka tusuk di perut.

Tidak tahu bahwa seseorang dari masa lalu telah menemukan permukiman mereka.

Tidak tahu bahwa Vynn telah berdiri beberapa langkah dari rumah Arcante dengan pisau di tangannya.

Bagi pria itu, Kael hanyalah kurir yang datang mengantarkan surat.

Dan entah mengapa, hal sederhana itu membuat Kael diam sesaat.

“Terima kasih,” katanya.

“Untuk apa?”

“Tidak ada.”

Kael melanjutkan perjalanan.

Ia mengantarkan surat berikutnya kepada seorang perempuan yang bekerja sebagai penjahit. Kemudian dokumen kepada pedagang kristal. Lalu pesan singkat untuk seorang pegawai pengelola gudang.

Orang-orang menyambutnya dengan cara yang sama.

Sapaan.

Keluhan kecil.

Ucapan terima kasih.

Kadang percakapan pendek tentang cuaca atau harga barang.

Tidak seorang pun menanyakan masa lalunya.

Tidak seorang pun mengenali luka di tubuhnya sebagai tanda dari sesuatu yang lebih besar.

Mereka hanya mengenal Kael sebagai kurir.

Dan semakin lama ia berjalan, semakin ia menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah.

Bukan pada kota.

Pada dirinya.

Di persimpangan berikutnya, seorang pria berdiri terlalu lama di depan kios.

Kael melewatinya.

Tidak menoleh.

Namun ia mencatat posisi pria itu.

Di jalan sempit menuju gudang, dua orang asing berbicara dengan suara rendah. Salah satunya sempat melihat ke arah permukiman sebelum kembali berbicara.

Kael terus berjalan.

Ia tidak berhenti.

Tidak ada alasan untuk berhenti.

Tetapi matanya menyimpan semuanya.

Jendela lantai dua.

Atap rendah.

Gang sempit.

Pagar yang terlalu tinggi untuk sekadar halaman rumah.

Jalur belakang yang dapat membawa seseorang mendekati permukiman tanpa melewati jalan utama.

Dulu semua itu hanyalah bagian dari pemandangan.

Sekarang semuanya menjadi kemungkinan.

Ia membenci kenyataan itu.

Bukan karena dunia berubah.

Karena ternyata dunia tidak pernah sesederhana yang ia kira.

--o--

Menjelang sore, Kael meninggalkan jalur utama dan berjalan menuju permukiman Vrille.

Jalan menuju tempat itu melewati tanah yang lebih kasar. Rumah-rumah semakin sederhana. Beberapa bangunan baru berdiri di antara yang lama, dibangun dari kayu dan batu yang tidak seragam. Tali jemuran terbentang di antara dua rumah. Asap dapur naik dari beberapa cerobong kecil.

Permukiman itu berkembang.

Tidak cepat.

Tetapi nyata.

Kael melihat dua keluarga baru sedang memindahkan peti dari kereta. Beberapa warga membantu mengangkat barang tanpa diminta.

Seorang anak demon berlari melewatinya.

“Kael!”

Kael menoleh.

Anak itu langsung berlari lagi.

Kael menggeleng kecil.

Sesuatu di dalam dirinya mengendur.

Tempat ini masih sama.

Setidaknya, sejauh yang terlihat.

“Datang juga.”

Suara Vrille terdengar dari belakang.

Kael menoleh.

Vrille berdiri di dekat rumahnya, membawa sepotong kayu di satu tangan. Tubuh tuanya masih menyimpan kekuatan yang membuat benda berat terlihat ringan.

“Baru selesai kerja,” kata Kael.

“Kerja?”

Lihat selengkapnya